Dua Bulan Terakhir Puluhan Babi Mati di Dua Kelurahan di Manggarai, Dinas Peternakan Belum Cek ke Lokasi

Kasus ini terjadi di tengah penyebaran virus ASF yang sudah terkonfirmasi di Kabupaten Sikka

Floresa.co – Warga di setidaknya dua keluarahan di Kabupaten Manggarai mencatat kematian puluhan ekor babi selama dua bulan terakhir.

Kasus yang belum diketahui pemicunya ini terjadi di tengah penyebaran virus demam babi Afrika atau African Swine Flu [ASF] yang terverifikasi di Kabupaten Sikka.

Floresa mendapat laporan kasus dari warga di Kelurahan Tenda dan Kelurahan Pau, Kecamatan Langke Rembong.

Rovinus Anda, seorang peternak babi di Kampung Tenda, mengaku 14 ekor babinya mati sejak akhir tahun lalu.  

Tiga di antaranya merupakan indukan, 11 ekor lainnya masih berusia tiga bulan.

Hal itu, kata dia, membuatnya merugi sekitar Rp50 juta. 

Penghitungan itu, katanya kepada Floresa pada 9 Februari, merujuk pada nilai penawaran dari beberapa calon pembeli. 

Satu dari tiga induk “sudah ditawar Rp11 juta,” dua lainnnya ditawar masing-masing Rp7 juta dan Rp8 juta. 

Andaikan 11 anak babi itu sehat, “bisa dijual seharga Rp2,5 juta-Rp3 juta per ekor.”

Tujuh dari 14 ekor babinya mati pada awal Januari. Rovinus melaporkan kematian ketujuh ekor babi itu ke lurah setempat pada 8 Februari, tetapi tidak dengan kematian sebelumnya. 

“Saya kira mereka mati karena penyebab alamiah. Oleh karenanya saya tak melapor.”

Belakangan ia tahu, “ternyata sejak Desember sudah marak ASF.” 

Tetap saja ia tak paham pemicu kematian babinya karena “tak ada petugas yang datang periksa, beri tahu saya, mereka kenapa?”

Berjarak tak sampai satu kilometer dari Kampung Tenda, Efrid Djeharu, warga Kampung Pau, Kelurahan Pau, juga masih bertanya-tanya pemicu kematian enam ekor anak babinya.

Keenam anak babi itu mati berturut-turut sejak awal Januari. Dua di antaranya mati pada hari yang sama. 

Kematian keenam babinya diawali gejala kejang-kejang.

“Banyak babi mati di kampung ini sejak sekitar dua pekan lalu,” kata Efrid ketika ditemui Floresa pada 9 Februari. 

Roland Erlando, warga Kampung Tenda mengaku satu-satunya babi rawatannya mati pada awal Februari. 

“Awalnya ia kejang,” kata Roland, “sebelum tak mau makan dan mati sehari kemudian.”

Seperti Rofinus, ia juga tak mengetahui virus ASF tengah berjangkit di Sikka. 

Roland juga tak paham apakah babi peliharaannya mati akibat virus yang sama.

Kendati tak mengerti masalah pada babinya, “untung saja ketika ia mati, langsung saya kubur,” kata Roland mengacu pada imbauan pemerintah baru-baru ini untuk lekas mengubur babi yang mati. 

Dinas Belum Respons

Lurah Tenda, Hubertus F. Jemadu menyatakan 13 kepala keluarga di wilayah administratifnya melaporkan kematian keseluruhan 59 ekor babi.

Pelaporan “bermula pada 8 Januari,” katanya melalui pesan WhatsApp pada 11 Februari. 

Mengacu pada tanggal itu, “kami tak punya data kematian babi pada bulan-bulan sebelumnya.”

Ia mengaku “sudah meneruskan informasi ke Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai” pada 10 Januari. 

Ia tak menjabarkan medium pengiriman informasi yang disebutkannya.

“Barangkali karena libur, mereka belum respons. Senin nanti saya sampaikan secara resmi,” katanya mengacu pada Senin, 12 Februari. 

Ia berharap “Dinas Peternakan cek ke kampung-kampung kami. Beri sosialisasi pada pemelihara dan peternak babi,” katanya.

Floresa menghubungi Plt. Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai, Yos Mantara melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp pada 9, 10 dan 11 Februari. 

Sambungan telepon tersambung, tetapi tidak diangkat, sementara pesan WhatsApp bercentang dua dan biru, tanda sudah dibaca.

Secara umum di kampung-kampung Manggarai, warga memelihara 1-3 ekor babi di sekitar rumah. Selain untuk dijual, babi juga dipakai dalam pelbagai acara adat.

Penyebaran virus ASF telah menjadi momok bagi warga di Flores dalam beberapa tahun terakhir.

Di Kabupaten Sikka, pemerintah telah membuat imbauan tentang langkah preventif penyebaran virus ASF. Sejak Januari hingga 4 Februari, kabupaten itu mencatat kematian 74 ekor babi mati karena ASF.

Di Kabupaten Manggarai Timur, pemerintah juga telah mengeluarkan imbauan pada 5 Februari, merespons penyebaran ASF.

Kabupaten itu mencatatkan kematian babi akibat ASF secara berturut-turut sebanyak 680 ekor [2020], 1.296 ekor [2021], 180 ekor [2022] dan 530 ekor [2023], menurut data dari Dinas Peternakan.

Editor: Anastasia Ika

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini.

TERKINI

BANYAK DIBACA

BACA JUGA