Dua Tahun Manfaatkan Potensi Pangan Lokal, Yayasan di Manggarai Barat Bakal Bukukan Cerita Kaum Muda

Buku tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kaum muda tentang pentingnya menjaga kelestarian pangan lokal dan lingkungan

Floresa.co – Salah satu organisasi nirlaba di Kabupaten Manggarai Barat bakal membukukan cerita kaum muda yang selama dua tahun terakhir memanfaatkan potensi pangan lokal.

Buku itu bakal memuat tulisan dari kaum muda yang berasal dari 10 desa di Kecamatan Komodo, Sano Nggoang dan Mbeliling tentang pengalaman mereka mengembangkan potensi pangan lokal di wilayah masing-masing.

Tulisan-tulisan itu yang bertema “Cerita-Cerita Baik Anak Muda” dipresentasikan kaum muda di Aula Green Prundi Hotel, Labuan Bajo pada 13 September. 

Kegiatan itu diinisiasi Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) yang fokus mengadvokasi isu pangan, termasuk mendampingi kaum muda di Manggarai Barat sejak 2023. 

Dalam kegiatan itu, kaum muda mempresentasikan tulisan masing-masing yang secara umum bercerita tentang pengalaman mereka selama memanfaatkan dan mengembangkan potensi pangan lokal.

Fitriatun Nisa, pemuda dari Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo menjelaskan tulisan kelompoknya berisi tentang cara mereka mengolah loger, salah satu jenis siput yang “sudah lama dilupakan masyarakat.”

Ia menyebut loger banyak ditemukan di rawa-rawa.

Ia mengaku kelompoknya mengolah loger karena rasanya yang enak dan merupakan salah satu menu makanan tradisional nenek moyang. 

“Mengolah loger menjadi lauk cukup membantu masyarakat Golo Bilas untuk menekan biaya karena mahalnya harga ikan dan daging di Labuan Bajo,” katanya. 

Sementara Rofina Lia Foa mengaku ia bersama 11 rekannya di Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo membentuk komunitas yang dinamai Ca Nai. 

Ia menjelaskan Ca Nai merupakan istilah dalam Bahasa Manggarai yang berarti “satu hati.”

Rofina berkata, komunitasnya memilih bergerak di bidang pertanian dengan menanam aneka sayur, seperti sawi, terong, pare, timun dan kacang panjang. 

Pilihan itu, kata dia, didasari oleh kenyataan bahwa kebutuhan sayur-mayur di Labuan Bajo terus meningkat. 

Ia berkata, komunitasnya juga aktif mengkampanyekan konsumsi tanaman herbal sebagai obat tradisional, salah satunya rempa pake.

Rempa pake merupakan jenis tumbuhan yang bisa menyembuhkan penyakit dalam, seperti infeksi saluran kencing. 

“Tumbuhan yang menyerupai jari katak itu juga bisa mempercepat proses pemulihan pasca bersalin,” katanya. 

Bakal Dibukukan

Koordinator Program Yakines, Ferdinandus M. Manu berkata, tulisan-tulisan tersebut rencananya akan dibukukan dan akan diberikan ke sepuluh desa sehingga masyarakat bisa mengaksesnya dengan mudah.

Buku tersebut, katanya, akan menceritakan tentang semangat anak muda dalam berbagai aktivitas, terutama dalam mengangkat isu pangan dan lingkungan. 

“Secara umum, (tulisan) lebih banyak mengangkat isu pangan, terutama bagaimana anak-anak muda memanfaatkan dan mengembangkan potensi pangan lokal yang ada di sekitar mereka,” katanya. 

Ferdinandus berkata, hal tersebut bisa menjadi salah satu model wirausaha bagi kaum muda untuk mendukung masa depan mereka yang lebih baik. 

Pangan lokal, kata dia, penting untuk diangkat kembali karena memiliki potensi perekonomian serta demi pelestariannya. 

Ia mengklaim tulisan tersebut menjadi menarik karena menyajikan “semangat anak-anak muda mengangkat kembali potensi lokal yang telah lama diwariskan orang tua.”

“Tulisan-tulisan ini juga ingin mengatakan kepada banyak orang bahwa anak muda punya andil dalam pembangunan, terlebih soal pemberdayaan,” katanya.

“Melalui buku tersebut, kami ingin berpesan kepada anak muda tentang pentingnya berwirausaha,” tambahnya.

Menurut Ferdinandus, kaum muda harus banyak didengar dan diberi ruang untuk mengekspresikan diri mereka, terutama tentang masa depan pemenuhan pangan di Labuan Bajo. 

Ia berharap buku tersebut dapat meningkatkan kesadaran kaum muda di Kabupaten Manggarai Barat tentang pentingnya menjaga kelestarian pangan lokal dan lingkungan. 

Ferdinandus mengapresiasi semangat para pemuda dari sepuluh desa itu yang telah memanfaatkan dan mengembangkan potensi pangan lokal selama dua tahun terakhir.

Saat memulai pada 2023, kata dia, banyak komentar yang meragukan niat kaum muda dalam pengembangan pangan lokal.

Keraguan itu muncul karena “banyak orang muda yang sudah tidak tertarik untuk bergerak di bidang pertanian.”

“Namun, kami tetap optimis. Kami mencoba mendekati orang muda secara langsung. Kami menyajikan model belajar yang menyenangkan dengan lebih banyak mendengarkan apa yang mereka inginkan,” katanya.

“Cara seperti itu akan menarik minat anak muda untuk bergabung,” tambahnya.

Ferdinandus menyebut kaum muda dari sepuluh desa tersebut sudah memiliki satu komunitas bernama Lino Tana Dite

“Komunitas ini menjadi rumah bersama untuk berbagi dan mewujudkan mimpi bersama,” katanya.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img