Komunitas Ojol di Flores Gelar Aksi Solidaritas Kenang Affan Kurniawan

“Jangan sampai ada lagi nyawa melayang karena kekerasan yang seharusnya bisa dicegah”

Floresa.co – Komunitas ojek online di Kabupaten Sikka, NTT menggelar aksi bakar lilin sebagai bentuk solidaritas terhadap Affan Kurniawan yang tewas di Jakarta dalam unjuk rasa terkait kebijakan ugal-ugalan pemerintah dan DPR.

Aksi yang berlangsung di Tugu MOF, Jalan El Tari pada 30 Agustus malam itu berlangsung khidmat di bawah penerangan lilin. Puluhan pengemudi ojol Grab yang mengenakan atribut kerjanya berkumpul dan berdoa bersama di kaki tugu. 

Koordinator Komunitas Grab, Yohanis Ericktus, berkata, aksi itu bukan hanya ekspresi duka terhadap Affan, melainkan peringatan atas pentingnya perlindungan bagi pekerja informal. 

“Cukup Affan saja. Jangan sampai ada lagi nyawa melayang karena kekerasan yang seharusnya bisa dicegah,” katanya.

Ia juga menyerukan agar masyarakat menjaga situasi tetap damai, tidak terprovokasi oleh kejadian di daerah lain dan terus merawat solidaritas sebagai kekuatan bersama. 

“Kami ingin negeri ini tetap aman, karena damai adalah tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Aksi itu dikawal aparat kepolisian dan dihadiri Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi yang turut menyampaikan duka cita mendalam atas kematian Affan. 

Sumandi juga mengapresiasi kontribusi para pengemudi ojol dalam mendukung mobilitas dan kebutuhan warga, sembari mengajak semua pihak memperkuat kolaborasi untuk membangun daerah lewat semangat persaudaraan dan gotong royong. 

Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis berlapis baja milik Brimob dari Polda Metro Jaya di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat pada 28 Agustus malam. 

Saat itu ia sedang menunggu orderan di tengah situasi mencekam ketika aparat membubarkan demonstrasi di sekitar Gedung DPR RI. 

Kejadian itu terekam dalam video yang menyebar luas secara cepat dan memicu kemarahan publik.

Tagar #JusticeForAffan viral di media sosial dan gelombang protes bermunculan di berbagai kota. 

Di Solo, Tasikmalaya dan Malang, aksi massa berubah ricuh. Sementara di Jember, Jombang, Yogyakarta hingga Maumere, komunitas ojol dan masyarakat sipil menggelar aksi solidaritas—dari longmarch, doa bersama, hingga konvoi sunyi. 

Kemarahan yang Menyebar ke Daerah

Yudistira Niron, mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) menilai kematian Affan menjadi pemantik solidaritas nasional yang langka. 

Ia berkata kemarahan tak lagi terpusat di Jakarta “tetapi menyebar ke daerah-daerah yang selama ini diam.”  

“Suara perlawanannya sama, bahwa nyawa rakyat kecil tak boleh lagi jadi korban”, katanya. 

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketika satu nyawa seorang pekerja yang bahkan tidak terlibat langsung dalam demonstrasi hilang karena kekerasan negara, maka kemanusiaan kita semua sedang diuji,” kata Randy Laja, mahasiswa IFTK Ledalero lainnya.  

“Affan mungkin bukan siapa-siapa dalam struktur sosial formal” tetapi “justru karena itu, kematiannya menggugah.”

Randy berkata, respons publik luas melalui doa bersama, aksi bakar lilin, hingga demonstrasi adalah bentuk spontan dari solidaritas manusia. 

“Kita marah bukan karena kita kenal Affan secara pribadi, tapi karena kita merasa itu bisa saja terjadi pada kita. Ada rasa kebersamaan yang muncul karena penderitaan yang bersifat universal,” tambahnya.

“Penderitaan bisa melahirkan kesadaran,” katanya, “dan ketika masyarakat bergerak, mereka sedang menolak untuk menjadi penonton dari kekerasan yang dianggap biasa.” 

Sementara Mira Hurint, mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual IFTK Ledalero melihat respons publik pasca kematian Affan menunjukkan betapa kuatnya peran visual dalam membangun solidaritas.

“Yang bikin saya tersentuh itu bukan cuma ceritanya, tapi visual yang menyertainya. Foto-foto pengemudi ojol berdiri diam sambil bawa lilin itu lebih kuat dari ribuan kata. Tidak pakai desain rumit, tapi langsung terasa,” katanya.

Peringatan Untuk Kekuasaan

Bagi Eris Wutun, anggota Himpunan Mahasiswa Lamaholot di Maumere, kematian Affan Kurniawan harus dibaca sebagai alarm keras atas situasi negara yang semakin represif terhadap rakyatnya sendiri. 

Ia menyebut aksi bakar lilin yang dilakukan Komunitas Grab Maumere bukan sekadar ungkapan belasungkawa, tetapi sebuah bentuk perlawanan simbolik dari masyarakat akar rumput.

“Kalau rakyat kecil seperti Affan bisa mati hanya karena sedang berada di tempat yang salah saat aparat membubarkan massa, maka itu bukan kecelakaan, itu kegagalan negara melindungi warganya,” kata Eris.

“Dan ketika kawan-kawan ojol di Maumere menyalakan lilin malam itu, kami semua tahu, itu bukan sekadar doa. Itu juga pesan, cukup sudah kekerasan,” lanjutnya

Eris berharap solidaritas seperti di Maumere tidak berhenti dalam aksi bakar lilin dan linimasa media sosial saja. 

“Kita semua sebagai mahasiswa dan rakyat biasa harus terus mengawal. Jangan sampai kita cuma menonton lalu lupa. Affan bisa siapa saja dari kita,” katanya.

Pius Kraeng, anggota Bohemian Club, kelompok literasi yang berbasis di Maumere berkata aksi bakar lilin pengemudi ojol merupakan momen peringatan bahwa “ketika luka dibuka terlalu dalam” kemarahan rakyat “menjadi kekuatan yang tak bisa dianggap remeh.”

“Aksi itu mungkin sunyi, tapi di balik sunyi itu ada kemarahan yang sedang ditata. Rakyat tidak selalu harus teriak untuk menunjukkan bahwa mereka muak,” kata Pius.

Menurutnya, kematian Affan menyentuh kesadaran kolektif, terutama karena ia bukan tokoh besar, melainkan orang biasa yang menjadi korban dari kekerasan struktural.

“Kita di daerah ini mungkin jauh dari pusat kekuasaan, tapi nurani kita tidak pernah jauh dari rasa keadilan. Ketika seorang pengemudi ojol meninggal karena negara gagal melindunginya, kita semua ikut kehilangan,” katanya.

Ia juga mengingatkan, jika negara terus abai pada aspirasi rakyat, aksi-aksi damai seperti bakar lilin bisa berubah jadi gelombang yang lebih besar.

“Lilin bisa padam, tapi ingatan rakyat tidak. Jangan anggap kecil kemarahan yang tidak bersuara,” katanya.

Selain di Jakarta, aksi protes terkait kebijakan ugal-ugalan pemerintah dan DPR hingga kini berlangsung di beberapa daerah.

Pada 29 Agustus, mahasiswa dari Koalisi Cipayung yang terdiri dari sejumlah organisasi menggelar aksi di depan Markas Komando Brimob Kupang, ibukota Provinsi NTT.

Sementara beberapa elemen masyarakat lainnya juga berencana melakukan aksi serupa, termasuk di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat pada 2-5 September.

Editor: Anno Susabun

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA