Gizi Buruk Mengintai Anak-anak di Manggarai Timur

Data Dinas Kesehatan menunjukan tren peningkatan, meski kepala dinasnya sendiri mengklaim terjadi penurunan

Baca Juga

Floresa.co – Skolastio Mogensen sudah berusia enam tahun. Namun, ia masih terlihat seperti bayi.

Setiap hari ia harus dipangku dan digendong oleh ibunya, Emirensiana Ndese (45). Saat makan, sang ibu menyuapinya dengan bubur bercampur kuah sayur.

“Dia tidak bisa kunyah walaupun sudah tumbuh gigi. Bubur yang disuap langsung ditelan,” tutur Emirensiana, Kamis, 13 Januari 2023.

Ketika ibunya lelah atau hendak melakukan pekerjaan rumah, Tio – sapaannya – dibaringkan di atas lantai beralas tikar di rumah mereka di Wae Rana, Kelurahan Rongga Koe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Dari balik kaos lusuh yang dikenakannya, perut buncitnya terlihat menonjol.

Kaki dan tangannya memang bisa bergerak, namun tidak mampu menopang tubuhnya yang kerdil.

“Dia belum bisa duduk atau merangkak, apalagi untuk jalan,” kata Emirensiana.

Menurutnya, Tio terlahir normal meski hanya dengan bantuan dukun. Namun, bungsu dari lima bersaudara pasangan Emirensiana dan Hilarius Nggoro itu kemudian tidak bertumbuh normal layaknya anak-anak seusianya.

“Berat badan normal untuk anak usia enam tahun itu 19 sampai 20 kilogram. Tapi anak ini hanya 4 kilogram,” ujar Wolfri Yosep Daiman, Kepala Puskesmas Wae Lengga.

“Anak ini menderita marasmus atau gizi buruk,” lanjut Wolfri.

Menurut Wolfri, kondisi Tio makin parah lantaran sang ibu tak pernah ikut kegiatan Posyandu.

“Kami sarankan agar anak ini dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kami juga bekerja sama dengan pihak kelurahan, memperjuangkan agar keluarga ini mendapat bantuan BPJS,” kata Wolfri.

Emirensiana memang mengasuh sendiri anak-anaknya. Hilarius, suaminya, harus mengais rejeki di perantauan demi menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan empat anak mereka yang kini duduk di bangku SD, SMA, dan perguruan tinggi.

“Kalau mengharapkan hasil dari kebun tidak cukup untuk hidup. Apalagi untuk biaya anak yang sudah kuliah. Makanya suami terpaksa merantau. Dulu sempat rantau jadi buruh sawit di Malaysia, sekarang jadi sopir di Papua,” tutur Emirensiana.

Selain Tio, anak bertubuh kerdil lainnya di Manggarai Timur ditemukan di Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese. Ia adalah Maria Olivia Iman yang sudah berusia 3,5 tahun belum bisa berjalan.

Tubuhnya kurus, perutnya buncit. Kakinya tidak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri. Ia selalu digendong secara bergantian oleh ayahnya, Martinus Onja dan ibunya, Imelda Ndeles.

Ketika mereka lelah atau hendak bekerja, Oliv – nama anak itu – bermain sambil berbaring di lantai. Dalam posisi tubuh rebahan di lantai, Oliv menggerakkan kaki dan tangannya, berusaha merangkak.

“Oliv lahir normal dengan berat badan 2,1 kilogram. Kondisinya mulai berubah sejak berusia dua bulan dan dia sakit demam,” kata Imelda.

Setelah itu, itu, kata dia, dia mulai melihat pertumbuhan putrinya yang sudah tidak normal seperi anak lainnya.

Oliv bertahan hanya dengan ASI. Baru ketika berusia 38 bulan, ia mulai makan nasi dan sayur. Berat badannya pun perlahan meningkat meski masih jauh dari kondisi bayi normal.

Angka Meningkat, Pemerintah Klaim Turun

Tio dan Oliv hanya contoh dari banyak anak di kabupaten yang terkenal sebagai daerah penghasil kopi itu yang menderita gizi buruk.

Kepala Dinas Kesehatan dr Surip Tintin memang mengklaim bahwa jumlah kasus di wilayahnya menurun.

“Kasus gizi buruk kami tidak meningkat, stunting kita juga turun,” katanya.

Namun,menurut data dari dinas itu yang dikutip Floresa.co, jumlah kasus sebenarnya menunjukkan tren peningkatan.

Pada tahun 2021, tercatat 352 anak menderita gizi buruk di kabupaten itu. Jumlahnya meningkat menjadi 378 anak pada 2022.

Titin menjelaskan, selama ini mereka telah melakukan berbagai upaya penanggulangan kasus gizi buruk, dengan melibatkan 12 organisasi perangkat daerah.

Khusus penanganan oleh Dinas Kesehatan, jelas dia, terarah pada tujuh sasaran, mulai dari persiapan calon ibu seperti remaja putri dan calon pengantin, ibu hamil, ibu bersalin, neonatus (bayi usia di bawah 28 hari), baduta (bayi di bawah dua tahun), dan balita apras (anak pra sekolah).

Dinas Kesehatan mempersiapkan calon ibu melalui penyuluhan kesehatan reproduksi untuk remaja putri di sekolah-sekolah, membagikan obat cacing dan tablet tambah darah, serta imunisasi.

Selanjutnya, Dinkes juga bekerja sama dengan gereja-gereja untuk membina calon pengantin sambil memberikan imunisasi di gereja.

Upaya selanjutnya, terhadap ibu hamil melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), kolaborasi lintas sektor untuk penanganan ibu hamil risiko tinggi dan kekurangan energi kronis (KEK), dan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil KEK.

Dinkes juga mewajibkan ibu-ibu untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan dengan bantuan tenaga kesehatan dan bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan selama 7 hari sebelum sampai 2 hari setelah persalinan (7H2), serta merujuk ibu bersalin yang memiliki risiko.

Di sampin itu, Dinkes juga masih melakukan pemantauan terhadap bayi neonatus dan ibu nifas.

Bayi neonatus, kata dia, harus mendapatkan ASI eksklusif dan ibu nifas perlu menjalani program KB pasca persalinan. Selanjutnya untuk baduta stunting mendapatkan makanan tambahan berbahan pangan lokal, sedangkan untuk balita gizi buruk, selain makanan tambahan, juga mendapatkan kunjungan rumah.

“Itu semua rangkaian program dan kegiatan untuk penanggulangan gizi buruk dan stunting,” jelas Tintin.

Tantangan

Titin mengakui, penanganan gizi buruk di daerah itu menghadapi sejumlah kendala.

Salah satunya, kata dia, adalah koordinasi lintas sektoral yang belum optimal dan keterbatasan dana, kemiskinan dan minimnya pengetahuan orangtua.

Ia juga mengungkap makanan tambahan yang disalurkan pemerintah tidak hanya dinikmati oleh sasaran, tetapi justru lebih banyak dikonsumsi oleh anggota keluarga lainnya.

Ia menjelaskan, mereka sudah berupaya mencegah hal ini dengan pemberian makanan tambahan yang diubah dari bahan mentah ke bahan jadi.

“Dimasak baru berikan ke sasaran. Jangan bagi bahan mentah karena banyak yang makan nanti. Tidak hanya sasaran yang konsumsi [makanan itu],” katanya.

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kawan-kawan bisa berdonasi dengan cara klik di sini.

Terkini