Floresa.co – Mgr. Paskalis Bruno Syukur yang sebelumnya undur diri dari jabatan kardinal melepaskan tongkat kegembalaannya sebagai uskup setelah munculnya sejumlah tudingan terkait penyelewengan dalam tata kelola, kendati ia membantah saat mengumumkan keputusannya dan melabeli semua itu sebagai tidak berbasis fakta.
Uskup yang selama 11 tahun terakhir memimpin Keuskupan Bogor itu mengumumkan pengunduran dirinya pada 19 Januari di hadapan dewan kuria dan sesama anggota Ordo Fransiskan.
Uskup Purwokerto, Mgr. Christophorus Tri Harsono yang ditunjuk Vatikan sebagai administrator apostolik hingga penunjukkan uskup definitif juga hadir.
Dalam pernyataannya, Uskup Paskalis, 63 tahun, menyatakan “menerima keputusan dari Paus Leo ke-14 dan tentu saja menanggalkan jabatan sebagai uskup bukan dengan rasa kehilangan melainkan dengan kebebasan hati,” meski mengakui “ada tekanan dan situasi sulit yang mengikutinya.”
“Namun saya memilih untuk tidak melihatnya sebagai suatu kekalahan manusiawi dan duniawi. Saya mundur bukan karena saya bersalah tetapi karena saya mengasihi persaudaraan dan persatuan Gereja khususnya di Keuskupan Bogor ini,” katanya.
Ia menyatakan mengumumkan hal itu “bukan dengan hati yang berat melainkan dengan jiwa yang penuh bersyukur.”
“Pengunduran diri saya yang telah diterima oleh Bapak Suci, saya maknai sebagai sebuah pengalaman mistik yang luar biasa. Walaupun dalam konteks tertentu, ada hal- hal yang saya juga tidak dipahami, tetapi di situlah saya menyatakannya sebagai sebuah pengalaman mistik,” katanya.
Pengunduran diri terjadi setelah Vatikan menyelidiki sejumlah tudingan terhadapnya dengan melibatkan visitator apostolik Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC yang sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI.)
Sejauh ini alasan Vatikan yang meminta Uskup Paskalis mengundurkan diri tidak diketahui.
Namun, pada bulan lalu imam Keuskupan Bogor, Romo Yosep Sirilus Natet dan Romo Yoseph Kristinus Guntur, keduanya rektor dan staf formator Seminari Tinggi Keuskupan Bogor, merilis sebuah tulisan yang berisi tudingan terhadap uskup itu.
Mereka antara lain mencapnya bertindak otoriter, melakukan abuse of power, menyalahgunakan keuangan dan memiliki relasi personal dengan pihak tertentu yang berdampak pada keuskupan.
“Kami sungguh merindukan figur uskup yang adalah seperti sosok ayah kami sendiri. Seorang gembala yang berbau domba dan ada-hadir bersama kami serta mendengarkan kami. Kami tidak merasakan itu,” tulis mereka.
Salah satu yang mereka soroti sebagai penyalahgunaan wewenang adalah pengambilalihan penanganan rumah sakit milik keuskupan di Lebak, Banten dari para Suster Fransiskan Sukabumi (SFS).
Mereka menggambarkannya sebagai “pengusiran” terhadap para suster.
Selain itu, mereka juga mempersoalkan langkah Uskup Paskalis mengganti pejabat kuria keuskupan pada Desember tahun lalu, yang mereka tuding dilakukan secara diam-diam “tanpa semangat sinodalitas yang melibatkan para kuria lama.”
Pergantian itu kemudian dibatalkan dan uskup, menyebut alasanya setelah mencermati situasi konkret pemerintahan gerejawi dan setelah melakukan evaluasi, pembicaraan, serta discernment mendalam dengan Mgr Michael Pawlowics sebagai Charge d Affaires atau Pelaksana Tugas Nunci Duta Besar Vatikan di Indonesia dan Uskup Anton.
Dalam pernyataannya pada 19 Januari yang diunggah di akun Instagram Paroki Katedral Bogor, Uskup Paskalis mengklarifikasi berbagai tudingan itu.
Ia mengklaim penjelasannya “dalam terang kebenaran demi kasih saya kepada Gereja dan agar tidak terjadi kebingungan yang berkepanjangan” dan “sebagai bentuk tanggung jawab moral saya.”
Terkait pergantian pengelola rumah sakit di Lebak, katanya, merupakan “upaya reorganisasi demi keberlanjutan misi yang lebih sehat,” bukan untuk mengusir para suster.
Karena itu “saya mau menyampaikan di tempat ini, mohon itu ditarik kembali,” merujuk tuduhan dua imam terhadapnya.
Sementara mengenai stabilitas keuangan keuskupan, katanya, “terbukti tidak berdasar,” termasuk setelah diperiksa oleh visitator apostolik.
“Isu ciptaan bahwa saya menggunakan uang keuskupan untuk keluarga atau orang lain sudah tidak terbukti. Saya mengikuti kefransiskanan saya dengan tidak menggunakan uang keuskupan untuk pribadi saya. Kondisi finansial kita tetap terjaga dan stabil,” katanya.
Sementara mengenai tuduhan relasi personal dengan pihak tertentu, “saya tegaskan bahwa setiap kerja sama didasarkan pada profesionalitas demi kemajuan keuskupan.”

Uskup Paskalis juga mengomentari dinamika konflik dengan para imam dan kuria, mengakui bahwa “kepemimpinan seringkali menjadi jalan yang sunyi.”
“Saya sering merasa bekerja sendiri tanpa dukungan yang semestinya. Mungkin tampaknya ada hubungan, tapi dalam kenyataan kadang-kadang jalannya sunyi. Ketika saya melakukan perombakan kuria demi penguatan struktur, hal itu justru dianggap keliru,” katanya.
Uskup itu juga menyinggung alasannya undur diri dari penunjukkan sebagai kardinal pada Oktober 2024, dua pekan setelah ditunjuk Paus Fransiskus sebagai sebagai salah satu dari 21 kardinal baru. Kala itu, Vatikan mengklaim ia undur diri karena menyatakan keinginan untuk mengutamakan perkembangan pribadinya dalam pelayanan kepada Gereja dan umat Allah.
Kini Uskup Paskalis menyatakan “saya diminta untuk mengundurkan diri dengan alasan dianggap membiarkan kasus pedofilia yang terjadi di keuskupan.”
Ia merujuk pada dua kasus kekerasan seksual di keuskupannya oleh pelaku orang Gereja yang telah dipenjara, menyebut “kasus ini sungguh saya kawal dan ditangani dengan baik sampai selesai.”
Ia pun berpesan kepada para imamnya untuk “hiduplah dengan hati yang saling mengampuni” dan “jangan berbicara di belakang dan lempar batu.”
“Sesama imam adalah saudara. Apapun kekurangan, apapun kelebihan, terimalah dia sebagai saudaramu untuk perjalanan selanjutnya,” katanya.
Sementara kepada seluruh umat, ia berpesan untuk “tetaplah setia pada Gereja, bukan pada sosok manusia, tapi pada Kristus sang kepala.”
“Saya berterima kasih atas persahabatan tulus kita dan saya meminta maaf dari kalian semua atas kekurangan dan kesalahan yang telah saya lakukan,” tambahnya.
Ia menyatakan menyerahkan tongkat penggembalaan “dengan sukacita dan damai yang melampaui segala akal.”
“Di dalam Tuhan tidak ada yang benar-benar hilang. Yang ada hanyalah perubahan bentuk pelayanan. Saya akan kembali ke rumah persaudaraan OFM,” katanya.
Pengunduran diri uskup ini ramai dibicarakan di kalangan umat Katolik, terutama di Manggarai, salah satunya karena terkait dengan asalnya.
Ia lahir pada 17 Mei 1962 di Ranggu, Kabupaten Manggarai Barat dan menuntaskan sekolah menengah di SMP-SMA Seminari Pius XII Kisol.
Uskup Paskalis menjabat sebagai Provinsial OFM Indonesia dua periode sejak tahun 2001.
Pada 2009, saat masa periode keduanya, ia diangkat menjadi anggota Definitor General Fransiskan untuk wilayah Asia dan Oseania.
Pada 2013, ia diangkat menjadi Uskup Bogor, menggantikan uskup Fransiskan lainnya, Michael Cosmas Angkur, yang juga berasal dari Manggarai.
Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KWI periode 2021-2025.
Editor: Anno Susabun





