Floresa.co – Perpustakaan Daerah Kabupaten Manggarai Barat sepi pengunjung saat Floresa mengunjunginya pada 9-11 Juli.
Hanya ada tiga pegawai dan empat orang siswa SMK yang sedang magang di perpustakaan itu.
“Belum ada yang ke sini,” kata salah satu siswa.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Manggarai Barat, Augustinus Rinus mengklaim perpustakan itu “sepi karena sekolah-sekolah masih libur.”
Perpustakaan dengan predikat Akreditasi C itu dibangun dengan anggaran Rp10 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus tahun 2022.
Sejak diresmikan pada 15 Februari 2023, hampir semua pengunjung perpustakaan yang berlokasi di Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo itu adalah pelajar.
Nyaris tak ada warga dari latar belakang lain yang berkunjung, termasuk Aparatur Sipil Negara dan anggota DPRD, kata Augutstinus..
Karena itu, katanya, “kalau libur memang terlihat sepi.”
Augustinus mengklaim ada tren positif kunjungan dari 2.000 pada 2024 menjadi lebih dari 3.000 kunjungan pada tahun ini.
Keberadaan Perpustakaan Daerah, kata dia, kemudian mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Manggarai Barat.
Saat ini, IPLM kabupaten itu berada pada kategori “sedang” dengan nilai 53,54, meningkat hampir dua kali lipat dari 28,50 pada 2023.
“Posisi ini menempatkan Manggarai Barat pada peringkat ke-8 dari seluruh kabupaten/kota di NTT,” kata Augustinus.
Indeks Tingkat Gemar Membaca (TGM) yang dirilis Perpustakaan Nasional juga menempatkan Manggarai Barat pada predikat “sedang” dengan nilai 65,50.
Kabupaten itu pun berada pada peringkat ke-10 se-NTT.

‘Jemput Bola’
Kendati ada peningkatan, namun masih butuh banyak upaya meningkatkan budaya baca warga, kata Augustinus.
Apalagi, pengunjung perpustakaan daerah hanya pelajar dari sekolah-sekolah di Labuan Bajo.
Di sisi lain, kondisi Sumber Daya Manusia di Manggarai Barat memprihatinkan. Ia mencontohkan 52% angkatan kerja yang berijazah SD.
Karena itu, pemerintah daerah membuat strategi ‘jemput bola’ untuk meningkatkan literasi dan minat baca.
Salah satunya melalui program perpustakaan keliling untuk menjangkau sekolah-sekolah dari tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK di 12 kecamatan.
Saat ini, tersedia tiga unit mobil perpustakaan keliling. Satu mobil untuk beroperasi di Labuan Bajo, sementara dua lainnya ke sekolah-sekolah di wilayah luar Labuan Bajo.
Fasilitas itu masih terbatas karena anggaran yang tidak memadai, sehingga jangkauan program itu masih terbatas.
“Semua sekolah di kecamatan itu masih belum terjangkau,” kata Augustinus.
Selain menyediakan perpustakaan keliling, strategi lain adalah menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi.
Augustinus berkata, pihaknya sudah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Politeknik eLBajo Commodus.
Kerja sama itu dalam rangka menyiapkan literatur berkaitan dengan tema kepariwisataan.
Ke depan, kata dia, kerja sama juga dilakukan dengan sekolah-sekolah.
“Untuk SMP dan SMA/SMK, kami dorong tahun ini,” katanya.
Ia berkata, dinasnya juga mendata perpustakaan berbasis wilayah untuk kerja sama. Hingga kini terdapat terdapat 15 perpustakaan desa dan taman baca yang sudah terdata.
“Kami coba data semua, baik itu jumlah perpustakaan, jumlah anggota perpustakaan, jumlah kunjungan dan koleksi,” katanya.
Perpustakaan Daerah juga menjalankan program inklusi sosial yang dimulai di Bukit Porang, Kecamatan Ndoso.
Dalam program itu dinasnya mendukung UMKM di desa-desa dengan literatur yang relevan.
Dengan demikian “pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas melalui literasi pengembangan UMKM,” katanya.
Dengan sejumlah program ini, kata Augustinus, dinasnya mendorong akreditasi perpustakaan ini naik ke B.
Di sisi lain, kata dia, tantangan yang mesti diatasi Perpustakaan Daerah adalah keterbatasan koleksi buku dan minimnya tenaga pustakawan.
“Hingga kini, belum ada pustakawan murni; yang tersedia hanyalah pegawai dengan penyetaraan jabatan fungsional pustakawan,” katanya.
Editor: Petrus Dabu