Tenda Pengungsian Disulap Jadi Ruang Kelas; Potret Aktivitas Siswa Penyintas Erupsi Lewotobi Laki-Laki

Para siswa berdesak-desakan di tenda darurat, dua bangku digabung untuk tiga orang, sementara guru mengajar di bawah terik matahari

Floresa.co – Jarum jam menunjukkan pukul 07.03 Wita pada 23 Juli ketika puluhan siswa di Kabupaten Flores Timur berbondong-bondong menuju tenda pengungsian yang disulap jadi ruangan kelas.

Berada di Posko Konga, Kecamatan Titehena, tenda itu dibanguan Kementerian Sosial (Kemensos).

Berukuran empat kali enam meter, kapasitasnya hanya cukup untuk menampung 15-20 siswa.

Namun, para guru membagi tenda beratap terpal tanpa dinding itu menjadi dua ruang kelas untuk 66 siswa. Mereka harus saling berbagi bangku. Dua bangku diduduki tiga orang.

Para siswa di Posko Konga berasal dari SMP Negeri I Wulanggitang.

Selain Ile Bura, Wulanggitang merupakan salah satu dari dua kecamatan yang berada di kaki Gunung Lewotobi Laki-laki.

Selain di tenda darurat itu, terdapat satu bangunan sementara di Posko Konga untuk kegiatan belajar mengajar.

Berukuran empat kali enam meter, bangunan itu merupakan donasi dari Dompet Dhuafa, lembaga filantropi berbasis Islam.

Yohana Surat Boro, guru Matematika berkata, karena mesti berdesak-desakan, “banyak siswa yang mengeluh tidak nyaman.”

Tenda itu juga berjarak sekitar enam meter dari Jalan Trans Flores Larantuka-Maumere sehingga suasananya bising karena lalu lintas kendaraan.

“Saya berusaha kuatkan mereka. Saya bilang ‘kita ambil nilai positifnya. Coba kalian bandingkan, di sini dengan tempat belajar sebelumnya,’” katanya.

Sebelum ada tenda itu, para siswa belajar dengan duduk di lantai di Posko Bokang dan Kobasoma.

Pantauan Floresa, sementara para siswa beraktivitas di tenda, guru mereka harus berjemur di bawah terik matahari karena papan tulis bersandar di pohon pinang di luar tenda. 

Papan tulis disandarkan pada pinang, sementara seorang guru sedang mengajar siswa SMP Negeri I Wulanggitang.(Dokumentasi Floresa)

Ada juga guru lainnya di dalam tenda yang harus berkeliling dari bangku ke bangku untuk menjelaskan materi.

Meski tak nyaman, Yohana mengatakan “itu bukan masalah”.

Menjadi masalah, katanya, ketika putus asa dan tidak mengajar, sementara anak-anak butuh ilmu.

Suratman Goran Tokan, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia berkata, ia terpaksa menjelaskan pelajaran dari dari bangku ke bangku karena suasana terlalu bising.

“Ada papan tulis juga sama saja. Mereka tidak dengar kalau kita berbicara di depan. Apalagi bunyi kendaraan yang lewat juga sangat besar,” katanya.

Kepala Sekolah SMP Negeri I Wulanggitang, Alfonsus Tube Hera berkata, total siswa sekolahnya lebih dari 400 orang.

Sekitar 200 siswa masih bertahan bersekolah di Wulanggitang karena orang tua mereka yang memutuskan kembali ke kampung setelah berbulan-bulan berada di posko sejak November tahun lalu.

Selain di Posko Konga, sebagian dari siswa sekolah itu memanfaatkan ruangan di Balai Pertanian di Desa Konga.

Alfonsus berhap, pemerintah memperhatikan anak didiknya yang berdesakan dalam tenda-tenda darurat.

“Tentu kami berterima kasih kepada Kemensos karena telah membantu menyediakan tenda darurat,” katanya.

Namun, “memasuki musim hujan saat ini kalau tetap bertahan di tenda juga agak sulit.” 

Yohana dan Suratman sama-sama mengakui, meski kondisi di Posko Konga jauh dari ideal, tetapi masih lebih baik. 

Pada semester lalu, sebelum ada tenda darurat, mereka kerap keliling ke Posko Kobasoma dan Bokang, tempat sebelumnya siswa bersekolah. Kedua posko itu berjarak sekitar dua kilometer.

Kini saban hari keduanya harus bolak balik antara Konga dengan Larantuka yang berjarak 38 kilometer.

“Kami bisa tinggal di sini, namun di mes guru belum ada kamar mandi,” kata Yohana. 

“Kekurangan kami masih banyak. Kalau bisa pemerintah bantu tambahkan ruangan kelas, buku-buku dan kursi,” katanya.

Lewotobi Laki-laki mulai erupsi besar pada November tahun lalu yang menewaskan sembilan orang dan memaksa ribuan masyarakat di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura mengungsi dari rumah-rumah mereka. Hingga kini, menurut data pemerintah, jumlah pengungsi lebih dari 4.000 jiwa.

Selain itu, letusan gunung itu juga menyebabkan kerusakan tanaman pertanian, sumber penghasilan warga. Sejumlah fasilitas umum, seperti sekolah.

Terakhir, gunung setinggi sektiar 1.584 meter di atas permukaan laut itu erupsi pada 7 Juli dengan tinggi kolom abu 13 kilometer meter di atas puncak.

Sejak 17 Juli, Badan Geologi kembali menaikkan status gunung tersebut ke level IV atau Awas.

Lembaga tersebut menyatakan, aktivitas magmatiknya masih tinggi dan terdapat sumbatan gas yang berpotensi memicu terjadinya letusan dahsyat. 

“Sumbatan ini dapat meningkatkan potensi erupsi yang bersifat eksplosif karena akumulasi gas yang tidak dapat keluar,” kata Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid pada 24 Juli.

Editor: Petrus Dabu

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA