Sebuah peluru melejut keluar dan menembus bahu kanan pak joko.

Berdasarkan skema, Arif akan menembakan sebuah peluru lagi tepat di jantung pak Joko, sebelum kemudian aku akan meledakan bom yang akan menghabisi kami bertiga.

Arif memberi aba-aba, menyuruh aku menuntaskan bagianku.

Saat kami hampir tiba.

Janji bapak pembaharuan kini kembali bergulir di kepalaku. Aku hanya perlu melakukan pembunuhan suci ini. Aku beranjak berdiri, tangan kiriku bergerak meraih tas berisi bom peledak skala kecil namun ampuh menghancurkan kami bertiga.

Aku membayangkan jiwaku melayang-layang menuju dunia baru yang menjanjikan kebahagiaan purna setelah ledakan itu.

Aku baru beranjak beberapa langkah ketika bunyi peluru kembali menyalak.

Belum waktunya Arif menembak.

Peluru itu tidak berasal dari revolver yang dipegang Arif. Justru raga Arif yang telah roboh oleh sebuah peluru. Arif pun jatuh bersimbah darah di samping pak Joko yang berdiri ketakutan. Aku berusaha menenangkan diri di tengah situasi mencekam tak terbayangklan.

Aku harus lebih tangkas sebelum peluru lain merobohkan aku.

Aku perlu bergerak lebih tangkas sekaligus tenang sekarang. Mengeluarkan isi tasku dan menuntaskan misi yang sedikit terganggu.

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA