07.00 am

Pak Joko atau lebih tepat disebut penjahat Joko sedang menyeruput kopi bersama sejumlah body guard-nya. Sejumlah pengunjung telah menduduki beberapa tempat di dalam kedai kopi.

Sepasang muda-mudi, tampaknya pelajar pada sebuah perguruan tinggi di dekat sini sejenak menyeruput kopi sebelum beranjak menuju kampus.

Beberapa turis asing dengan aksen bicara yang asing juga turut menjajal kenikmatan kopi Starbucks.

Sekarang adalah waktu menuntaskan misi. Aku menguatkan hati. Arif yang duduk tak jauh dari pak Joko tampak berdiri.

Pekik nyaring peluru keluar dari revolver panjang di tangannya, membahana di dalam kedai kopi.

Semua yang berada di dalam kedai kopi menggigir ketakutan. Arif kini telah sampai di meja tempat pak Joko duduk. Lekas, dia mampu menguasai keadaan. Awal yang baik menurutku. Aku tetap diam di tempatku tanpa sedikit menyentuhkan bibirku pada mulut cangkir.

“Setiap orang di kedai kopi ini, selain daripada orang yang sedang saya todong sekarang, segera keluar dari sini”. Arif memberi ultimatum. Sontak, semua penikmat kopi termasuk pelayan di kedai kopi Starbucks pun keluar.

Arif kini menodongkan revolvernya tepat pada dahi pak Joko, sambil sumpah serapah keluar dari mulutnya.

“Penjahat. Koruptor. Pembunuh. Perusak. Engkau akan mencapai ajalmu”.

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA