Lewat Esai dan Video, Kaum Muda NTT Bersuara tentang Beragam Masalah Sosial

Lebih dari seratus mahasiswa dan pelajar menghasilkan karya dalam lomba yang digelar Floresa, dengan dukungan dari WeSpeakUp

Floresa.co – Lomba esai dan video yang digelar Floresa baru-baru ini untuk para mahasiswa dan pelajar SMA/SMK di NTT melahirkan lebih dari seratus karya, dua kali lipat dari target awal panitia.

Total 121 peserta terlibat dalam lomba bertema “Suara Kaum Muda untuk NTT” itu.

Dari jumlah tersebut, 111 di antaranya adalah mahasiswa dari berbagai kampus, baik yang berlokasi di NTT maupun di wilayah lain seluruh Indonesia. 

Untuk pelajar SMA/SMK, total 10 yang ikut dan menghasilkan lima karya video pendek.

Lomba ini didukung oleh WeSpeakUp, organisasi nirlaba dengan misi menciptakan ruang dan menghapuskan hambatan bagi perempuan dan komunitas terpinggirkan untuk bersuara dan memajukan kesetaraan.

Adriani Miming, ketua panitia, menyatakan topik esai para mahasiswa mengangkat beragam tema.

Mayoritas adalah tentang lingkungan hidup (31), disusul kekerasan terhadap perempuan dan anak (20), hukum dan korupsi (13), pariwisata dan konservasi (13), demokrasi dan kebebasan sipil (11) serta konflik agraria dan masyarakat adat (11). 

Sementara pada kategori video, masing-masing karya mengangkat isu pariwisata dan konservasi, lingkungan hidup, agraria dan masyarakat adat, Proyek Strategis Nasional dan literasi.

Adriani berkata, penyelenggaraan lomba ini merupakan bagian dari upaya Floresa membuka ruang ekspresi bagi pelajar dan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam isu-isu publik.

“Kami melihat bahwa banyak persoalan penting di NTT yang selama ini belum cukup beresonansi di kalangan kaum muda. Padahal, mereka adalah kelompok yang sangat penting dalam mendorong perubahan sosial,” katanya. 

Karena itulah, dalam lomba ini “kami mendorong peserta untuk memberi perhatian pada isu-isu itu, yang mereka pilih secara bebas sesuai minat mereka.”

“Dalam setiap karya, mereka tidak sekedar mengangkat persoalan, tetapi juga menyampaikan sikap, analisis dan gagasan untuk mencari jalan keluar,”  katanya.

Lomba ini bukan hanya soal kompetisi, “tetapi juga ruang belajar, ruang ekspresi, sekaligus medium kampanye isu-isu publik,” tambahnya.

Ia berkata, Floresa berterima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi, terutama karena jumlahnya dua kali lipat dari target awal 60 peserta.

 “Lewat setiap karya, mereka telah menunjukkan kepedulian, keberanian dan kesungguhan dalam melihat persoalan sosial di sekitar.”

Ia berharap, pengalaman mengikuti lomba ini tidak berhenti pada kompetisi semata, tetapi “peserta terus menulis, membuat video, berdiskusi dan terlibat dalam berbagai inisiatif sosial di NTT.” 

Floresa telah mengumumkan via media sosial pada 31 Januari para finalis beserta peraih juara.

Untuk esai, ada 10 finalis dan tiga di antaranya menjadi peraih juara satu sampai tiga, sementara video hanya ditetapkan tiga pemenang.

Peraih Juara I lomba esai adalah Wardania Putri Sarjan dari Universitas Flores, dengan tulisan berjudul “Beban Ekologis Ganda Ende: Ancaman Vulkanik, Krisis Sampah, dan Degradasi Tanah di Kaki Gunung Iya.”

Juara II diraih Agnes Yuniatri Ganggut dari Universitas Nusa Cendana Kupang, dengan judul Ketika Labuan Bajo Melesat, Siapa yang Tertinggal?

Marselinus Vito Bria dari Universitas Muhammadiyah Kupang meraih Juara III dengan karya berjudul Dari Hegemoni Beras ke Keberdayaan Jagung: Dekolonisasi Pangan Ala Timor.

Untuk kategori video, Juara I adalah Ignasio M. Madosani dkk, dari SMA Lentera Harapan Labuan Bajo, dengan karya berjudulLabuan Bajo: Kemajuan Pariwisata Menjadi Eksploitasi Wilayah Konservasi.

Juara II diraih Wendelina Anunu Tani dari SMAS Frater Don Bosco Lewoleba, dengan karya ber judul HIV/AIDS Ancaman Besar Bagi Lembata.

Valeria Desi Sarni dkk dari SMAN 2 Komodo, dengan karya berjudul Peduli ditetapkan sebagai juara III.

Apa Kata Dewan Juri dan Pemenang?

Dewan juri untuk lomba ini, yang masing-masing berjumlah tiga orang, berasal dari latar belakang beragam, sesuai kapasitas mereka.

Untuk esai, jurinya adalah Cypri Jehan Paju Dale, peneliti di Departemen Antropologi Universitas Wisconsin-Madison, Amerika Serikat; Ryan Dagur editor Floresa dan Mahesti Hasanah, mahasiswa doktoral Universitas Sydney Australia dan pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sementara juri kategori video adalah Benaya Harobu, anggota Tim Ekspedisi Indonesia Baru; Anno Susabun, editor Floresa dan Gheril Ngalong, Koordinator Rumah Baca Aksara yang menjadi sutradara dalam beberapa film dokumenter produksi kolektif kaum muda tersebut.

Cypri berkata, jumlah dan keragaman tema tulisan peserta menunjukkan bahwa
“NTT tidak kekurangan talenta peneliti dan penulis muda dengan minat dan kepekaan yang tinggi pada persoalan-persoalan sosial dan ekologis.” 

“Tidak mudah bagi kami menentukan yang terbaik dari 10 nominasi utama,” katanya. 

Ia berkata, sangat menggembirakan melihat anak-anak muda NTT mengembangkan kemampuan penelitian dan analisis dan belajar menulis dengan baik. 

“Semoga mereka mendapatkan kesempatan dan dukungan selayaknya di lembaga-lembaga pendidikan kita dan di komunitas-komunitas literasi dan gerakan sosial di manapun mereka berada,” katanya. 

Sementara Benaya berkata, “kawan-kawan yang masih muda ini berhasil merangkai keberanian menjadi sebuah karya kritis yang sarat akan pengetahuan, seperti halnya isu pariwisata yang mungkin jarang ada contohnya dalam media mainstream hari ini.”

Dari segi isi, katanya, sebagian besar disampaikan dengan cukup rapi dan pesannya dapat diterima dengan baik.

Namun, jurnalis sekaligus videografer asal Sumba ini yang juga salah satu penulis buku Reset Indonesia, memberi catatan pada aspek teknis. 

“Kualitas alat perekaman video dan originalitas video masih harus diverifikasi lebih jauh. Catatan teknis lainnya adalah kualitas audio, editing dan scoring yang masih perlu diasah,” katanya.

Kendati demikian, ia percaya kualitas akan terus meningkat seiring dengan kuantitas karya.

Wardania Putri Sarjan, peraih juara I lomba esai berkata “saya sangat bersyukur dan terhormat atas apresiasi yang diberikan oleh panitia.”

Lomba ini “bukan sekadar kompetisi akademik, melainkan sebuah ruang yang sangat berharga bagi kami kaum muda NTT untuk menyuarakan keresahan terhadap isu-isu krusial di sekitar.” 

“Melalui esai ini, saya mencoba menyoroti kerentanan ekologis di kaki Gunung Iya dan kemenangan ini menunjukkan bahwa isu lingkungan serta keselamatan warga Ende memang mendapatkan perhatian yang serius,” kata Wardania.

“Saya terkesan dengan integritas panitia dalam memilih tulisan yang berbasis pada kegelisahan lokal, namun tetap dengan pendekatan riset yang mendalam,” tambahnya. 

Ia berharap, gagasan-gagasan yang dituangkan oleh seluruh peserta dalam lomba ini tidak hanya berhenti di atas kertas atau menjadi arsip semata, melainkan menjadi bahan pertimbangan para pengambilan kebijakan. 

Ia juga berharap perlombaan serupa terus diadakan secara konsisten untuk memupuk daya kritis kaum muda NTT.

Dengan demikian “kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi agen perubahan yang solutif bagi daerah kita sendiri.”

Indikator Tumbuhnya Kesadaran Sosial

Mathilde Hutagoal, Community Engagement and Learning WeSpeakUp berkata, antusiasme peserta yang melampaui target awal panitia adalah sinyal kuat bahwa kaum muda di NTT memiliki “kepekaan terhadap persoalan struktural yang nyata di sekitar mereka.”

“Hal ini juga menunjukan bahwa ketika ruang aman dan relevan disediakan, kaum muda tidak ragu bersuara,” katanya.

Bagi WeSpeakUp, antusiasme peserta menjadi “indikator tumbuhnya kesadaran sosial dan keberanian berekspresi di NTT secara lebih luas.”

“Partisipasi dalam lomba ini menjadi titik awal lahirnya generasi muda NTT yang semakin sadar konteks sosialnya, berani bersikap dan mampu menggunakan tulisan maupun video sebagai medium advokasi publik,” katanya. 

Ia berkata, para peserta diharapkan tidak berhenti pada kompetisi ini, tetapi terus terlibat dalam diskursus publik, membangun jejaring lintas kampus dan sekolah, serta mengambil peran aktif dalam mengawal isu-isu tersebut secara konsisten.

“WeSpeakUp mendorong para peserta untuk terus mengasah kemampuan berpikir kritis, menulis, dan bercerita sebagai alat advokasi, serta membangun jejaring lintas kampus dan komunitas,” tambahnya.

Suara anak muda di NTT, kata Mathilde, penting untuk memastikan pembangunan berjalan adil, berpihak pada lingkungan, kelompok rentan dan masyarakat adat. 

“Kami percaya bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika generasi muda berani terlibat, konsisten bersuara dan terhubung satu sama lain,” katanya. 

WeSpeakUp mengapresiasi Floresa yang lewat lomba telah memfasilitasi ruang ekspresi yang kredibel dan aman bagi kaum muda.

“Sebagai media independen, Floresa memainkan peran strategis, bukan hanya sebagai penyelenggara lomba, tetapi sebagai ekosistem yang memungkinkan karya-karya muda ini dipublikasikan, didiskusikan dan menjadi bagian dari advokasi publik yang lebih luas,” katanya.

Ia berharap, kolaborasi antara komunitas muda dan Floresa dapat berkelanjutan, baik melalui publikasi rutin, penguatan literasi kritis, maupun inisiatif bersama lainnya. 

Dengan demikian, “ruang partisipasi yang telah dibuka melalui kompetisi ini dapat terus tumbuh dan memberi dampak jangka panjang bagi demokrasi lokal di Flores dan NTT.”

Para pemenang lomba ini mendapat hadiah uang tunai, sementara semua finalis mendapat merchandise. 

Seluruh naskah finalis esai saat ini sedang dikurasi editor Floresa dan akan ditayangkan di KoLiterAksi, kanal yang secara khusus didedikasikan untuk artikel terkait isu pendidikan di NTT. 

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA