Lewat Pertanian, Keuskupan Labuan Bajo Dorong Umat Tangkap Peluang Ekonomi Pariwisata

Keuskupan menginisiasi pembuatan kebun contoh untuk tanaman hortikultura sembari mulai memetakan potensi di paroki-paroki, menargetkan bisa memasok sayur untuk hotel dan restoran di kota pariwisata super-premium

Floresa.coStanis Madur dan seorang rekannya sedang menggembur tanah di salah satu lahan milik Gereja Katolik di pinggiran Labuan Bajo pada 14 Agustus siang.

Berhenti sejenak dari aktivitasnya, pria berusia 64 itu berkata kepada Floresa, “berbagai macam sayur ada di sini.”

“Kami tanam selada romaine, selada air, pakcoy dan tomat,” kata Stanis, dengan tangan menunjuk bedeng-bedeng sayur yang sebagiannya sudah hampir panen.

Berlokasi di belakang Gereja Stasi Merombok, Desa Golo Bilas, lahan itu berjarak sekitar 7,3 kilometer arah timur kota pariwisata super-premium Labuan Bajo.

Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Labuan Bajo sedang berupaya menjadikan lahan yang masuk Paroki Roh Kudus Labuan Bajo itu sebagai kebun contoh untuk pengembangan tanaman hortikultura.

Stanis berkata, mereka mulai menggarapnya sejak Juni, setelah sebelumnya dalam keadaan telantar dengan rumput tebal nan tinggi. 

“Sekarang baru agak bagus. Setelah bersih dan gembur, kami mulai tanam awal Juli,” tambah warga Kampung Kaper, Desa Golo Bilas itu. 

Bibit-bibit sayur dibeli di salah satu toko pertanian di Labuan Bajo, ada juga yang didatangkan dari Bogor, Jawa Barat. 

“Semuanya menggunakan pupuk organik,” kata Stanis, 64 tahun.

Luas lahan yang akan digarap dua hektare. Namun, pantauan Floresa, baru seperempat yang sudah dikelola.

Tanaman di setiap bedeng tampak ditutup mulsa, plastik yang berfungsi melindungi tanaman dan menghambat pertumbuhan gulma.

Keuskupan Labuan Bajo telah menggelar acara panen perdana sayur dari kebun itu pada 9 Agustus.

Dalam acara itu, Uskup Maksimus Regus hadir bersama Wakil Bupati Yulianus Weng. Mereka memanen beragam jenis sayur, seperti selada dan pakcoy.

Panen perdana sayur dari kebun di Merombok pada 9 Agustus 2025 yang dihadiri Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng. (Dokumentasi Floresa)

Ketua Komisi PSE Keuskupan Labuan, Romo Yuvens Rugi berkata, kebun itu dirancang sebagai lokasi untuk pembelajaran atau pilot project pengembangan hortikultura. 

“Nanti para petani dari paroki-paroki bisa datang sambil belajar ke kebun ini,” katanya kepada Floresa.

Ia berkata, untuk pengembangan awal mereka bekerja sama dengan Yayasan Mitra Organik. Yayasan itu menjalani program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Astra International Tbk, perusahaan yang bergerak di industri otomotif.

Romo Yuvens berkata, keuskupan memang memiliki keterbatasan, terutama dari segi dana sehingga “kami minta orang lain untuk membantu pada tahap awal, salah satunya dari Astra.”

Setelah Yayasan Mitra Organik menuntaskan program berjangka waktu tiga tahun itu dan lahan sudah dibentuk, pengelolaannya akan secara penuh ditangani keuskupan.

Ia berkata, yayasan tidak memberi bantuan dalam bentuk dana, tetapi untuk pengolahan lahan, pengadaan bibit dan menggaji para pekerja yang setiap hari merawat kebun tersebut.

Menjemput Peluang di Tengah Geliat Pariwisata

Program pemberdayaan ekonomi umat sejalan dengan komitmen Keuskupan Labuan Bajo yang ingin membantu warga lokal di tengah geliat industri pariwisata, kata Romo Yuvens.

Keuskupan itu baru terbentuk pada tahun lalu, setelah mekar dari induknya Keuskupan Ruteng. 

Terdiri dari 26 paroki, Keuskupan Labuan Bajo mencakup seluruh wilayah administratif Kabupaten Manggarai Barat. Jumlah umatnya sekitar 215.270 jiwa per 2024, yang mencakup 78% dari total populasi 275.903 jiwa.

Dalam sejumlah pernyataan publiknya, Uskup Maksimus berulang kali mengingatkan pentingnya pariwisata Labuan Bajo membawa manfaat bagi masyarakat lokal.

Terbaru, saat membuka Festival Golo Koe 2025, ia menekankan pariwisata yang inklusif.

Ia juga mengkritik dominasi mereka “yang memiliki modal tanpa batas” dan pola pengembangan pariwisata yang eksploitatif, mengibaratkannya sebagai upaya  menjadikan Labuan Bajo “kuburan bagi generasi masa depan.” 

Sementara dalam Surat Gembala Paskah tahun ini, ia menyoroti pariwisata yang hanya dapat berkembang jika didukung oleh ekosistem yang sehat dan berkelanjutan. 

Sebagai pintu masuk ke Taman Nasional Komodo yang menjadi Situs Warisan Dunia dan habitat alami bagi kadal raksasa komodo, Labuan Bajo memang menjadi sasaran target pembangunan oleh pemerintah dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Selama masa Pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014-2024), pemerintah menggelontorkan sekitar 5 triliun rupiah untuk pembangunan berbagai infrastruktur, termasuk jalan, berbagai gedung dan pelabuhan. Bersamaan dengan itu, berbagai hotel dan resor menjamur.

Namun, di tengah perkembangan ini, kritik selalu muncul pada model pembangunan pariwisata yang hanya menguntung investor dan kelompok bermodal besar, dengan perhatian minim pada warga lokal yang mayoritas petani. 

Pembangunan pun hanya dominan menyasar Labuan Bajo, bukan Manggarai Barat secara keseluruhan.

Hal itu membuat kabupaten itu tetap mencatat tingkat kemiskinan 16,74% (2024),  dua kali lipat dari rata-rata nasional 8,47%. 

Kondisi ini terjadi di tengah klaim pertumbuhan ekonomi 4,93 persen pada tahun lalu, sebagaimana yang dipaparkan Bupati Edistasius Endi saat pidato menyambut HUT RI pada 17 Agustus tahun ini.

Sayur Didatangkan dari Luar Labuan Bajo

Dengan mayoritas warga sebagai petani, salah satu soal yang sering muncul adalah pasokan sayur dan buah-buahan yang masih berasal dari luar Manggarai Barat, baik untuk kebutuhan warga maupun untuk hotel-hotel dan resor.

Pada 2022, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat merilis data soal kebutuhan sayur-sayuran hotel dan restoran rata-rata 4,68 ton setiap hari dan 140,25 ton per bulan, yang hampir semuanya dipasok dari daerah lain.

Ditemui Floresa di kantornya pada 15 Agustus, Laurensius Halu, kepala dinas itu tidak merinci berapa kebutuhan yang saat ini bisa dipenuhi warga Manggarai Barat.

Ia hanya berkata bahwa pasokannya berasal dari petani di Kabupaten Manggarai Barat, juga dari dua kabupaten tetangga-Manggarai dan Manggarai Timur- “dan dari daerah lainnya.” 

Ia juga mengklaim ketersediaan pangan dan sayur di Labuan Bajo saat ini “masih terbilang cukup.”

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat, Laurensius Halu. (Dokumentasi Floresa)

Ia menjelaskan, hingga 2025 terdapat 1.850 kelompok tani yang tersebar di seluruh wilayah Manggarai Barat, namun tidak merinci berapa yang aktif dan rutin memasok sayur ke Labuan Bajo.

Ia berkata, kini dinasnya memprioritaskan program peningkatan intensifikasi pada sektor pertanian dengan target “supaya pangan di Manggarai Barat selalu tersedia secara kontinu dan secara kualitas (terjamin).” 

“Pupuk, benih, pengendalian hama dan pendampingan kami disediakan,” katanya. 

Namun, ia mengakui hal itu butuh kolaborasi dengan pihak lain, termasuk gereja.

Ia mengklaim mendukung program keuskupan dengan memfasilitasi traktor untuk pengolahan lahan.

Soal pasokan sayur yang dominan dari daerah lain diakui Maria Wulandari, seorang pedagang sayur di pasar tradisional Batu Cermin, Labuan Bajo.

Ia berkata kepada Floresa, sejumlah jenis sayur di lapaknya mayoritas dipasok dari Sape, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Bajawa, Kabupaten Ngada. 

Sayur yang dipasok dari Bajawa adalah kol, picay, labu dan tomat, sementara cabai dari Sape. 

Hanya bayam dan sawi yang didapat dari petani di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, katanya.

Romo Yuvens Rugi menyadari soal tingginya kebutuhan sayur di Labuan Bajo yang saat ini belum bisa dipenuhi oleh warga setempat.

Karena itu, kata dia, muara dari program keuskupan adalah “untuk menjawab kebutuhan ini.”

Melalui program tersebut “petani lokal dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen mereka untuk memenuhi kebutuhan pasar.” 

Maria Wulandari, seorang pedagang sayur di pasar tradisional Batu Cermin, Labuan Bajo. (Dokumentasi Floresa)

Gerakan Hingga Paroki-Paroki

Selain di Merombok, kata Romo Yuvens, program pemberdayaan juga menyasar paroki-paroki yang secara “perlahan memanfaatkan lahan tidur.”

Fokus program setiap paroki berbeda-beda yang disesuaikan dengan hasil pemetaan potensi masing-masing wilayah, katanya.

Beberapa di antaranya adalah di Paroki Santo Yohanes Don Bosco Gerak yang aktif memproduksi sayur-sayuran organik.

Di Paroki Santo Kristoforus Waning, kata dia, fokusnya adalah mengembangkan  kopi dan di Paroki Santa Teresia Kalkuta Datak pada pengembangan jagung.

Selain itu, di Paroki Santo Yosef Pekerja Lengko Cepang didedikasikan sebagai paroki sorgum karena banyak warga yang rutin memproduksi pangan lokal itu.

Wilayah lainnya yang mengembangkan hortikultura adalah Stasi Indrong di Paroki St. Maria Penghibur Orang Berduka Cita Rekas dan di Wae Bangka, Paroki Santa Familia Wae Nakeng. 

Salah satu paroki yang telah merasakan dampak dari program pemberdayaan ini adalah Paroki Gerak yang berada di wilayah Kecamatan Boleng. 

Paroki itu mencakup empat stasi-Gerak, Kokor, Merawang dan Rareng-dengan jumlah umat mencapai 1.333 jiwa.

Umat paroki itu telah melakukan panen perdana sayur pakcoy awal bulan ini dan menjualnya selama Festival Golo Koe 2025 pada 10-15 Agustus. 

Ditemui Floresa pada 15 Agustus, Pastor Paroki Gerak, Petrus Tukan, SDB berkata, selama festival 1.000 batang sayur pakcoy hasil panen perdana mereka laku terjual dengan harga Rp10.000 per batang.

Ia berkata, gerakan pertanian hortikultura di parokinya muncul karena terdapat lahan satu hektare yang ngganggur dan tersedia air yang cukup.

Karena itu, setelah mendapat suntikan modal Rp30,6 juta dari bantuan Komisi PSE Konferensi Waligereja Indonesia, mereka memulainya.

“Tenaga kerjanya Orang Muda Katolik dan umat paroki lainnya,” katanya.

Ia berkata, saat itu belum semua lahan itu dimanfaatkan dan mereka hendak mengelola semuanya.

Pater Petrus berkata, ia menggerakkan umatnya agar mengikuti contoh tersebut, termasuk menanam sayur di pekarangan mereka dan “paroki bersedia siapkan bibit.”

Senada dengan Romo Yuvens, ia berkata, dengan membuka usaha hortikultura umat bisa merebut peluang ekonomi pariwisata di Labuan Bajo. 

Selain menjual dalam momen insidental seperti festival, katanya, paroki juga akan “membuat semacam survei di hotel-hotel, kira-kira apa saja jenis sayur yang dibutuhkan.”

“Jenis (sayur) itu yang kemudian umat bisa tanam,” katanya. 

Selain pengembangan pertanian hortikultura, Paroki Gerak, kata dia, juga berencana mengembangkan usaha perikanan dan peternakan di lahan paroki lainnya seluas delapan hektare. 

Butuh Kolaborasi

Romo Yuvens berkata, lewat program pengembangan pertanian, keuskupan juga hendak menegaskan bahwa “gereja tidak hanya berpikir tentang altar,” merujuk pada urusan-urusan seputar liturgi.

Gereja, “juga berpihak pada pasar,” istilahnya untuk menekankan peran gereja dalam kehidupan ekonomi umat.

Romo Yuvens Rugi, Ketua Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi Keuskupan Labuan Bajo. (Dokumentasi Floresa)

Namun, katanya, pelaksanaan dan keberlanjutan program ini amat tergantung pada komitmen semua pihak di dalam institusi keuskupan, juga kolaborasi dengan paroki dan semua umat.

Komisi PSE, baik di level paroki maupun keuskupan hanya “menjadi penggerak awal, baik dengan memotivasi umat, maupun ikut menanam di lahan paroki,” katanya.

Penegasannya soal pentingnya kolaborasi muncul karena belum semua paroki mulai bergerak menyukseskan program ini.

“Ada yang sudah berjalan, namun ada juga yang masih tahap konsep,” katanya. 

Laporan ini dikerjakan oleh Doroteus Hartono dan Venansius Darung

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img