‘Awas Dong Dengar’: Ilusi Harmoni dalam Rumah Tangga

Lagu “Awas Dong Dengar” tidak sedang menghakimi siapa pun. Ia hanya menunjukkan kecenderungan yang sering kita abaikan: kita lebih takut dinilai orang lain daripada kehilangan kualitas hubungan kita sendiri

Oleh: Marselus Natar

Saya harus jujur: saya tidak mengenal Alfred Gare sebelumnya. Namanya tidak akrab di telinga saya. 

Ketika pertama kali mendengar lagu “Awas Dong Dengar,” saya tidak menaruh ekspektasi apa-apa. 

Lagu itu terasa ringan, menghibur, mudah dicerna – sekadar lewat, tanpa bekas.

Namun, pengalaman punya caranya sendiri untuk mengubah cara kita membaca sesuatu.

Beberapa hari terakhir, saya dipaksa mendengar lagu ini berulang kali, karena dipilih sebagai latar tarian para calon frater dalam sebuah acara. 

Dari situlah yang semula terasa biasa perlahan berubah menjadi semacam cermin – yang memantulkan sesuatu yang tidak selalu nyaman untuk dilihat.

Lirik lagu itu sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak menggurui. 

Ia hanya mencatat: tentang rumah tangga, tentang ribut-ribut yang dianggap wajar, tentang kata-kata yang bisa melukai, dan terutama tentang satu hal yang diulang-ulang – awas, jangan sampai tetangga dengar.

Di titik itulah lagu ini berhenti menjadi hiburan. Ia berubah menjadi sindiran halus, atau mungkin – tanpa kita sadari – potret jujur kehidupan dalam banyak rumah tangga kita hari ini.

Konflik Harus Diselesaikan, Bukan Diredam

Kita sering mengatakan bahwa konflik dalam rumah tangga itu wajar. Kalimat itu benar, tetapi sering disalahgunakan. 

“Wajar” tidak berarti “boleh dibiarkan.”

Dalam banyak rumah tangga, konflik tidak benar-benar diselesaikan. Ia hanya dipindahkan: dari ruang terbuka ke ruang tersembunyi, dari suara keras ke bisik-bisik, dari pertengkaran terang ke diam yang panjang dan dingin. 

Orang belajar menahan diri bukan karena sudah berdamai, tetapi karena takut terlihat buruk oleh orang lain. 

Emosi tidak diolah, hanya ditekan. Masalah tidak dibicarakan, hanya ditunda.

Akibatnya, rumah tangga tidak menjadi ruang penyembuhan, melainkan tempat penyimpanan luka.

Seperti semua luka yang disimpan terlalu lama, ia tidak hilang. Ia berubah bentuk: menjadi kejengkelan kecil yang berulang, menjadi jarak emosional, menjadi kelelahan yang tidak bisa dijelaskan, sampai suatu hari meledak dalam bentuk yang jauh lebih besar dari masalah awalnya.

Masalah ini diperparah oleh cara kita memandang rumah tangga sebagai wilayah yang tidak boleh dicampuri. Apa yang terjadi di dalam rumah adalah urusan pribadi. Titik. 

Prinsip ini terdengar masuk akal, tetapi sering menjadi tameng bagi kekerasan.

Kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu berbentuk pukulan. Ia bisa hadir dalam bentuk kata-kata yang merendahkan, kontrol berlebihan, ancaman halus atau sikap acuh yang terus-menerus. 

Karena tidak meninggalkan luka fisik yang terlihat, ia sering tidak dianggap serius. Lebih parah lagi, banyak korban memilih diam – bukan karena tidak menderita, tetapi karena takut: takut malu, takut disalahkan, takut dianggap gagal mempertahankan rumah tangga.

“Awas dong dengar” pada akhirnya bukan sekadar pesan untuk meredam suara. 

Ia menjadi budaya yang membungkam penderitaan. Kita lebih rela menutup luka daripada membuka kemungkinan untuk sembuh.

Bahaya Budaya “Bisik-bisik Saja”

Salah satu pesan paling kuat — sekaligus paling problematis — dari lagu ini adalah ajakan untuk meredam konflik: pelan-pelan saja, bisik-bisik saja, jangan sampai orang lain dengar.

Sekilas, ini terdengar bijak. Menjaga agar konflik tidak menjadi konsumsi publik seolah merupakan bentuk kedewasaan. 

Dalam praktiknya, budaya “bisik-bisik saja” sering tidak berhenti pada meredam suara. Ia berubah menjadi kebiasaan menyembunyikan masalah tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya.

Banyak rumah tangga hidup dalam pola yang sama: konflik terjadi, emosi memuncak, lalu diredam — bukan karena sudah selesai, tetapi karena tidak ingin diketahui orang luar. Seperti bara dalam sekam, ia tidak tampak dari luar, tetapi terus membara di dalam. 

Padahal, konflik semestinya diurai dan diselesaikan, bukan sekadar disembunyikan demi menghindari rasa malu.

Dalam pola seperti ini, percekcokan menjadi rutinitas yang berulang. Hal-hal kecil dipersoalkan, dibesarkan, lalu diredam kembali tanpa titik terang. Tidak ada kejelasan, tidak ada kesepakatan, hanya siklus yang terus berputar: marah, diam, lupa, lalu mengulang dari awal. 

Hubungan tidak bergerak maju; ia hanya berputar di tempat yang sama.

Ketika komunikasi tidak berjalan sehat dan konflik tidak pernah dibicarakan secara terbuka, ruang kosong mulai terbentuk dalam relasi. Ruang inilah yang sering menjadi pintu masuk bagi persoalan yang lebih kompleks – termasuk perselingkuhan.

Perselingkuhan, dalam banyak kasus, bukan soal moral yang runtuh tiba-tiba. Ia sering berakar dari relasi yang lama tidak sehat: dari perasaan tidak didengar, tidak dihargai, atau tidak lagi memiliki tempat untuk pulang secara emosional. 

Ketika rumah tidak lagi menjadi ruang aman untuk berbagi, seseorang akan mencari ruang itu di luar, meskipun dengan cara yang keliru.

Ketika semua ini dibiarkan tanpa upaya serius untuk memperbaiki, perceraian sering menjadi ujung yang tak terelakkan. 

Perceraian bukan sekadar akibat dari satu kesalahan besar. Ia adalah akumulasi dari banyak hal kecil yang tidak pernah diselesaikan – dari konflik yang terus dibisikkan, bukan dibicarakan; dari luka yang terus disembunyikan, bukan disembuhkan.

Budaya “bisik-bisik saja” menciptakan ilusi ketenangan. Dari luar, rumah tangga tampak baik-baik saja. Tidak ada suara keras, tidak ada keributan yang terdengar. 

Namun, di dalamnya, masalah tetap hidup, bahkan tumbuh. Dan ketika ia akhirnya muncul ke permukaan, ia tidak lagi datang sebagai persoalan kecil, melainkan sebagai krisis yang sulit dikendalikan.

Keberanian untuk Saling Mendengar

Lagu “Awas Dong Dengar” tidak sedang menghakimi siapa pun. Ia hanya menunjukkan kecenderungan yang sering kita abaikan: kita lebih takut dinilai orang lain daripada kehilangan kualitas hubungan kita sendiri.

Kita ingin terlihat baik-baik saja. Kita ingin keluarga kita tampak harmonis. Kita ingin menutup rapat semua celah yang bisa menjadi bahan pembicaraan. 

Hubungan tidak pernah tumbuh dari kepura-puraan. Ia bertumbuh dari kejujuran yang kadang tidak nyaman, dari keberanian untuk mengakui bahwa ada yang tidak beres, dari kesediaan untuk duduk, berbicara, dan – yang paling sulit – benar-benar mendengarkan.

Karena pada akhirnya, yang merusak rumah tangga bukanlah konflik itu sendiri, melainkan ketidakmauan untuk menghadapinya dengan jujur.

Di tengah semua kompleksitas ini, solusinya sebenarnya sederhana – meski tidak mudah: mendengar. 

Bukan sekadar mendengar untuk merespons, bukan mendengar sambil menunggu giliran bicara, tetapi mendengar untuk memahami. 

Kemampuan ini semakin langka, justru di tempat yang paling membutuhkannya: dalam rumah tangga.

Kita hidup bersama, tetapi tidak sungguh-sungguh hadir. Kita berbicara, tetapi tidak benar-benar berkomunikasi. Kita menjaga suara agar tidak keluar, tetapi gagal membuka hati ke dalam.

Maka yang perlu berubah bukan hanya cara kita berbicara, tetapi arah perhatian kita.

Bukan lagi: “jangan sampai tetangga dengar.”

Melainkan: “sudahkah kita sungguh-sungguh saling mendengar?”

Jika tidak, rumah tangga hanya akan menjadi ruang yang tampak tenang dari luar, tetapi penuh gema luka di dalam. Sunyi, tetapi perlahan runtuh.

Marselus Natar adalah rohaniwan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis Antologi Cerpen “Usaha Membunuh Tuhan” dan Novel “Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah.” Ia tinggal di Oesapa, Kupang NTT.

Editor: Ryan Dagur


DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING