Floresa.co – Dua ratus orang muda dari lima paroki Fransiskan di daratan Flores berkumpul di Paroki St. Maria Ratu Para Malaikat Kurubhoko, Ngada dalam pertemuan selama empat hari, untuk memperkuat persaudaraan sekaligus komitmen untuk terlibat dalam persoalan sosial.
Mereka datang ke wilayah Keuskupan Agung Ende itu untuk saling belajar, berbagi pengalaman iman, dan memperkuat persaudaraan dalam Temu Orang Muda Katolik (OMK) Fransiskan Sedaratan Flores yang berlangsung pada 25-28 Juni.
Peserta berasal dari Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo (Nagekeo), Paroki Kristus Raja Pagal (Manggarai), Paroki St. Fransiskus Asisi Tentang (Manggarai Barat), dan Paroki St. Fransiskus Asisi Karot (Manggarai), bergabung bersama tuan rumah Paroki Kurubhoko. Setiap paroki mengutus 40 orang dalam pertemuan itu yang digelar sekali dalam dua tahun.
Dengan tema “OMK Saudara Bagi Semua,” mereka mengikuti serangkaian kegiatan yang mencakup sesi syering, doa, dan seminar.
Tema-tema seminar membahas perlindungan perempuan dan anak; peran OMK dalam kehidupan bergereja dan bernegara; dan peran orang muda dalam dunia politik.
Untuk memastikan proses saling belajar itu berlangsung secara mendalam, panitia memilih metode live in: peserta tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah umat setempat.
Ketua Dewan Harian Paroki Kurubhoko, Philipius Nerius Wese, menjelaskan bahwa pilihan ini disengaja.
“Metode live in bertujuan mempererat hubungan antarpeserta dan memperkenalkan kehidupan komunitas lokal,” katanya.
Philipius mengajak peserta memanfaatkan kesempatan itu sepenuhnya “sebagai sarana belajar budaya lokal dan praktik solidaritas Kristen.”
Ketua OMK Kurubhoko, Sergius Nggoli, mendorong setiap delegasi aktif berpartisipasi dalam seluruh sesi yang telah dirancang, dan mengimbau semangat gotong royong dijaga sepanjang kegiatan.
“Jaga nama baik paroki masing-masing melalui sikap hormat dan disiplin selama acara,” pesannya.
Dimensi spiritual pertemuan ini ditegaskan oleh Pastor Charles Lelu Umbu Sogar Ame Talu, OFM, Gardian Gardianat Rieti, sebutan untuk coordinator komunitas Fransiskan yang berkarya di wilayah Keuskupan Agung Ende.
Ia mendorong peserta tidak berhenti pada keikutsertaan formal, tetapi sungguh-sungguh menyerap nilai yang menjadi roh pertemuan ini.
“Jangan hanya mengikuti acara secara formal, tetapi internalisasikan nilai-nilai ini dalam sikap sehari-hari, selama pertemuan dan setelah kembali ke paroki masing-masing,” tegasnya.
Ia memberi contoh konkret: Orang Muda Katolik Fransiskan harus berani untuk bersuara membela orang kecil, menjadi suara bagi yang tak bersuara.
“Semangat Fransiskan bukan hanya spiritualitas di atas kertas — ia harus terlihat dalam tindakan sekecil apa pun, seperti Fransiskus yang mau merangkul orang kusta, jadilah orang muda yang berani bersuara membela orang kecil, masyarakat yang sedang punya masalah, menyambung lidah mereka” ujarnya.
OMK adalah wadah resmi pembinaan orang muda dalam Gereja Katolik, umumnya mencakup mereka yang berusia antara 13 hingga 35 tahun.
Di paroki-paroki yang berada dalam naungan Ordo Fransiskan — OFM, Ordo Fratrum Minorum — OMK juga menjadi ruang penghayatan spiritualitas Fransiskan yang bersumber dari teladan Santo Fransiskus dari Asisi. Tokoh abad ke-13 di Italia ini meninggalkan kekayaan untuk hidup dalam kemiskinan, kesederhanaan, dan pelayanan kepada sesama termasuk alam ciptaan.
Flores adalah salah satu wilayah pelayanan Fransiskan tertua di Indonesia, membuat kehadiran komunitas OFM dan jaringan OMK Fransiskan di pulau ini memiliki akar yang panjang dan kuat.
Keterlibatan Fransiskan di Flores tidak berhenti pada urusan keagamaan semata. Dalam beberapa dekade terakhir, mereka turut aktif dalam advokasi isu-isu sosial yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Mereka terlibat dalam pendampingan komunitas adat yang menghadapi ancaman penggusuran lahan akibat ekspansi proyek energi dan investasi serta menyuarakan keberatan terhadap praktik pertambangan yang merusak lingkungan.
Keterlibatan ini berakar pada prinsip teologi Fransiskan yang memandang bumi bukan sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi sewenang-wenang, melainkan sebagai ciptaan yang harus dijaga dan dibela.
Dalam konteks Flores yang tengah menghadapi tekanan pembangunan besar-besaran — dari proyek panas bumi, pertambangan hingga rencana kawasan strategis militer, suara Fransiskan kerap menjadi salah satu yang paling konsisten membela kepentingan masyarakat kecil.
Temu OMK Fransiskan Sedaratan Flores tahun ini, menurut Pastor Charles, dengan demikian, bukan sekadar reuni orang muda antarparoki.
“Ia adalah bagian dari upaya panjang untuk mewariskan semangat Fransiskan kepada generasi berikutnya, bahwa menjadi Fransiskan berarti bukan hanya berdoa, tetapi juga berpihak,” katanya.
“Saya berharap sekembalinya dari tempat ini, orang muda mau terlibat, punya keberanian untuk dengan kritis menanggapi situasi sosial, politik, terutama menghadapi tekanan proyek panas bumi, pertambangan dan kawasan strategis militer yang kebetulan ada di paroki para Fransiskan di Aeramo dan Kurubhoko”.
Laporan kontributor Guido Soru, anggota OMK Kurubhoko
Editor: Ryan Dagur



