Floresa.co – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mencatat 174 orang dengan HIV (ODHIV) selama 2022-2025 yang mayoritas masih menjalani pengobatan rutin.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Adrianus Ojo, dari jumlah itu, 124 di antaranya adalah laki-laki dan 50 perempuan.
Ia menjelaskan kepada Floresa, 120 orang di antaranya masih menjalani pengobatan selama empat tahun terakhir, sementara 20 orang terputus dari jalur pengobatan atau lost to follow-up
Selain itu, terdapat 21 orang yang datanya tidak lengkap sehingga menyulitkan pemantauan.
Adrianus menambahkan, “dalam periode yang sama, 13 orang yang meninggal.”
Mayoritas Usia Produktif
Berdasarkan analisis profil kasus, ODHIV di Manggarai Barat adalah dominan warga usia produktif antara 25-45 tahun.
“Dari segi pekerjaan, banyak penyintas berasal dari kalangan profesional, wiraswasta dan pekerja informal,” jelasnya.
Mereka, kata dia, umumnya terdeteksi saat berobat ke puskesmas. Ia merahasiakan nama-nama puskesmas itu demi kenyamanan ODHIV dari kemungkinan mendapat stigma dari masyarakat.
“Puskesmas yang berada di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi cenderung melaporkan kasus yang lebih banyak,” katanya.
Adrianus mengimbau masyarakat menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV “agar mereka tidak takut untuk memeriksakan diri dan berobat.”
Dinasnya, kata dia, juga selalu menghimbau warga yang sudah terinfeksi untuk rutin melakukan pengobatan dan mendapat Antiretroviral (ARV), obat khusus HIV yang menghambat perkembangbiakan virus dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
ARV, katanya, juga membantu ODHIV “tidak menularkan virus ke pasangan.”
Ia juga mengimbau untuk melakukan tes sedini mungkin, terutama bagi populasi kunci dan berisiko untuk mengetahui status kesehatan.
Terhadap 120 yang masih menjalani pengobatan, kata dia, pemerintah memfasilitasi mereka dengan berbagai upaya.
“Prosesnya meliputi tes dan konseling, pendaftaran ke klinik perawatan, dukungan dan pengobatan serta pemantauan rutin,” kata Adrianus.
Sementara itu, Direktur RSUD Komodo, Melinda Gampar, menyebut jumlah pasien dalam pengawasan di rumah sakit tersebut selama periode 2016-2024 mencapai 226 orang.
“Sebanyak 41 orang yang meninggal, 17 orang rujuk masuk, 24 orang rujuk keluar dan jumlah pasien lost follow-up sebanyak 37 orang,” kata Melinda.
Sementara itu, jumlah pasien yang masih berobat tercatat sebanyak 107 orang pada 2024 dan 38 orang pada 2025.
HIV dan Cara Penularan
Dikutip dari situs kesehatan Halodoc.com, HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan nama untuk virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit.
Kondisi di mana HIV sudah pada tahap infeksi akhir disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), di mana tubuh tidak lagi memiliki kemampuan melawan infeksi yang ditimbulkan.
Dengan menjalani pengobatan tertentu seperti mengonsumsi rutin ARV, ODHIV bisa memperlambat perkembangan virus sehingga bisa menjalani hidup dengan normal.
Semua orang berisiko terinfeksi HIV.
Namun, Adrianus berkata, kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi adalah mereka yang melakukan hubungan seks berisiko (seperti tidak menggunakan kondom) dengan berganti-ganti pasangan.
Selain itu, kata dia, adalah penggunaan jarum suntik tidak steril, terutama di kalangan pengguna narkotika suntik.
Transfusi darah yang tidak diskrining, meski sangat jarang terjadi dengan standar modern, katanya juga bisa menjadi pemicu penularan.
Kemungkinan lain adalah lewat ibu hamil dengan HIV positif yang bisa tertular kepada bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Upaya Pencegahan
Adrianus berkata, untuk meminimalisasi terjadinya kasus HIV pemerintah melakukan solusi komprehensif berupa peningkatan edukasi.
“(Kami melakukan) sosialisasi dan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang masif tentang pencegahan dan penularan HIV,” katanya.
Selain itu, upaya lain adalah adalah memperluas akses untuk pengecekan “sehingga memudahkan masyarakat untuk melakukan tes HIV secara sukarela dan rahasia.”
Dinas, kata dia, juga memastikan ketersediaan obat ARV dan dukungan psikososial penanganan kasus komprehensif dengan melacak dan mengembalikan ODHIV yang gagal follow-up ke dalam sistem pengobatan.
“Berdasarkan data, ketersediaan obat ARV di Kabupaten Manggarai Barat dinyatakan masih mencukupi untuk mendukung kelangsungan pengobatan 120 ODHA yang aktif,” katanya.
Sementara menurut Melinda Gampar dari RSUD Komodo, upaya untuk mencegah HIV adalah dengan menghindari hal-hal yang meningkatkan resiko penularan.
“Hindari seks bebas dan bergonta ganti pasangan,” katanya.
Editor: Ryan Dagur




