PT PLN Jadikan Kajian Unika St. Paulus Ruteng Tameng Dukung Perluasan Geotermal Ulumbu, Rektor Klaim ‘Tidak Tahu’ Dosen Periset

Dosen yang melakukan kajian tetap terdata mengajar di Unika, namun rektor kampus meminta Floresa melacaknya

Floresa.coPT Perusahaan Listrik Negara [PLN] yang kini sedang mengerjakan perluasan proyek geotermal menjadikan kajian kampus milik Gereja Katolik, Universitas Katolik Indonesia [Unika] St. Paulus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur sebagai tameng untuk mendukung implementasi proyek tersebut.

Hal tersebut terungkap dalam brosur yang dibagikan PT PLN Unit Induk Pembangunan Nusra kepada puluhan warga yang menjadi peserta “Sosialisasi Persiapan Pengadaan Tanah Pembangunan PLTP Ulumbu Unit 5-6 Poco Leok” di Aula Paroki St. Arnoldus Janssen Ponggeok, Kecamatan Satar Mese pada 12 Juni dan 14 Juni.

Dalam brosur tersebut, PLN menyatakan Lembaga Afiliasi Peneliti dan Industri di Institut Teknologi Bandung [ITB] dan Unika St Paulus Ruteng pada 2022 menghasilkan kajian yang salah satunya menyebut “panas bumi Ulumbu tidak menyebabkan seng berkarat.”

Hasil kajian itu menunjukkan kadar keasamaan atau potential of hidrogen [pH] terukur kurang lebih 7, “jauh sekali dari indikasi hujan asam.”

Pada bagian lain brosur itu disebutkan “tidak ada kaitan dampak PLTP Ulumbu terhadap penurunan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.”

Berdasarkan kajian ITB dan Unika St Paulus, demikian keterangan brosur itu, pH pada sampel tanah perkebunan masyarakat berada pada pH optimum [baik untuk pertumbuhan tanaman], tetapi pada tanah sawah di Kawah Ulumbu, pH bersifat sangat asam.

Disebutkan juga bahwa “kadar sulfur tertinggi terdapat pada tanah sawah dan tanah kebun yang berdekatan dengan kawah.”

Klaim PLN itu dikritik warga dalam sosialisasi pada 12 Juni yang dihadiri warga Desa Wewo, yang tinggal di dekat PLTP Ulumbu.

Mereka mengatakan klaim-klaim dalam brosur itu berseberangan dengan kenyataan di lapangan.

“Kenyataannya terjadi pengaratan seng di rumah warga termasuk di sekolah kami,” kata Sirilus Wangkar, seorang guru di Desa Wewo.

Ia berkata dua pernyataan dalam hasil kajian itu sangat kontradiktif, sebab “fakta seng cepat berkarat akibat dari proyek geotermal memang benar.”

Ia mengingat dua tahun lalu PLN memberikan bantuan kepada 40 kepala keluarga yang seng rumahnya berkarat.

Hendrikus Ampak, warga lainnya mengatakan sebelum PLTP Ulumbu beroperasi, tingkat korosi seng di sekitar kawasan itu masih dalam taraf normal. 

Seharusnya, kata dia, ketika dieksploitasi asap yang dibuang ke udara disaring kembali. 

Ia mengutip pernyataan seorang konsultan dari Selandia Baru yang pernah ke kampungnya bahwa “memang benar, geotermal berpengaruh terhadap seng.”

“Yang dipersoalkan dari masyarakat di sekitar kawasan adalah ketika gas dibuang ke udara dan embunnya jatuh, seluruh seng di desa kami mengalami korosi,” katanya.

Sementara itu, Basuki yang dihadirkan PLN dan mengklaim sejak 1988 sudah berkecimpung di bidang geotermal hanya mengatakan “korosi terjadi karena faktor alamiah.” 

Merespons ahli geotermal itu, TS, warga lainnya berkata, “korosi pada seng bukan terjadi karena faktor alamiah tetapi memang merupakan dampak aktivitas PLTP Ulumbu.”

Sebelum PLTP Ulumbu beroperasi, kata dia, minimal seng akan bertahan selama lima tahun. 

Namun, katanya, pasca PLTP itu beroperasi, seng hanya bertahan selama tiga tahun dan “kami harus menggantinya karena cepat karat.” 

TS juga menyoroti menurunnya produktivitas pertanian pasca PLTP Ulumbu beroperasi.

Ia mengaku sebelum PLTP itu beroperasi, hasil panenan kopinya mencapai 300-400 kilogram dalam sekali panen. 

Namun, kata dia, pascaoperasi PLTP Ulumbu, tanaman kopi miliknya mulai mati dan “hasil panennya tidak mencapai ratusan kilogram.”

“Produktivitas menurun karena pohon dadap yang melindungi kopi juga ikut mati,” katanya,

Rektor Unika: “Saya Tidak Tahu”

Rektor Unika St. Paulus Ruteng, Romo Maksimus Regus berkata, pihaknya tidak mengetahui adanya riset kampusnya terkait geotermal Ulumbu, sebagaimana yang diklaim PLN dan dimuat dalam laporan Floresa pada 13 Juni.

Ia menanyakan kepada Floresa perihal narasumber berita tersebut.

“Mungkin ada narsumnya, apakah Unika memang pernah ada riset bersama ITB ini tahun 2022,” katanya.

Ia juga meminta Floresa melacak peneliti tersebut, “biar bisa wawancara langsung orang-orangnya.”

“Saya juga tidak tahu siapa saja mereka itu,” katanya.

Rektor Unika St. Paulus Ruteng, Romo Maksimus Regus. (Unikastpaulus.ac.id)

Sementara itu, meski mengaku “kurang tahu” terkait kajian tersebut dan penelitinya, Romo Inosensius Sutam, dosen lainnya di kampus tersebut menyebut “nama belakangnya Panjaitan.”

“[Riset] itu atas nama pribadi, dosennya sudah pindah,” katanya pada 13 Juni.

Pastor yang berasal dari Kampung Adat Tere, Poco Leok itu mengatakan dirinya pernah membicarakan hal tersebut dalam sebuah rapat senat dosen, di mana ia meminta “sebaiknya kajian itu tidak atas nama lembaga.”

Ia juga berkata “tidak punya file” kajian tersebut, dan bahwa pernyataannya kepada Floresa disampaikan “secara pribadi” atau bukan atas nama dosen Unika St. Paulus.

Floresa menelusuri jejak digital dosen bernama Panjaitan yang terkait dengan kampus itu, menemukan Fany Juliarti Panjaitan, yang secara eksplisit menyebut “Dosen Unika Santu Paulus Ruteng” pada profilnya di Google Cendekia.

Pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, nama Fany juga hingga kini tercatat sebagai dosen Program Studi Agronomi Unika St. Paulus Ruteng. Ia lulusan S2 dari Institut Pertanian Bogor.

Data Fany Juliarti Panjaitan pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di mana ia masih tercatat sebagai dosen aktif. (Tangkapan layar dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Fany juga tercatat melakukan beberapa riset di wilayah Manggarai, di antaranya di Kelompok Tani “Bantang Cama” Desa Waso, Kelompok Wanita Tani “Neka Begas”, Kelompok Wanita Tani Desa Wae Ri’i, dan riset di Desa Komba, Manggarai Timur.

Riset-riset tersebut dilakukan bersama beberapa peneliti yang juga dosen Program Studi Agronomi di Unika St. Paulus, antara lain Devi Liana, Rizki Adiputra Taopan, Tri Astuti, Dumaris Priskila Purba, Elfrida Knaofmone, Muhammad Noor Ariefin, Defiyanto Djami Adi, Jessyca Putri Choirunnisa, Marlinda Mulu, Silfanus Jelatu, dan Dewi Rofita.

Floresa menghubungi Fany pada 14 Juni. Namun, ia tidak mengangkat panggilan telepon. Pesan yang dikirim via Whatsapp dan akun Instagramnya juga tidak dibalas.

Tahap Baru

Proyek geotermal perluasan PLTP Ulumbu Unit 5-6, yang kini memasuki tahap kedua pengadaan tanah di tiga titik pengeboran baru, masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN 2021-2030 menargetkan energi listrik 2×20 Megawatt, meningkat dari 10 Megawatt yang dihasilkan saat ini.

Proyek tersebut, bagian dari proyek strategis nasional, pertama kali disosialisasikan pada 2017 di Kampung Adat Mesir, Poco Leok, pasca penetapan Flores sebagai Pulau Geothermal melalui SK Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. 

Warga dari belasan kampung adat di Poco Leok hingga kini melakukan perlawanan terhadap proyek tersebut melalui berbagai cara, mulai dari pengadangan di lokasi pengeboran hingga menulis surat kepada Bank Kreditanstalt für Wiederaufbau [KfW] asal Jerman yang menjadi pendana proyek.

Selain Poco Leok, Desa Wewo, lokasi PLTP Ulumbu yang beroperasi sejak 2011 dan kini direncanakan menjadi lokasi dua titik pengeboran baru juga melakukan protes terkait janji-janji PT PLN yang hingga kini tak kunjung direalisasikan.

Pada November 2022, beberapa pimpinan lembaga gereja, termasuk Unika St. Paulus Ruteng mempersoalkan tindakan PLN yang mencatut nama lembaga-lembaga itu, diduga untuk meloloskan proyek geoteermal di Poco Leok, Kabupaten Manggarai, NTT.

Editor: Ryan Dagur

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini. Gabung juga di grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini.

TERKINI

BANYAK DIBACA

BACA JUGA