Ruteng dan Masa Depan PMKRI

Di Ruteng, Juli ini, 88 cabang PMKRI berkumpul untuk memilih pemimpin baru. Yang lebih menentukan bukan siapa yang terpilih — melainkan apakah tradisi berpikir kritis, moral yang independen, dan keberpihakan kepada martabat manusia masih hidup setelah ruang sidang kembali lengang.

Oleh: Ferdinandus Wali Ate

Tujuh puluh sembilan tahun bukan sekadar penanda umur bagi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Angka itu menyimpan jejak panjang tentang bagaimana sebuah organisasi mahasiswa bertahan melintasi perubahan zaman.

PMKRI lahir ketika republik masih mencari bentuknya. Organisasi ini tumbuh di tengah pergantian pemerintahan, dinamika demokrasi, perubahan sosial, dan perkembangan teknologi yang mengubah hampir seluruh sendi kehidupan. Tidak banyak organisasi kemahasiswaan yang mampu menjaga kesinambungan perjalanan selama itu.

Momentum itu kembali hadir dalam Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII di Ruteng, 19–25 Juli 2026. Forum ini mempertemukan utusan dari 88 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia — dan dalam waktu dekat, jumlah itu akan bertambah menjadi 91 cabang. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa PMKRI masih menemukan tempat di hati mahasiswa Katolik dari berbagai daerah dan latar belakang.

Namun organisasi yang semakin besar juga memikul tanggung jawab yang semakin berat. Menjaga kualitas kaderisasi di puluhan cabang bukan pekerjaan sederhana. Perbedaan akses terhadap pendidikan, literatur, pendamping kader, dan jejaring intelektual adalah kenyataan yang dihadapi hampir setiap organisasi nasional. Semakin luas rumah yang dibangun, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan setiap ruangnya tetap hidup.

Kongres dan MPA di Ruteng juga hadir dalam suasana yang berbeda dibanding beberapa dekade silam. Mahasiswa kini hidup di tengah banjir informasi yang bergerak tanpa jeda. Perubahan sosial berlangsung begitu cepat. Teknologi mengubah cara orang belajar, berdiskusi, bahkan mengambil keputusan. Organisasi mahasiswa tidak lagi cukup mengandalkan cara-cara lama apabila ingin tetap memiliki pengaruh terhadap kehidupan publik.

Tradisi yang Diuji

Sejak awal berdirinya, organisasi mahasiswa dikenal sebagai ruang lahirnya gagasan. Diskusi, membaca, menulis, dan perdebatan akademik menjadi bagian dari proses pembentukan kader. Tradisi inilah yang memberi bobot moral sekaligus intelektual kepada organisasi mahasiswa. Tanpa fondasi tersebut, organisasi mudah berubah menjadi ruang yang sibuk menyelenggarakan kegiatan, tetapi miskin pemikiran.

Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru terhadap tradisi itu. Informasi kini datang dalam jumlah yang hampir tidak terbatas — mahasiswa dapat memperoleh berbagai referensi hanya melalui telepon genggam. Namun melimpahnya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman refleksi. Kecepatan sering mengalahkan ketelitian. Pendapat dibentuk oleh potongan-potongan konten yang beredar setiap hari, sementara kebiasaan membaca secara utuh semakin jarang dipelihara.

Keadaan seperti itu patut menjadi perhatian serius PMKRI. Organisasi ini memiliki sejarah panjang dalam membangun tradisi intelektual — banyak kadernya tumbuh melalui kelompok studi, forum diskusi, dan kebiasaan membaca persoalan masyarakat secara kritis. Tradisi tersebut tidak cukup dikenang sebagai romantisme organisasi. Ia perlu terus dihidupkan agar PMKRI tetap memiliki daya tawar di tengah perubahan.

Gagasan Amor et Ratio menjadi pengingat yang sederhana sekaligus mendalam: cinta dan akal budi bukan dua jalan yang saling berjauhan. Kepekaan sosial membutuhkan nalar yang jernih agar tidak berubah menjadi sikap yang semata-mata emosional. Sebaliknya, kecerdasan yang kehilangan empati mudah menjauh dari kenyataan hidup masyarakat. Organisasi kader membutuhkan keseimbangan keduanya agar keberpihakan lahir dari pemahaman yang matang, bukan sekadar dorongan sesaat.

Tradisi intelektual tidak diukur dari banyaknya seminar atau tebalnya modul kaderisasi. Ukurannya tampak dalam kebiasaan membaca kenyataan, keberanian menguji gagasan, dan kesediaan menerima perbedaan pandangan sebagai bagian dari proses belajar. Dari ruang seperti itu lahir kader yang mampu berbicara dengan argumentasi, bukan sekadar dengan keyakinan.

Moral di Era AI

Perubahan besar yang sedang berlangsung hari ini tidak hanya datang dari politik atau ekonomi. Kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Menulis, menerjemahkan, mengolah data, hingga menyusun analisis kini dapat dibantu teknologi dalam sekejap.

Perkembangan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. AI dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi ia juga berpotensi melahirkan kebiasaan instan apabila manusia berhenti mengembangkan kemampuan berpikirnya sendiri. Organisasi mahasiswa tidak dapat memusuhi teknologi, tetapi juga tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya.

Paus Leo XIV dalam ensiklik Magnifica Humanitas mengingatkan bahwa kecerdasan buatan adalah hasil kecerdasan manusia yang dapat membantu kehidupan bersama, tetapi tidak pernah dapat menggantikan hati nurani. Teknologi mampu mengolah data dan menyajikan berbagai pilihan — namun penilaian moral, tanggung jawab atas keputusan, dan keberanian membela martabat manusia tetap sepenuhnya berada di tangan manusia.

Pesan itu beriringan dengan proses kaderisasi PMKRI. Organisasi ini tidak dibangun untuk menghasilkan kader yang sekadar cepat menjawab persoalan, melainkan manusia yang mampu mempertanggungjawabkan setiap jawaban yang diucapkan. Kemampuan berpikir kritis, kejujuran intelektual, dan keberanian moral adalah kualitas yang tidak dapat digantikan oleh mesin secanggih apa pun.

Perubahan teknologi juga mengingatkan kita bahwa pembentukan karakter tetap menjadi inti pendidikan. Pengetahuan dapat dicari melalui berbagai perangkat digital, tetapi karakter tumbuh melalui perjumpaan, dialog, pengalaman hidup, dan keberanian mengakui kebenaran. Nilai-nilai itulah yang menjadi pembeda antara manusia dan teknologi.

Ruteng dan Masa Depan

Kongres dan MPA, dalam tradisi PMKRI, selalu menghadirkan harapan akan lahirnya kepemimpinan baru. Namun perjalanan organisasi tidak berhenti pada hasil pemilihan. Yang menentukan adalah kemampuan seluruh kader menjaga arah bersama setelah ruang sidang kembali lengang. Kepemimpinan berganti dari waktu ke waktu, sedangkan watak organisasi dibentuk oleh kebiasaan yang dipelihara setiap hari.

PMKRI memiliki modal sejarah yang kuat. Jaringan terus berkembang, cabang-cabang baru terus bertambah, dan kepercayaan masyarakat masih terjaga. Semua itu adalah kekayaan yang tidak dimiliki setiap organisasi kemahasiswaan. Dan kekayaan itu baru memperoleh maknanya ketika terjalin dengan kualitas kader yang mampu membaca perubahan, menjaga integritas, dan tetap berpihak kepada martabat manusia.

Ruteng dapat menjadi lebih dari sekadar tempat penyelenggaraan kongres — ia bisa dikenang sebagai titik ziarah nasional, tempat di mana setiap kader mengenali kembali arti cinta kasih dan perjuangan, dan di mana semangat itu dinyalakan ulang dalam Kongres XXXIV dan MPA XXXIII.

Dari kota itu, PMKRI memiliki kesempatan untuk meneguhkan kembali jati dirinya: sebagai organisasi kader yang merawat tradisi intelektual, menjaga independensi moral, dan berani hadir di tengah persoalan bangsa dengan gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Usia 79 tahun memberi alasan untuk bersyukur, sekaligus menghadirkan tuntutan untuk terus bertumbuh. Organisasi yang mampu bertahan selama puluhan tahun bukanlah yang sekadar menjaga warisan masa lalu — ia hidup karena sanggup belajar dari zamannya, tanpa kehilangan nilai yang menjadi alasan kelahirannya.

Di tengah perubahan yang terus bergerak, kemampuan menjaga keseimbangan antara akal budi, cinta kasih, dan tanggung jawab kepada sesama akan menentukan ke mana PMKRI melangkah pada tahun-tahun mendatang.

Ferdinandus Wali Ate adalah Pengurus Pusat PMKRI 2024–2026, Pendiri Komunitas Literasi Nusantara.

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi. Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING