Berada di Garis Depan Melawan Proyek Geotermal, Perempuan Poco Leok Meretas Kultur Patriarki

Para perempuan tak gentar berhadap-hadapan dengan aparat keamanan pengawal perusahaan dan pemerintah demi mempertahankan tanah

Floresa.co – Paduan suara para perempuan Poco Leok menggema di Golo Mompong pada 10 November.

Di bawah pimpinan Maria Teme, 63 tahun, mereka berteriak lantang yang diulang-ulang sembari mengepalkan tangan: “Tolak geotermal Poco Leok! Tolak! Tolak! Tolak!”

Hari itu, sekitar 20 perempuan bergabung dalam 50 warga dan beberapa perwakilan lembaga jaringan advokasi mendatangi bukit itu yang berada di sebelah selatan gugusan 14 kampung adat Poco Leok untuk menggelar ritual adat.

Golo Mompong diyakini sebagai bangka atau kampung lama para leluhur. Salah satunya ditandai dengan dua makam yang masih tertata rapi.

Mendaki menuju puncak selama sekitar dua jam dengan medan yang licin, para perempuan membawa perlengkapan untuk Teing Hang atau ritual dalam adat Manggarai untuk memberi sesajen kepada leluhur.

Teriakan para perempuan menjadi pengujung rangkaian ritual yang dipimpin Petrus Jehaput, salah satu tua adat asal Kampung Mocok.

Selain mempersembahkan telur ayam di titik yang menjadi gerbang bangka, mereka menyembelih ayam jantan dalam ritual puncak.

Sebagaimana disaksikan Floresa, dalam ujud, Petrus berulang kali menyinggung nama pelaksana proyek PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero agar hengkang dari Poco Leok.

Nama Bupati Manggarai Herybertus GL Nabit yang memberi izin lokasi proyek itu juga beberapa kali terdengar. 

Petrus memohon kepada leluhur agar menemani perjuangan mereka menggugat bupati ke Pengadilan Tata Usaha Negara di Kupang karena aksinya menghalau mereka dalam unjuk rasa pada 5 Juni di Ruteng.

Salah satu ritual pemberian siri pinang saat memasuki lokasi yang diyakini sebagai gerbang kampung di Golo Mompong pada 10 November 2025. (Dokumentasi Floresa)

Acara yang berlangsung hingga pukul 12.00 Wita itu kemudian berlanjut pada malam hari di Gendang Mucu, kampung tua yang berjarak paling dekat dari puncak Golo Mompong. 

Di sana mereka melanjutkan ritual dan ujud serupa, dengan lebih banyak warga yang terlibat dari beberapa kampung.

Mengapa Melawan?

Partisipasi aktif para perempuan dalam ritual itu hanyalah salah satu dari rangkaian keterlibatan mereka dalam gerakan perlawanan terhadap proyek yang mulai diwacanakan sejak 2017.

Mereka telah ikut dalam 29 aksi protes di lahan, yang mereka sebut “aksi jaga kampung,” dan tiga kali unjuk rasa di Ruteng.

Mama Meri, sapaan Maria Teme, berkata, sejak awal ia memilih bergabung dalam gerakan menolak proyek itu.

“Alasannya sederhana, saya tidak mau tanah kami dirusak,” kata mama asal Kampung Lungar tersebut.

Ia mengaku tak bisa begitu saja menerima klaim bahwa geotermal adalah bagian dari energi terbarukan yang ramah lingkungan, sebagaimana narasi dari pemerintah dan perusahaan, yang juga didukung oleh para akademisi.

Ketika urusannya akan berdampak pada tanah, kata dia, sebagai perempuan ia tidak mudah menerimanya.

Proyek itu merupakan perluasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu Unit 5 dan 6, sekitar tiga kilometer arah barat Poco Leok.

Wacana pengerjaannya mencuat bersamaan dengan informasi soal rencana pengembangan PLTP di 16 titik di Flores pasca penetapannya sebagai Pulau Panas Bumi pada 2017.

Bank Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) asal Jerman menjadi pendana proyek itu yang menargetkan energi listrik 2×20 Megawatt, naik dari 7,5 Megawatt di PLTP Ulumbu saat ini.

Setidaknya terdapat 60 titik di Poco Leok yang telah disurvei, menyebar di tiga desa – Lungar, Mocok dan Golo Muntas.

Situasi kampung-kampung dalam tiga desa itu mulai tegang pasca terbitnya Surat Keputusan Bupati Manggarai Nomor HK/417/2022 pada 1 Desember 2022 berisi penetapan lokasi proyek. Bersamaan dengan itu PT PLN mulai rutin mendatangi Poco Leok. 

Pada 8 Februari 2023, menurut catatan dokumentasi warga, merupakan kali pertama mereka melakukan aksi penolakan.

Salah satu protes mereka yang ramai dibicarakan terjadi tiga pekan kemudian ketika 27 Februari 2023 Bupati Nabit ke Poco Leok. 

Ia disambut ratusan warga di Kampung Lungar yang membentangkan beberapa spanduk berisikan protes. Nabit marah-marah, menegaskan dirinya sebagai bupati yang mestinya dihormati.

Dalam aksi pada 27 Februari 2023 ini para perempuan Poco Leok mendatangi aula di Gereja Stasi Lungar, tempat Bupati Manggarai Herybertus GL Nabit menggelar pertemuan. (Dokumentasi Floresa)

Mama Meri berkata, demi menjaga tanah, ia tidak takut kendati harus berhadap-hadapan dengan aparat polisi dan tentara yang mengawal pihak pemerintah dan perusahaan.

“Kami sengaja melakukan hal itu karena kalau laki-laki yang maju, biasanya berujung bentrok,” katanya.

Ia berkata, setiap kali ke Poco Leok, aparat keamanan membawa senjata, membuat situasi “seolah siap perang.”

“Padahal tugas mereka seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat.”

Adelia Daur yang juga bergabung dalam ritual di Golo Mompong berkata, ia ikut dalam gerakan perlawanan karena hidupnya bergantung pada tanah.

Berasal dari Kampung Mucu, ibu berusia 43 tahun itu memiliki tiga anak. Suaminya meninggal pada 2021.

“Saya membesarkan anak-anak dari hasil kebun,” katanya.

Di kebun itu, Adelia menanam kopi, kemiri, cokelat, ubi, jagung dan berbagai tanaman lain demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Bagi Vinsensia Arselina Kurnia, 30 tahun, keterlibatannya muncul dari kesadaran setelah bergabung dalam ruang-ruang diskusi perempuan di kampung.

Dari diskusi itu, ia memaknai “tanah bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga bagian dari tubuh dan jiwa.”

“Saya menolak geotermal karena tanah adalah ibu dan saudari kami. Kami tidak mau ibu atau saudari kami dirusak,” kata Yeye, sapaannya.

Maria Suryanti Jun menambahkan “kami mempertahankan hak hidup kami di wilayah Poco Leok.”

“Kami juga mempertahankan tanah leluhur kami yaitu tanah adat yang tidak bisa dihilangkan oleh siapapun, termasuk pemerintah dan perusahaan,” katanya.

Dalam keyakinan warga Poco Leok, katanya, ada prinsip soal gendang one, lingko peang. Artinya “ada satu kesatuan antara hidup kami dengan alam tempat kami mempertahankan hidup.”

“Kalau kami menyerahkan tanah kepada perusahaan, maka bukan hanya lingkungan yang rusak, tetapi juga adat istiadat kami,” kata ibu 45 tahun tersebut yang disapa Mama Mia.

Karena itu, “kami tidak mau adat kami yang diwariskan leluhur diganggu oleh siapapun. Kami hanya mempertahankan itu.” 

Maria Suryanti Jun (kanan) sedang berdiskusi dengan para perempuan lain tentang proyek geotermal. (Dokumentasi Floresa)

Meretas Kultur Patriarki

Poco Leok merupakan bagian dari wilayah Manggarai di Flores barat, dengan kultur patriarkinya yang kuat.

Kultur itu berdampak pada terbatasnya ruang bagi perempuan untuk terlibat dan tampil dalam acara publik.

Dalam acara adat misalnya, perempuan umumnya berada di dapur, memasak dan mengurus berbagai perlengkapan. Kalaupun mereka ada di ruang tamu, nyaris tak ada kesempatan untuk berbicara.

Namun, di Poco Leok, kehadiran proyek geotermal membuat situasinya berubah.

Sebagaimana disaksikan Floresa dalam beberapa kesempatan, mereka aktif bersuara dalam forum-forum diskusi, bahkan berani mengkritisi argumen kaum laki-laki.

Para perempuan Poco Leok terlibat dalam salah satu diskusi membahas proyek geotermal di kampung mereka. (Dokumentasi Floresa)

Servasius Masyudi Onggal, pemuda adat Gendang Lungar, melihat fenomena ini “seperti sebuah loncatan yang tidak logis—bukan dalam arti negatif, tapi karena prosesnya terjadi begitu cepat.” 

Polemik geotermal yang berdampak bagi hidup mereka, katanya, membuat kaum perempuan seperti mendapat “bahan bakar” untuk bergerak, meretas kultur patriarki.

Ia berkata, dalam forum-forum diskusi, perempuan tak lagi pasif, tapi “justru mendominasi” dan banyak gagasan untuk gerakan datang dari mereka.

“Kami, laki-laki dan perempuan, kini menjadi mitra yang setara. Kemampuan dan gagasan perempuan memperkaya gerakan ini,” katanya.

Ia berkata ketika bicara soal tanah dan air, perempuan tidak akan kompromi.

“Mereka berjuang karena itu bagian dari tubuh dan kehidupan mereka sendiri. Maka, laki-laki memberi mereka ruang seluas-luasnya untuk beraksi. Dan hasilnya, gerakan kita menjadi lebih kuat dan matang,” katanya.

Bagi Mama Meri, selama terlibat dalam gerakan penolakan ini, mereka banyak belajar dari kegiatan-kegiatan yang membahas isu gender yang diadakan oleh lembaga-lembaga pendamping. 

“Dari situ kami memahami bahwa perempuan juga harus berani berbicara di depan umum,” katanya.

“Para laki-laki di kampung pun selama ini memberi ruang yang luas bagi perempuan untuk berbicara dalam musyawarah adat,” tambahnya.

Vinsensia juga mengaku banyak belajar dari kegiatan lembaga jejaring sebagai bagian dari penguatan kapasitas gerakan, seperti belajar tentang hukum, hak asasi manusia dan isu gender.

“Setelah kami belajar tentang gender dan HAM, ruang bagi perempuan semakin luas. Kami tidak lagi takut berbicara,” ujarnya.

Warga Poco Leok berbaris di sisi jalan dalam aksi “jaga kampung” saat menyambut perwakilan perusahaan dan pemerintah. (Dokumentasi Floresa)

Rentetan Kekerasan

Sejak proyek ini masuk, beragam intimidasi dan kekerasan sudah terjadi.

Warga berulang kali menghadap ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, dengan berbagai alasan, seperti dianggap memprovokasi hingga menghalang-halangi proyek itu.

Beberapa pemuda juga dilapor ke polisi oleh Bupati Nabit pada Maret tahun ini karena dituding merusak pagar kantornya saat berunjuk rasa.

Dalam aksi protes selama dua hari pada 20-21 Juni 2023, kekerasan aparat keamanan menyebabkan lima perempuan Poco Leok mengalami cedera fisik dan psikologis. 

Seorang di antaranya mengalami kekerasan seksual saat aparat mendorongnya pada bagian dada. 

Tindakan aparat itu direspons Elisabeth Lahus, seorang mama asal Kampung Lungar, dengan aksi telanjang dada. 

Elisabeth Lahus, perempuan asal Poco Leok terpaksa melakukan aksi protes dengan telanjang dada untuk menghentikan proses pengukuran lahan untuk proyek geothermal di wilayah itu pada 20 Juni 2023. (Dokumentasi Floresa)

Ia mengaku terpaksa melakukannya demi menghentikan proses pengukuran lahan dan aksi represif aparat.

Rangkaian aksi penolakan warga sempat direspons Bank KfW dengan mengirim tim independen yang mengaudit proyek ini.

Dalam temuannya, tim itu menyatakan PT PLN gagal memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat setempat tentang dampak proyek tersebut, meskipun tanah yang akan dieksploitasi itu amat penting bagi hidup warga.

Rekomendasi tim itu yang muncul pada akhir 2024, nyatanya tak membuat tekanan berkurang dan pola pendekatan perusahaan dan pemerintah berubah.

Dalam bentrokan terakhir pada 2 Oktober 2024, beberapa warga dan Pemimpin Redaksi Floresa Herry Kabut-yang sedang melakukan peliputan-menjadi sasaran kekerasan.

Kendati sejak peristiwa pada 2 Oktober itu, PT PLN dan pemerintah tak datang lagi, warga kini tetap siaga. 

Soalnya, dalam rencana PT PLN yang dirilis pada Mei soal pengembangan geotermal di Flores, proyek di Poco Leok tetap menjadi salah satu prioritas perusahaan plat merah itu.

Warga dari 10 gendang di Poco Leok, Kabupaten Manggarai menggelar upacara bendera untuk memperingati HUT ke-79 RI di halaman Gendang Mocok pada 17 Agustus.
Warga dari 10 gendang di Poco Leok, Kabupaten Manggarai menggelar upacara bendera untuk memperingati HUT ke-79 RI di halaman Gendang Mocok pada 17 Agustus. 2024. Upacara itu mengusung tema “Bersama Lawan Penjajahan Geotermal.” (Dokumentasi Komunitas Pemuda Poco Leok)

Alarm Tiang Listrik

Poco Leok hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari Ruteng dan dekat dengan PLTP Ulumbu yang sudah beroperasi sejak 2011.

Namun, wilayah Poco Leok masih serba terbatas dalam infrastruktur dasar.  Jalan ke kampung ini rusak parah dan sulit dijangkau akses internet. Hanya ada beberapa titik yang bisa terkoneksi internet, yang jauh dari kampung.

Situasi ini menyulitkan mereka untuk mendapat informasi kapan pihak perusahaan dan pemerintah kembali datang.

Di tengah situasi ini, para perempuan menemukan cara unik: memukul tiang listrik terdekat, alarm bahwa perusahaan dan pemerintah mendekat.

Pukulan itu akan diteruskan oleh warga lain di tiang berikutnya. Bunyi dari tiang itu menjadi panggilan untuk segera bergabung dalam aksi jaga kampung.

Dalam hitungan menit, kabar bisa sampai ke kampung paling jauh di Mucu.

Menurut Mama Meri, jika melihat ada orang yang mencurigakan, siapun warga yang dekat dengan tiang listrik segera memukulnya, isyarat untuk segera bergerak melakukan pengadangan.

Ia berkata, setiap kali mendengar bunyi pukulan itu, mereka memang tidak nyaman.

“Biasanya, kendati sedang bekerja, semua alat kebun kami tinggalkan begitu saja. Kami berlari menuju tempat pengadangan,” katanya.

Maria Teme sedang bekerja di lahannya di dekat Kampung Lungar, Poco Leok. (Dokumentasi Floresa)

Kendati harus melewati rutinitas demikian, dan kemungkinan akan terus mengulanginya lagi pada waktu-waktu mendatang, ia mengaku terus memelihari semangat bersama para perempuan lain.

“Kami memikirkan masa depan anak cucu kami, karena tidak ada tanah lain untuk kami tinggali. Hanya di Poco Leok tempat kami bisa hidup,” katanya.

Adriani Miming, Arivin Dangkar dan Elisa Lehot berkolaborasi mengerjakan laporan ini

Editor: Ryan Dagur

Artikel ini merupakan hasil kolaborasi Floresa dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img