Jembatan Roboh, Jalan Putus; Dampak Banjir dan Longsor di Manggarai Timur

Pemerintah mengklaim telah melakukan penanganan darurat, termasuk swadaya oleh masyarakat

Floresa.co – Hujan deras yang terjadi selama beberapa hari sejak pekan lalu mengakibatkan sejumlah wilayah di Kabupaten Manggarai Timur mengalami longsor dan banjir.

Di Sungai Wae Musur, Kecamatan Rana Mese, jembatan penghubung (crossway) ambruk diterjang banjir pada 14 Desember. 

Jembatan  itu merupakan satu-satunya akses penghubung menuju Desa Lidi dan Desa Bea Ngencung yang berada di bagian barat sungai.

Pada hari yang sama, ruas jalan kabupaten di Wolo Noa, Desa Golo Munde, terputus akibat longsor. Ruas jalan itu merupakan akses transportasi utama yang menghubungkan Kecamatan Elar dan Elar Selatan, juga menuju Kabupaten Ngada.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Manggarai Timur, Ferdinandus Mbembok berkata kepada Floresa pada 18 Desember, ruas jalan itu kini sudah bisa dilalui oleh kendaraan.

“Material longsornya sudah dibersihkan.Transportasi masyarakat sudah kembali normal,” katanya.

Selain itu, menurut Mbembok, jembatan penghubung di Wae Musur sudah bisa dilalui oleh kendaraan pasca diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, kata dia, akan tetap melakukan perbaikan lanjutan apabila “status bencana dari BPBD sudah dikeluarkan”

“Tetap ada anggaran untuk perbaikan. Ada penanganan darurat dan ada penanganan lanjutannya,” katanya.

Hingga saat ini wilayah Manggarai Timur masih dilanda hujan yang terjadi di pagi hari hingga sore hari.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mengeluarkan surat himbauan agar warga waspada dengan peringatan dini cuaca ekstrem.

Surat imbauan ini terbit pada 5 Desember dan ditujukan kepada seluruh perangkat daerah hingga pemerintah desa.

Dalam surat  tersebut, pemerintah menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan gelombang tinggi. 

Pemerintah daerah juga meminta agar informasi peringatan dini cuaca disampaikan secara berjenjang kepada masyarakat melalui perangkat daerah terkait, mulai dari BPBD, camat, lurah, kepala desa, hingga relawan di lapangan.

Selain itu, seluruh instansi diminta untuk menyiagakan personel, peralatan, serta posko siaga bencana di wilayah masing-masing guna memastikan respons cepat apabila terjadi keadaan darurat. 

Pemerintah daerah juga menegaskan pentingnya koordinasi yang intensif dengan BPBD, khususnya untuk memperoleh pembaruan sistem informasi prakiraan cuaca secara berkala.

Laporan dari Gabrin Anggur, kontributor di Manggarai Timur

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img