BerandaPOLITIKSpirit Tolak Tambang di...

Spirit Tolak Tambang di Turnamen Sanpio Cup

Tim Seminari Sinar Buana Sumba, sukses menjadi juara turnamen Sanpio Cup. (Foto: Bili Sandi)
Tim Seminari Sinar Buana Sumba, Runner Up Sanpio Cup II 2014. (Foto: BiliySandi)

Floresa.co – Ada yang unik saat turnamen Futsal Sanpio Cup di Jakarta memasuki hari terakhir, Minggu (28/9/2014) lalu. Turnamen ini yang digelar oleh alumni Sanpio Muda Jabobetabek, perkumpulan alumni Seminari Pius XII Kisol-Manggarai Timur di Jakarta, dimulai sejak Minggu, 7 September.

Jelang laga semifinal yang mempertemukan SMA St Klaus Kuwu vs Seminari San Dominngo Hokeng dan Seminari Labuan Bajo vs Seminari Sinar Buana Sumba, para pemain berfoto di tengah lapangan sambil memegang spanduk berukuran satu kali dua setengah meter.

Hal yang sama dilakukan jelang partai final, yang kemudian mempertemukan Seminari Hokeng vs Seminari Sumba.

“Tolak Tambang di NTT”, demikian bunyi slogan yang tertulis di spanduk itu.

Di bawah tulisan tersebut, tertera nama sejumlah organisasi. Selain Sanpio Muda, ada juga JPIC-OFM, Angkatan Muda Anti Korupsi (AMAK) NTT, Keluarga Katolik Manggarai (KKM) dan media partner Floresa.co.

Trisno Pala, Ketua Panitia turnamen mengatakan, kampanye tolak tambang sengaja digagas oleh Sanpio Muda dan organisasi-organisasi tersebut.

“Kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya orang-orang muda NTT yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi untuk menolak kehadiran tambang di NTT”, katanya.

Memang, di tengah kemeriahan turnamen Sanpio Cup, di Kabupaten Manggarai Timur sedang bergolak kasus tambang. Korbannya adalah masyarakat di Kampung Tumbak, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda.

Didasari keperihatinan inilah, Sanpio Muda mengangkat tema tolak tambang.

“Ini bentuk solidaritas. Dan kita juga ingin mengajak semua tim dan suporter yang ke lapangan menyadari soal tambang sebagai masalah serius”, katanya.

Ia menegaskan, tambang telah merusak alam di NTT, merusak tatanan kehidupan sosial masyarakat dan juga merusak relasi masyarakat dengan alam itu sendiri.

Emanuel Maman Tapu, salah satu anggota paguyuban Sanpio Muda mengatakan, alumni Seminari Kisol menjadikan kegiatan ini sebagai momen untuk memulai melakukan tindakan konkret untuk masyarakat korban tambang di NTT.

“Kita adalah pemimpin masa depan NTT, kita tidak boleh tinggal diam dengan kehadiran tambang di NTT yang telah memarjinalkan masyarakt NTT, maka mari kita memulai karena sampai saat ini kita belum berbuat apa-apa untuk korban-korban tambang khususnya dan kesejahteraan masyarakat NTT umumnya,“ tegas Emanuel.

Turnamen Sanpio Cup tahun ini berhasil dimenangkan oleh Seminari Hokeng. Mereka sukses membekuk Seminari Sumba di partai final.

Sementara tim favoroit diraih oleh Seminari Sumba dan pemain terbaik Vensi dari SMA St Klaus Kuwu. Pencetak gol terbanyak turnamen yang diikuti 20 tim ini adalah Chiko, striker dari Seminari Sinar Buana.

 

 

 

 

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga