Oleh: Bernadinus Steni
Akhir-akhir ini, sejumlah platform media sosial heboh dengan potongan cerita mengenai investasi oleh institusi Gereja Katolik, baik secara langsung lewat perusahaannya sendiri atau dalam kerja sama dengan perusahaan lain.
Hal ini menimbulkan pertentangan, baik di antara masyarakat maupun dalam tubuh institusi Gereja sendiri yang mempertanyakan secara mendasar kaitannya dengan substansi Ajaran Sosial Gereja.
Apakah harus mengulang cerita Santo Petrus abad awal Masehi: Quo vadis, domine? agar Gereja Katolik perlu berbalik arah menengok misi sesungguhnya di dunia ini.
Tentu, Gereja yang saya maksud di sini bukan pars pro toto (satu mewakili semua), tetapi pars partis (bagian tertentu) dari institusi ini.
Dan, penting juga untuk mengakui bahwa Gereja Katolik juga membangun karya-karya baik yang telah membuat hidup manusia menjadi lebih beradab hari ini.
Dalam artikel ini saya akan mengulas perkembangan ajaran dalam Gereja Katolik mengenai konsep investasi yang baik, menyandingkannya dengan beberapa pilihan investasi Gereja Katolik yang bikin heboh itu.
Saya menempatkan hal ini dalam kaitannya dengan krisis iklim yang saat ini menjadi masalah bersama.
Dalam Laudato Si, ensiklik yang secara khusus berbicara tentang perhatian Gereja Katolik terhadap masalah ekologi, dinyatakan bahwa krisis iklim adalah tantangan sistemik yang harus dihadapi Gereja bersama seluruh institusi publik lainnya serta setiap pribadi manusia.
Pada bagian akhir, saya menganjurkan beberapa pilihan climate action yang mungkin mengulang apa yang telah dijumpai di banyak platform daring, tetapi perlu untuk ditegaskan kembali sebagai bentuk rekomendasi pada Gereja sebagai institusi publik.
Kata Ajaran Sosial Gereja Soal Investasi
Sejak lama, Gereja Katolik bergulat dengan konsep pengelolaan keuangan yang sejalan dengan misi Katolik. Di Vatikan sendiri, banyak skandal investasi keuangan yang melibatkan para pejabat tinggi.
Karena itu, sejak era Paus Fransiskus, transparansi dan akuntabilitas mulai dijunjung tinggi. Salah satu gebrakanya adalah sejak 2021 Administrasi Warisan Tahta Suci (Administration of the Patrimony of the Apostolic See, APSA) secara rutin menerbitkan laporan keuangan. Hal ini baru pertama kali dilakukan sejak APSA berdiri pada 1967.
Sejalan dengan gebrakan ini, pada 2022 Pontifical Academies of Sciences & of Social Sciences meneruskan tradisi Diskateri Kuria Roma, mengeluarkan satu dokumen bernama Mensuram Bonam (Ukuran yang Baik).
Dokumen ini memberikan panduan investasi bagi umat Katolik dan tentu saja bagi Gereja sendiri, berdasarkan Ajaran Sosial Gereja. Selain prinsip investasi dan implikasinya, dengan merujuk pada Ajaran Sosial Gereja, dokumen itu juga menyajikan pertanyaan reflektif bagi investor sebelum menjatuhkan pilihan investasi.
Beberapa prinsip utama yang dikembangkan dalam dokumen ini adalah: (1) kepribadian dan martabat manusia; (2) kebaikan bersama; (3) solidaritas; (4) keadilan sosial; (5) subsidiaritas atau tata kelola yang memberdayakan warga setempat; (6) kepedulian pada bumi sebagai rumah bersama; (7) keterlibatan dari mereka yang paling rentan; dan (8) keutuhan ekologis.
Saya mengambil dua di antara prinsip yang mewakili isu sosial (solidaritas) dan lingkungan (keutuhan ekologis) dalam tabel berikut ini sebagai dua isu utama dalam krisis iklim dan bagaimana dokumen ini menerjemahkannya secara aktual dalam tindakan investasi.
| Prinsip Ajaran Sosial Gereja | Implikasi untuk investasi | Pertanyaan untuk pertimbangan |
| Solidaritas | Dengan martabat dan bakat mereka, setiap orang memiliki peran yang sangat penting dalam rencana Allah untuk penciptaan dan keselamatan. Solidaritas membuka partisipasi – memungkinkan setiap orang untuk berkontribusi pada apa yang dibutuhkan untuk bertumbuh bersama. | (1) Apakah orang lain dihormati atau diperlakukan sebagai komoditas? (2) Apakah dampak sosialnya mempersatukan atau memecah belah? (3) Bagaimana kekayaan alam dihargai dan dilestarikan untuk generasi mendatang? (4) Akankah investasi ini menumbuhkan atau mengikis kepercayaan sosial? |
| Kutuhan Ekologis | Setiap orang menerima kehidupan dan martabat sebagai anugerah dari Tuhan. Hal-hal ini membentuk pribadi untuk menjalin hubungan di berbagai tingkatan: dengan keluarga; dalam komunitas; dengan rekan kerja dan masyarakat, serta dengan udara, air, makanan dan sumber kehidupan di bumi. Dengan terhanyut dalam anugerah-anugerah ini, panggilan hidup seseorang adalah untuk menjadi “lebih manusiawi.” | (1) Bagaimana dampaknya terhadap keseluruhan pribadi manusia? (2) Apakah hubungan sosial diperkuat atau dilemahkan? (3) Apakah kriteria pembangunan integral terpenuhi dalam dimensi manusia, sosial dan ekologisnya? (4) Apakah metrik kuantitatif dan kualitatif memberikan masukan sistemik untuk mengevaluasi hasil? (5) Apa yang harus kita berikan kepada generasi mendatang – untuk keberlanjutan, martabat dan kebaikan bersama mereka? |
Masih merupakan bagian dari langkah pembaruan model ekonomi ini, pada awal 2026, Bank Vatikan (Istituto per le Opere di Religione, IOR) mengeluarkan indeks saham berbasis prinsip Katolik yang memandu investasi etis.
Bersama Morningstar, sebuah perusahaan jasa keuangan dan riset investasi asal Amerika Serikat, IOR mengeluarkan dua ekuitas yakni The Morningstar IOR Eurozone Catholic Principles dan The Morningstar IOR US Catholic Principles.
Keduanya merupakan solusi atas kesulitan konstan yang ditemui investor Katolik untuk berinvestasi pada bisnis yang dipandang sejalan dengan prinsip-prinsip Mensuram Bonam.
Di Indonesia, upaya membawa isu-isu keberlanjutan telah bertumbuh dalam lingkungan Gereja. Salah satunya lewat organisasi Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) yang belakangan mulai mendiskusikan implementasi Ajaran Sosial Gereja dalam bisnis.
Namun, prinsip-prinsip yang kontekstual Indonesia belum dikembangkan, kendati ukuran-ukuran yang telah ditetapkan Mensuram Bonam pada dasarnya telah cukup sebagai dasar pijakan untuk mengambil pilihan, sekaligus memeriksa apakah sebuah investasi selaras atau tidak dengan Ajaran Sosial Gereja.
Kasus-Kasus Paradoks
Beberapa kasus yang menghiasi laman media sosial dan grup WhatsApp belakangan ini merupakan test case, bagaimana Gereja Katolik Indonesia membawa isu-isu ini sejalan dengan Ajaran Sosial Gereja.
Salah satu yang disoroti adalah investasi dalam pembangunan Ta’aktana The Luxury Collection Labuan Bajo Resort di Labuan Bajo, Flores antara Konferensi Waligereja Indonesia dengan Marriots International.
Dalam konteks krisis iklim, perlu direfleksikan secara serius bagaimana penggunaan sumber daya dalam investasi hotel, terutama air, yang merupakan salah satu tantangan utama di pulau kering seperti Flores.
Di saat banyak warga (umat Katolik) kesulitan air dan sumber-sumber air makin tergerus, bukankah perhatian Gereja seharusnya berinvestasi di sana?
Belum lagi soal kepercayaan sosial yang makin melebar karena kemegahan dan kemewahan di hotel demikian hanya untuk mereka yang punya uang. Umat Katolik yang miskin hanya menatap nanar dan merasakan tusukan pedih yang makin dalam dari jarak sosial yang melebar, di mana Gerejanya juga turut mempromosikan itu.
Kasus lainnya, juga terjadi di Flores, adalah investasi yang menggusur rumah dan lahan warga (mereka juga umat Katolik) di Nangahale, Kabupaten Sikka oleh korporasi milik Keuskupan Maumere, PT Krisrama.
Terlepas dari kontestasi klaim sejarah penguasaan lahan, penggusuran adalah tindakan kasar yang menyuguhkan paradoks pada wajah Gereja. Dokumen Mensuram Bonam secara tegas mengajukan pertanyaan reflektif: “Apakah dampak sosial dari investasi itu mempersatukan atau memecah-belah?”.
Jelas, dalam kasus penggusuran itu, investasi itu membawa kemasygulan hati pada solidaritas yang diajarkan Gereja sendiri. Solidaritas yang sama diperdengarkan dalam kotbah-kotbah, lagu-lagu, doa-doa dan ceramah-ceramah. Lebih dari itu, di mana letak compassion yang diajarkan Yesus pada kasus itu?
Dokumen Mensuram Bonam pada dasarnya telah menawarkan opsi investasi yang memungkinkan untuk menjadi jembatan dialog. Kerja sama, dan bukan penguasaan mutlak pada aset, adalah salah satu di antaranya.
Tokoh-tokoh Gereja di seluruh dunia secara aktif mengikuti perkembangan diskusi keberlanjutan (sustainability) di berbagai arena dialog ekonomi global. Mereka ingin mencari solusi terhadap masalah iklim. Salah satu yang menonjol adalah membangun perusahaan sosial (social enterprise).
Investasi terbesar dan menantang bagi ekonom berpikiran progresif adalah memberdayakan kerja sama sosial bukan sebagai license to operate seperti dalam konsep tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility, CSR) tetapi sebagai pilar sustainability dengan menjadikannya aset untuk tindakan ekonomi kolektif.
Banyak sekali aset Gereja Katolik, terutama lahan, yang belum digarap secara efektif, barangkali karena kekurangan modal. Kerja sama sosial, kata teori sustainability ekonomi, adalah solusinya.
Tawaran Investasi yang Ideal
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh Gereja Katolik dalam investasi untuk menghadapi krisis iklim.
Heidi A. Roop, seorang pakar iklim dan adaptasi, menulis 100 aksi yang dapat menjadi pegangan untuk bertindak, sekaligus memikirkan opsi investasi dari sana.
Dua diantaranya adalah Investasi pada pangan lokal dan konservasi air dan tanah.
Pertama, soal pangan lokal. Memprioritaskan konsumsi pangan lokal dan organik adalah sikap sadar krisis iklim, karena pangan lokal tidak memerlukan transportasi panjang dan sistem paking (packaging) yang beremisi tinggi. Konsentrasi pada pengembangan pangan memiliki potensi untuk memitigasi 0,7–8,0 gigaton CO2.
Jumlah emisi ini setara dengan membangun 2.174.536 turbin angin atau mematikan 2.141 pembangkit listrik tenaga batu bara dalam setahun. Selain lebih sehat, yang tentu menghemat biaya kesehatan imam maupun umat, pangan lokal juga menguntungkan petani setempat.
Dalam investasi ini, perputaran uang juga tidak dihabiskan untuk membayar petani apel di California atau New Zealand, tetapi kembali ke petani sendiri. Kerja sama dengan petani merupakan kekuatan dari investasi semacam ini.
Kedua, konservasi air dan tanah. Hal ini dilakukan dengan mengupayakan penanaman kembali tanaman yang memadukan spesies ekologi lokal dan ekonomi. Spesies ekologi lokal dihidupkan kembali sesuai kondisi dan sejarah komunitas.
Di banyak daerah, beberapa tanaman yang dianggap mempunyai nilai kebudayaan justru makin sulit dicari karena disingkirkan oleh tanaman cepat tumbuh (fast-growing species) seperti sengon dan jati.
Situasi ini mencemaskan karena secara global tutupan hutan makin cenderung homogen, di mana spesies yang tumbuh cepat menguasai bentang alam dan didukung oleh proyek konservasi monokultur yang keliru. Pada saat yang sama spesies lokal yang telah membangun daya tahan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati, diabaikan.
Investasi pada dua area ini bisa memberikan manfaat tidak semata-mata pada nilai ekonomi tanamannya, tetapi lebih dari itu pada jasa ekosistem, termasuk air, pengendalian banjir dan kesehatan.
Kerja sama pada investasi seperti ini dapat dilakukan secara kolektif melibatkan desa, sekolah, peneliti dan pihak terkait lainnya.
Masih banyak anjuran lain yang ditawarkan Roop yang bisa dipelajari sendiri. Dalam konteks investasi institusi Gereja, pilihan-pilihan ini penting untuk dipertimbangkan.
Selain karena sejalan dengan panduan prinsip Ajaran Sosial Gereja, pilihan-pilihan ini secara aktual membawa manfaatnya yang dapat dibagi kepada semua orang dan semua makhluk.
Itulah investasi yang ideal dan seharusnya bagi Gereja Katolik.
Bernadinus Steni adalah pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, pendiri Lingko Hijau dan terlibat dalam isu-isu perubahan iklim
Editor: Ryan Dagur


