Floresa Kolaborasi dengan Forbidden Stories Mengungkap Taktik Pemaksaan dan Disinformasi dalam Proyek Geotermal di Flores

Liputan itu antara lain membuka cara PT PLN membayar jurnalis untuk menyebarkan berita-berita yang mendukung proyek, sekaligus menyerang mereka yang dianggap menjadi penghalang

Floresa.co – Floresa berkolaborasi dengan media internasional Forbidden Stories dalam liputan investigasi yang mengungkap taktik pemaksaan dan penyebaran disinformasi dalam upaya pemerintah dan korporasi meloloskan proyek geotermal di Pulau Flores.

Liputan itu dikerjakan oleh Tim Floresa yang meliput langsung di dua lokasi proyek di Flores – Mataloko di Kabupaten Ngada dan Poco Leok di Kabupaten Manggarai – setelah permohonan visa jurnalis dari Forbidden Stories untuk meliputnya secara langsung ditolak oleh pemerintah Indonesia.

Dikerjakan selama beberapa bulan dengan koordinasi intens, versi Bahasa Inggris dari dua artikel liputan itu telah dirilis oleh Forbidden Stories pada 15 Januari pukul 18.00 waktu Paris. Floresa mempublikasi versi Bahasa Indonesia pada 16 Januari pukul 18.00 Wita.

Dua artikel liputan itu masing-masing fokus pada upaya pemaksaan proyek geotermal yang menjadi bagian dari ambisi pemerintah dalam agenda transisi energi, hal yang kemudian memicu tekanan terhadap warga setempat yang menentangnya dan serangan terhadap Floresa dan pihak lain yang mengkritisinya.

Serangan itu termasuk kekerasan fisik terhadap Pemimpin Redaksi Herry Kabut pada 2 Oktober 2024 dan serangan disinformasi yang melibatkan sejumlah media dan salah satu akun Facebook. 

Investigasi ini mengungkap cara PT PLN yang membayar sejumlah jurnalis untuk mendukung agendanya, yang dibuktikan dari catatan transfer dana via bank dan dokumen kontrak kerja sama. Bukti-bukti itu didapat dari seorang jurnalis yang pernah ikut dalam kerja sama tersebut.

Liputan kolaborasi ini berawal dari surat elektronik Forbidden Stories kepada Floresa pada Oktober 2024, tak lama usai kasus kekerasan terhadap Herry.

Alexander Abdelilah dari Forbidden Stories berkata, kala itu mereka tertarik untuk melihat kemungkinan menawarkan dukungan kepada Floresa demi menggali lebih dalam berita tentang proyek ini dan menyebarkannya ke seluruh dunia. 

“Kami memahami bahwa kalian tidak kekurangan keberanian,” katanya, dan Forbidden Stories ingin membawa isu ini kepada audiens internasional sekaligus membantu Floresa untuk menjalankan tahapan peliputan yang sebetulnya praktis namun bisa menjadi rumit, seperti mengirimkan pertanyaan kepada lembaga dan perusahaan.

Pernyataan Alex sejalan dengan misi Forbidden Stories sebagai media investigasi nirlaba yang selama ini mengambil pilihan unik, yakni fokus pada upaya melindungi karya jurnalis yang terancam dan meneruskan investigasi para reporter yang dibungkam.

Setelah berbulan-bulan terlibat dalam koordinasi untuk merampungkan liputan ini, Alexander berkata “sangat menyenangkan bekerja dengan tim jurnalis berbakat yang profesional dan responsif” dan “investigasi ini secara sempurna mewujudkan keutamaan jurnalisme kolaboratif.”

Sementara Floresa memiliki pengetahuan budaya yang mendalam tentang wilayah Flores, liputan-liputannya yang berani dan memiliki jaringan narasumber yang luas, kata dia, Forbidden Stories fokus pada analisis terhadap berbagai sumber informasi terbuka, analisis jaringan kampanye disinformasi dan membantu menavigasi beberapa situasi berisiko.

Forbidden Stories, katanya, “selalu siap untuk memberi tahu orang yang tepat jika terjadi sesuatu pada kalian.”

Soal agenda transisi energi yang menjadi alasan proyek geotermal, kata dia, memang ini isu mendesak yang relevan bagi setiap negara di dunia jika kita ingin mengurangi krisis iklim dan bencana dahsyat yang akan ditimbulkannya. 

“Namun, pertanyaan tentang bagaimana mencapai tujuan itu jauh lebih mendesak. Dan menekan hak-hak masyarakat adat, seperti yang terjadi di Flores, bukanlah jalan yang benar,” katanya.

Ia berkata, upaya mencari jalan keluar bagi krisis iklim mungkin berdampak baik pada komunitas lain di tempat lain, tetapi taruhanny adalah nasib warga yang yang dipaksa untuk berkorban. 

“Secara lebih luas, Forbidden Stories sangat tertarik pada berita-berita tentang lingkungan karena menurut mitra kami The Guardian, hampir 50 persen jurnalis lingkungan di seluruh dunia terancam,” katanya.

Ia berkata, liputan kolaborasi  ini sekaligus menjadi pesan kepada Indonesia dan semua musuh pers bebas di dunia: “Jika Anda mengganggu salah satu dari kami, Anda akan menemukan kami semua di jalan Anda. Mengancam pembawa pesan tidak akan membunuh pesan itu sendiri.”

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat berjalan menuju Aula Stasi Lungar untuk berdialog dengan Masyarakat Adat Poco Leok. Dalam kunjungan pada 16 Juli 2025 itu, ia dikawal ketat oleh pengawal pribadi dan sejumlah polisi yang membawa senjata laras panjang. (Dokumentasi Floresa)

Sementara Anno Susabun, jurnalis Floresa yang terlibat dalam peliputan ini menyatakan apresiasi pada pilihan Forbidden Stories untuk mengangkat isu geotermal dan berbagai polemiknya ke level internasional.

Kolaborasi dua media ini, kata Anno, tidak hanya memperkaya dari sisi jurnalisme yang membahas proyek-proyek pembangunan dan ancaman yang menyertainya bagi warga dan jurnalis, tetapi juga mengangkat ke level internasional cerita tentang bagaimana negara memperlakukan warganya sendiri.

“Kami menyambut baik ajakan Alexander dari Forbidden Stories sejak awal, terutama karena sudah cukup mengenal media itu yang sangat berani melawan pembungkaman pers, sebagaimana sudah mulai terjadi secara masif di Indonesia dan Flores saat ini,” katanya.

Dalam kasus geotermal di Flores, katanya, ancaman terhadap warga dan kerja jurnalistik sudah sering terjadi, baik yang secara langsung dan fisik maupun secara tidak langsung melalui penyebaran hoaks, disinformasi hingga kriminalisasi.

“Kami mengunjungi dan merekam situasi serta pernyataan warga di Mataloko dan Poco Leok, menemukan bahwa memang proyek yang digembar-gemborkan sebagai ‘ramah lingkungan’ sebenarnya tidak ramah bagi warga dan ruang hidup mereka,” katanya.

Tim Floresa berharap kolaborasi dengan Forbidden Stories menjadi momentum untuk memperkuat kerja-kerja jurnalistik, tetapi juga lebih penting mengamplifikasi suara warga di Flores yang sedang terancam proyek-proyek ini.

Selain Mataloko dan Poco Leok, terdapat puluhan lokasi lainnya di Flores yang sudah ditetapkan sebagai Pulau Geotermal oleh pemerintah pada 2017.

Lokasi itu antara lain Wae Sano di Manggarai Barat, Sokoria dan Lesugolo di Kabupaten Ende, serta Atadei di Lembata. Pengelola proyeknya berasal dari Badan Usaha Milik Negara seperti PT PLN dan Geodipa Energy dan perusahaan swasta seperti Grup Sinar Mas hingga grup bisnis internasional KS Orka.

Pendana proyek juga beragam, mulai dari Bank Pembangunan Jerman Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) hingga Bank Dunia.

Warga di berbagai lokasi tersebut hingga kini bertahan dalam gerakan perlawanan, dengan alasan utama kekhawatiran akan ancaman proyek bagi keberlanjutan ruang hidup, ekosistem sosial, ekonomi dan budaya mereka.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img