Berita yang Lenyap karena “Keputusan Pimpinan” dan Jejak Unika St. Paulus Ruteng dalam Polemik Proyek Geotermal 

Berita itu memuat pernyataan salah satu wakil rektor yang mengklaim kampusnya satu suara dengan Uskup Ruteng menolak proyek geotermal di Flores

Floresa.co – Berita yang memuat pernyataan tentang sikap penolakan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus (Unika St. Paulus) Ruteng terhadap proyek geotermal di Flores lenyap dari situs resmi kampus itu, yang menurut penulisnya atas “keputusan pimpinan.”

Berita itu berujudul “Wakil Rektor 3 Unika St. Paulus Ruteng Menyuarakan Penolakan Terhadap Geotermal” dan dipublikasi di situs Unikastpaulus.ac.id pada hari yang sama dengan penyelenggaraan diskusi tentang polemik geotermal di kampus itu.

Bertajuk “Ada Apa dengan Geotermal: Peluang dan Tantangan Energi Panas Bumi di Flores, NTT,” diskusi tersebut diinisiasi Forum Pemuda Peduli Demokrasi (FP2D).

Isi berita itu memuat kutipan sambutan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Romo Fransiskus Sawan yang menegaskan bahwa Unika St.Paulus satu sikap dengan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat menolak proyek geotermal di Flores.

Rujukan Romo Fransi disinyalir terkait pernyataan yang diteken enam uskup di Provinsi Gerejawi Ende pada Maret, termasuk Siprianus.

Berita itu sempat ramai dibagikan di sejumlah grup WhatsApp dan Facebook pada 21 Agustus. Namun, saat diakses Floresa pada 22 Agustus, tak ada lagi jejaknya. Saat tautannya diklik, muncul pesan: “halaman itu tampak tidak ada.”

Di situs tersebut, hanya ada berita baru soal hasil diskusi yang dipublikasi pada 22 Agustus. Berjudul “Unika Ruteng Membangun Jembatan Dialog dalam Perbedaan,” berita terbaru ini tetap mengutip sambutan Romo Frans, tapi tak lagi memasukkan bagian soal sikap kampus menolak proyek geotermal.

Selvianus Hadun, dosen sekaligus penulis berita itu berkata, kampus menghapusnya karena “keputusan pimpinan.” Namun, ia tak merespons pertanyaan soal pimpinan dimaksud.

Floresa telah menghubungi Rektor Unika St. Paulus Ruteng, Romo Agustinus Manfred Habur. Ia belum merespons hingga laporan ini dipublikasi, kendati pesan WhatsApp sudah bercentang dua, tanda telah sampai kepadanya.

Sementara itu Wakil Rektor I, Marselus Ruben Payong berkata kepada Floresa, ia tidak mengetahui alasan penghapusan berita itu. Ia juga mengaku tidak mengikuti diskusi pada 21 Agustus karena bersamaan dengan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru.

Sementara Romo Frans menolak berkomentar. Beralasan sedang berada di tempat magang mahasiswa, ia menyarankan untuk bertanya kepada peliput berita itu, merujuk pada Selvianus Hadun.

Apa Isi Pernyataan Warek Unika

Floresa ikut dalam diskusi tersebut dan ikut merekam sambutan utuh Romo Frans.

Berbicara pada awal diskusi, pernyataannya didengar oleh Gubernur NTT, Bupati Manggarai, Kapolres Manggarai, perwakilan PT PLN, ahli geotermal serta perwakilan organisasi mahasiswa.

Frans mengawali sambutannya dengan menyebut Flores adalah tanah yang diberkati, salah satunya karena memiliki energi panas bumi yang melimpah. 

Ia menyinggung bahwa dalam konteks global, energi terbarukan seperti geotermal dipandang sebagai bagian dari solusi atas krisis energi fosil, perubahan iklim dan tuntutan pembangunan berkelanjutan. 

“Di tingkat nasional, proyek geotermal di Flores bahkan disebut strategis untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia,” katanya.

Namun ia menambahkan “kita juga sadar bahwa isu geotermal tidak sederhana.”

“Ada pihak yang melihatnya sebagai peluang membuka lapangan kerja, meningkatkan akses energi dan berkontribusi pada tanggung jawab ekologis global.” 

Namun, “ada juga suara kritis dari masyarakat adat, aktivis lingkungan dan warga lokal yang khawatir akan dampak negatif seperti kerusakan ekologis, marginalisasi masyarakat dan ancaman terhadap budaya lokal.”

Dalam konteks itulah, katanya, Unika St. Paulus yang menjadi tuan rumah diskusi itu terpanggil untuk menghadirkan ruang dialog. 

“Sebagai komunitas akademik yang transformatif, kolaboratif dan berkarakter—visi kampus ini—kami percaya bahwa perbedaan pandangan bukanlah kontradiksi yang harus melahirkan menang-kalah, melainkan dinamika kreatif untuk mencari solusi bersama,” katanya.

“Meskipun demikian, penting untuk kami tegaskan, Unika St. Paulus adalah bagian dari karya pastoral Keuskupan Ruteng,” tambahnya.

Karena itu, “arah dasar kami sejalan dengan sikap Bapak Uskup yang sudah secara jelas dan tegas menyatakan penolakan terhadap proyek geotermal di Flores.”

Ia lalu memberi catatan bahwa dialog itu tidak bermaksud “mempertentangkan sikap gereja, melainkan untuk memperdalam pemahaman bersama mengapa suara gereja hadir demikian dan bagaimana kita dapat mencari model pembangunan yang tetap menghormati martabat manusia, melestarikan lingkungan serta menjaga kearifan lokal.”

Sebagaimana diingatkan oleh Romano Guardini, katanya merujuk teolog Katolik berkebangsaan Italia, ”realitas manusia ditandai dengan ketegangan yang justru dapat menjadi dinamika kreatif menuju keutuhan.”

Romo Frans juga mengutip penegasan Paus Fransiskus dalam Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium dan Ensiklik Laudato Si “bahwa perbedaan dan bahkan konflik sosial harus dikelola dalam semangat dialog terbuka, jujur dan berpihak pada kebaikan bersama.”

“Karena itu, forum ini kita maknai sebagai momentum untuk mencari pemahaman lebih dalam dan jalan alternatif pembangunan Flores yang adil, lestari dan berpihak pada kehidupan.”

Jejak Unika St. Paulus dalam Polemik Geotermal

Menurut catatan Floresa, pernyataan Romo Frans itu merupakan sikap publik pertama Unika St. Paulus terhadap proyek geotermal, yang salah satunya berada di Poco Leok, Kabupaten Manggarai, pengembangan dari PLTP Ulumbu.

Kampus itu bernaung di bawah Yayasan Santu Paulus, milik Keuskupan Ruteng. Rektor saat ini adalah mantan sekretaris jenderal keuskupan.

Sebelum meneken pernyataan bersama para uskup lain pada Maret, Uskup Ruteng tidak menunjukkan sikap tegas pada polemik geotermal.

Ia juga belum pernah menyampaikan sikapnya sendiri, berbeda halnya dengan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden yang bicara blak-blakan pada Januari dan Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus yang menyatakan sikapnya lewat Surat Gembala Paskah tahun ini.

Uskup Siprianus sempat memicu kontroversi ypada 2020 saat ia menyurati presiden menyatakan dukungan melanjutkan proyek geotermal di Wae Sano, Manggarai Barat kendati berseberangan dengan aspirasi umatnya.

Sikap diam keuskupan itu, yang juga berdampak pada lembaga lain yang terkait dengannya, termasuk kampus, telah menjadi salah satu sasaran kritik warga Poco Leok.

Saat wisuda pada 23 November 2024 itu, Karlo Gampur, salah satu wisudawan yang berasal dari Poco Leok, memanfaatkannya untuk kampanye menentang proyek geotermal di Pulau Flores dan mengkritik alma maternya.

Sesaat setelah menerima piagam kelulusan ia mengambil sebuah spanduk dari balik pakaiannya bertuliskan Bersama Rakyat Flores Tolak!!! Industri Geotermal. Ia mengangkat dan memperlihatkannya kepada seisi ruangan.

Ia berkata kala itu, aksinya hendak “mendorong keterlibatan kampus melawan proyek yang mengancam ruang hidup warga di Flores.” 

“Kampus tidak pernah bersuara dan memberi perhatian pada perjuangan warga,” kata Karlo yang mengalami represi bersama beberapa warga lainnya saat aksi protes geotermal pada 2 Oktober 2024.

Ia berharap aksinya menjadi dorongan baik bagi mahasiswa maupun dosen dan pimpinan kampus untuk “menjadi garda terdepan yang peduli pada situasi warga.”

“Kalau kampus diam, maka jangan berharap mahasiswanya mempunyai perhatian terhadap persoalan warga yang rentan,” katanya.

Karlo Gampur, peserta wisuda di Unika St. Paulus Ruteng pada 23 November 2024 membawa spanduk berisi pernyataan tolak geotermal. (Dokumentasi Floresa)

Pada 2022, Unika St. Paulus Ruteng sempat jadi sorotan usai diklaim mendukung proyek geotermal Poco Leok. Hal itu terkait dengan penulisan nama kampus tersebut dalam dokumen sosialisasi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), korporasi plat merah yang mengerjakan proyek itu.

Berjudul “Pendekatan Adat yang Konsultatif,” PT PLN menulis dalam dokumen yang disebarkan kepada warga telah melakukan “pendekatan dan konsultasi kepada tokoh dan pemangku kepentingan.”

Selain menyebut sejumlah lembaga gereja, PT PLN juga mencantumkan “Rektor Unika St. Paulus Ruteng.”

Nama kampus itu kembali ditulis PT PLN dalam sebuah brosur yang dibagikan kepada warga pada Juni 2024.

PLN mengklaim bahwa Lembaga Afiliasi Peneliti dan Industri di Institut Teknologi Bandung dan Unika St Paulus Ruteng menghasilkan kajian pada 2022 yang salah satunya menyebut “panas bumi Ulumbu tidak menyebabkan seng berkarat,” hal yang bertentangan dengan pengakuan warga.

Pada bagian lain brosur itu disebutkan “tidak ada kaitan dampak PLTP Ulumbu terhadap penurunan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.”

Dokumen yang disebarkan pemerintah dan PT PLN dalam sosialisasi pada 12 Juni 2024. (Mikael Jonaldi/Floresa)

Maksimus Regus, Rektor Unika St. Paulus kala itu–yang kini menjadi Uskup Labuan Bajo–berkata kepada Floresa ia tidak mengetahui riset kampusnya terkait proyek geotermal Poco Leok dan tidak mengenal dosen yang terlibat.

Nama dosen tersebut kemudian terungkap, yakni Fany Juliarti Panjaitan. Usai namanya ramai dibicarakan, ia mengklaim “tidak pernah mengatasnamakan” Unika St. Paulus.

Kendati demikian, usai kontroversi itu, tidak ada pernyataan resmi dari otoritas kampus yang memprotes pencatutan nama lembaga itu oleh PT PLN.

Arivin Dangkar dan Apri Bagung berkolaborasi mengerjakan liputan ini

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img