Kisah Marselina Kurniawati: Saat Orang Miskin Jatuh Sakit

Tapi itu tidalah mudah bagi keluarga Wati. Untuk biaya di RSUD saja mereka sudah kewalahan, apalagi harus terbang jauh ke Denpasar.

Harapan pun ditujukan kepada Pemkab Matim. Pada tanggal 25 Juni 2015, bertempat di RSUD Ruteng, mewakili pihak keluarga, Servas Nurdin, sepupu Wati, menemui para wartawan di Manggarai. Ia memohon bantuan untuk sama-sama mencari solusi atas penderitaan yang dialami Wati.

Servas mengatakan, dua Minggu sebelumnya ia sudah menemui Wakil Bupati Matim, Andreas Agas untuk meminta bantuan. Agas, kata dia, meminta dibuatkan proposal yang ditujukan ke Bupati Yosep Tote dan tembusan kepada Sekretariat Daerah (Setda) Matim.

Pada tanggal 1 Juli, saat Hari Ulang Tahun Bayangkara (Polri), awak media di Ruteng berkomunikasi dengan Bupati Matim, Yosep Tote di Kantor Bupati Manggarai terkait pengobatan Wati.

“Masuk saja proposalnya ke bagian sosial, nanti ada dananya,” kata Tote kepada sejumlah wartawan kala itu.

Penyataan Tote saat itu memberi harapan baru bagi keluarga Wati yang sudah tidak sabar memberangkatkan anak kesayangan mereka ke Bali untuk dirawat di Rumah Sakit Sanglah.

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA