Pergub Jam Belajar NTT, Sebuah Jeda Kemanusiaan

Pergub ini merupakan gerakan moral untuk merebut kembali masa depan anak-anak NTT dari penjara algoritma dan paparan budaya populer yang bisa merusak

Oleh: Irvan Kurniawan

Suatu sore saya melihat anak saya yang berumur lima tahun duduk terpaku, matanya terkunci pada layar gawai. Jari-jarinya, yang seharusnya belajar merangkai kata atau menggenggam pensil, terlatih untuk satu hal: menggulir tanpa henti.

Di dalam dunianya yang sunyi, ia bicara sendiri, tertawa sendiri melihat video lucu, lalu tiba-tiba marah dan membanting barang-barang lantaran kalah dalam duel sengit Free Fire atau PUBG.

Ia tenggelam dalam aktivitasnya di depan layar gawai. Ia bisa tertawa, tapi bisa berubah sekejap menjadi sedih, bahkan marah.

Anda sendiri juga mungkin pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri hal demikian. Saat jari jemari sudah lincah menari di atas layar, satu video, satu gambar, satu status, terus bergulir tanpa henti.

Waktu seakan lenyap, terhisap ke dalam lubang hitam digital. Tanpa sadar, kepala terasa penat, konsentrasi menguap dan sebuah rasa hampa yang aneh tiba-tiba menyergap.

Bagi otak orang dewasa, paparan konten digital dangkal sudah cukup merusak. Namun, bagi otak anak-anak dan remaja, yang berada dalam fase perkembangan emas (golden age), dampaknya bisa katastrofal.

Otak mereka, ibarat tanah liat basah, sedang dibentuk bukan oleh perenungan, imajinasi atau interaksi manusia, melainkan oleh algoritma yang dirancang untuk satu tujuan: kecanduan!

Kita sedang berisiko mencetak generasi yang secara neurologis terbiasa dengan rangsangan instan, yang jalur sarafnya lebih terlatih untuk merespons notifikasi dan video pendek ketimbang mencerna paragraf panjang.

Mereka sedang digiring menjadi generasi yang mahir mengonsumsi, namun gagap dalam berkreasi. Inilah esensi dari lost generation di abad ke-21. Ini bahaya.

Pembusukan Otak

Pengalaman yang saya, dan mungkin juga Anda alami ini, adalah gema dari sebuah ancaman senyap di era digital: brain rot atau pembusukan otak.

Istilah ini memang bukan diagnosis medis resmi, namun ia melukiskan dengan sempurna sebuah kondisi nyata: kemunduran perlahan kemampuan kognitif kita akibat paparan konten digital yang dangkal, instan dan berlebihan.

Bayangkan otak kita seperti sebuah otot. Dulu, “otot” ini kita latih dengan membaca buku, merenung atau berdiskusi mendalam.

Kini, kita membiasakannya dengan sprint-sprint pendek—video 15 detik, judul berita bombastis dan rentetan gambar tanpa konteks.

Setiap like, komentar atau video baru yang muncul adalah suntikan dopamin, hormon kebahagiaan instan yang membuat kita ketagihan.

Neurolog dan penulis buku The Shallows, Nicholas Carr, memperingatkan bahwa internet secara fisik dapat “memprogram ulang” sirkuit saraf kita, mendorong kita untuk memprioritaskan informasi cepat dan mengorbankan kapasitas untuk konsentrasi dan pemikiran mendalam.

Menurutnya, jalur saraf untuk berpikir kritis perlahan tertidur, sementara jalur untuk gratifikasi instan menjadi jalan tol yang ramai.

Darurat Literasi di Tanah Flobamora

Sekarang, bayangkan jika brain rot ini menyerang generasi paling rentan: anak-anak dan remaja kita.

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ancaman ini berlipat ganda.

Di satu sisi, gawai telah menjadi “pengasuh digital” bagi banyak anak. Di sisi lain, provinsi ini sedang menghadapi tantangan literasi yang serius.

Rapor pendidikan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2023 mencatat kemampuan literasi dan numerasi di NTT pada jenjang SMA masih rendah.

Banyak mahasiswa di NTT belum lancar membaca, hal yang menunjukkan betapa rendahnya kemampuan literasi (Kompas, 19 September 2025).

Data hasil Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) 2023 yang dirilis Kemendikbudristek juga menunjukkan bahwa lebih dari 50% pelajar di NTT belum mencapai kompetensi minimum literasi membaca.

Ini adalah sebuah keadaan darurat. Banyak siswa dari SD hingga perguruan tinggi masih kesulitan memahami bacaan kompleks dan menuangkan gagasan dalam tulisan yang runut.

Kondisi ini diperparah oleh ekosistem literasi yang belum ideal. Akses terhadap buku bacaan yang menarik dan terjangkau masih menjadi barang mewah. Perpustakaan sekolah seringkali sepi peminat dan toko buku hanya ada di kota-kota besar.

Di sisi lain, gawai dengan dunianya yang gemerlap menjadi pelarian termudah dan termurah.

Jeda Kemanusiaan

Di tengah tantangan inilah sebuah gagasan transformatif lahir. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena memperkenalkan sebuah peraturan gubernur atau Pergub tentang “Jam Belajar NTT.”

Ini bukan sekadar aturan, melainkan sebuah gerakan moral untuk merebut kembali masa depan anak-anak NTT dari penjara algoritma dan paparan budaya populer yang bisa merusak identitas mereka.

Rencananya sederhana namun mendalam: setiap Senin hingga Jumat serta pada Minggu pukul 17.30–19.00, seluruh keluarga di NTT diimbau untuk mematikan gawai, televisi dan segala distraksi digital.

Ini adalah “jeda kemanusiaan” selama 90 menit yang didedikasikan untuk membangun kembali fondasi yang terkikis.

Tujuannya melampaui sekadar mengerjakan pekerjaan rumah atau PR. Pergub ini menyasar tiga hal berikut.

Pertama, menghidupkan kembali budaya literasi. Waktu 90 menit ini adalah momen sakral untuk membaca buku bersama, menulis cerita atau bahkan sekadar berhitung soal-soal sederhana.

Dengan demikian rumah bertransformasi dari ruang konsumsi pasif menjadi ruang produksi gagasan.

Kedua, memperkuat benteng keluarga. Di era di mana anggota keluarga seringkali “dekat secara fisik tapi jauh secara emosional” karena terpisah oleh layar masing-masing, jam belajar ini menjadi momen untuk saling menatap, berbicara dan mendengarkan.

Ketiga, menyemai nilai spiritual. Jam belajar ini juga menjadi waktu untuk berdoa bersama, merenungkan hari yang telah lewat dan membangun kedekatan spiritual sebagai fondasi karakter anak.

Meneguhkan Trisentra Pendidikan

Peran kelurga, sekolah dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang saling menopang dan mendukung dalam membentuk karakter anak. Itulah spirit utama Pergub ini. 

Hal ini sejalan dengan gagasan filsuf pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Ia memperkenalkan konsep Trisentra Pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan yang utuh terjadi di tiga lingkungan: keluarga, sekolah dan masyarakat.

Pergub ini dapat memperkuat pilar pertama dan yang paling fundamental, yakni keluarga, disusul sekolah dan lingkungan masyarakat. Bagaimana Pergub ini memperkuat ketiganya?

Pertama, peran keluarga diperkuat sebagai pendidik utama yang menanamkan cinta pada ilmu dan kebersamaan.  Setiap keluarga diimbau untuk menghentikan semua aktivitas digital pada televisi hingga ponsel selama 90 menit.

Orang tua atau wali wajib mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah, membicarakan kegiatan sekolah, membahas berita ringan, atau bercerita, entah dongeng atau kisah hidup orang tua.

Kedua, peran sekolah didorong untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Ini menuntut guru yang lebih kreatif, kurikulum yang relevan dan akses terhadap buku-buku berkualitas.

Di sekolah, anak-anak diberi tugas mereviu buku. Misalnya dalam bentuk PR baca buku per bab lalu paginya masing-masing anak bertutur di depan kelas, ponsel dilarang dibawa ke sekolah dan sekolah memperkuat budaya literasi.

Perpustakaan tidak lagi terpusat, buku-buku bila perlu ditempatkan di berbagai sudut sekolah, biar waktu istirahat anak-anak terpancing membaca.

Sekolah juga wajib mensosialisasikan dan mewajibkan guru merancang tugas yang mendorong interaksi anak dengan orang tua.

Ketiga, peran masyarakat digalang, mulai dari tokoh agama yang menyerukan pentingnya waktu belajar dari mimbar, hingga komunitas literasi di desa-desa yang menciptakan ruang baca yang menyenangkan.

Pemuka agama secara rutin menyelipkan pesan tentang pentingnya mendampingi anak belajar dan bahaya kecanduan gawai dalam khotbah atau ceramah.

Selain itu, pemerintah desa/kelurahan didorong mengalokasikan dana desa guna membangun atau mengaktifkan kembali Taman Baca Masyarakat (TBM).

Pergub ini memberikan insentif bagi desa dengan TBM paling aktif. Demikian juga dengan komunitas-komunitas literasi, diberi dukungan untuk sesering mungkin mempopulerkan bedah buku atau film edukatif di ruang-ruang publik, seperti taman kota atau pelataran kampung.

Dalam kerangka ini, gerakan ini perlu didukung dan ditindaklanjuti oleh kabupaten/kota agar di jam yang sama ada kebijakan yang sejalan.

Pada akhirnya, “Jam Belajar NTT” adalah sebuah deklarasi kemerdekaan. Kemerdekaan dari belenggu scroll tanpa henti. Kemerdekaan dari ancaman pembusukan otak. Kemerdekaan untuk berpikir jernih, merasakan kehangatan keluarga dan menatap masa depan dengan optimisme.

Ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa anak-anak Flobamorata tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan yang tajam akal dan kaya hati. Ini soal menyelamatkan generasi dari ancaman pembusukan otak.

Irvan Kurniawan adalah warga NTT, tinggal di Kupang

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING