Tragedi Sumba: Dua Warga Tewas Ditembak Polisi dalam Sehari

Korban kedua tewas di area Polres Sumba Barat saat menyaksikan aksi protes keluarga korban pertama.

Floresa.co – Dua warga tewas dalam tragedi penembakan oleh polisi di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada 15 September. Peristiwa itu memicu kerusuhan di sekitar Polres Sumba Barat.

Kedua korban adalah Jowo Tana, 39 tahun, dan Marselinus B. Pagegi, 20 tahun. Keduanya tewas setelah ditembak polisi pada hari yang sama, masing-masing pada pagi dan malam hari. Jowo merupakan warga Sumba Barat, sedangkan Marselinus berasal dari Sumba Tengah.

Dalam pernyataan tertulis, Kepala Bidang Humas Polda NTT, Henry Novika Chandra, menjelaskan bahwa Jowo Tana tewas dalam upaya penangkapan terkait kasus pencurian ternak.

Henry menyebut penangkapan itu merupakan bagian dari proses panjang penelusuran kasus pencurian ternak yang, menurutnya, kerap disertai kekerasan sejak 2022.

Menurut Henry, penangkapan yang dipimpin Kepala Unit Buser Polres Sumba Barat itu mula-mula berhasil meringkus dua tersangka berinisial ASBL dan KY sekitar pukul 02.00 Wita. Tersangka ketiga berinisial YKM ditangkap empat jam kemudian.

Polisi kemudian mendatangi rumah Jowo Tana di Kampung Wai Makapal, Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli, sekitar pukul 09.40 Wita.

Menurut Henry, penembakan terjadi setelah Jowo disebut memberikan “respons negatif” dengan mengayunkan parang ke arah polisi.

“Petugas sempat melepaskan tiga kali tembakan peringatan ke udara, namun diabaikan oleh J.T. yang berupaya melarikan diri,” kata Henry.

Di tengah situasi itu, polisi kemudian melepaskan tembakan yang diarahkan ke kaki korban. Namun, tembakan tersebut meleset dan mengenai bahu kanan karena korban terjatuh.

Jowo Tana kemudian dibawa ke Rumah Sakit Kristen Lende Moripa pada pukul 10.00 Wita. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia meninggal pada pukul 10.20 Wita.

Kerabat Jowo Tana melakukan protes sambil membawa jenazah korban penembakan itu di depan kantor Polres Sumba Barat, NTT, pada 15 September 2026. (Tangkapan layar video)

Penembakan Kedua

Informasi yang diperoleh Floresa menyebutkan, setelah kejadian itu, keluarga mendatangi Polres Sumba Barat sambil membawa jenazah Jowo. Mereka meminta pertanggungjawaban atas kematian korban.

Namun, situasi berubah jelang malam hari ketika dialog tidak menemukan jalan keluar.

Dalam sebuah video yang beredar, tampak istri dan kerabat korban berdiri di sekeliling jenazah di depan pintu Polres sambil menangis dan menyampaikan protes. Sejumlah anggota TNI juga terlihat mengawal mereka.

“Kita minta tolong Kapolres Sumba Barat punya pertanggungjawaban di depan, supaya masyarakat yang lain dengar,” kata salah satu anggota keluarga.

“Harus ada keputusan sekarang, ini sudah melayang orang punya nyawa,” kata kerabat lainnya.

Setelah beberapa saat, Kapolres Sumba Barat AKBP Yohanis Nisa Pewali keluar menemui massa.

Yohanis tampak berusaha menenangkan istri dan kerabat korban, tetapi protes dan teriakan mereka terus berlanjut.

“Jangan bawa pulang [jenazah] ke rumah. Ini rumah tempat mengadu masyarakat memang. Biar Prabowo juga telepon di sana, tidak bisa,” kata mereka.

Situasi kemudian semakin mencekam ketika massa berusaha membawa jenazah Jowo Tana masuk ke ruang tunggu Polres.

Ketika jenazah berhasil dibawa masuk dan massa terus berusaha membuka pintu kaca ruangan sambil mengangkat parang, polisi dari dalam ruangan melepaskan tembakan satu per satu.

Polisi kemudian kembali melepaskan tembakan sambil mengejar warga yang berlarian di halaman dan hendak keluar dari gerbang Polres.

Saat itulah Marselinus, warga Kampung Galukawu, Desa Maradeta, Kecamatan Umbu Ratunggay Tengah, Sumba Tengah, diduga terkena peluru dan tewas.

Floresa belum berhasil menghubungi keluarga korban hingga berita ini dimuat.

Namun, seperti dilansir Obortimur.com, Marselinus disebut hanya menyaksikan keramaian di depan Polres saat pulang bekerja dari Toko Sango Ate, Waikabubak.

Sementara itu, polisi mengklaim situasi di sekitar Polres Sumba Barat sudah kondusif dan aman pada dini hari 16 September.

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA