Floresa.co – Ketiadaan alat berat mempersulit pencarian korban timbunan tanah longsor di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.
Hingga usai hari kedua pencarian oleh Tim SAR Gabungan pada 24 Januari, dua korban belum berhasil ditemukan.
Korban tersebut, Theresia Resem (47) dan Yustina Mira (19), dilaporkan hilang sejak longsor terjadi sekitar pukul 15.00 Wita pada 22 Januari usai hujan lebat mengguyur wilayah itu sejak sehari sebelumnya.
Seorang warga yang ikut dalam operasi bersama Tim SAR Gabungan menyebut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Timur sempat berjanji mengerahkan alat berat, namun belum terealisasi hingga 24 Januari sore.
Warga tersebut, yang meminta namanya tidak ditulis karena alasan keamanan, berkata kepada Floresa bahwa proses pencarian sejak 23 Januari dilakukan secara manual menggunakan alat seperti sekop dan linggis.
Hal yang sama disampaikan Kepala Pos Basarnas Labuan Bajo, Fathur Rahman dalam siaran pers yang diterima Floresa, menyebut pencarian pada hari kedua dilakukan dengan dengan metode penyisiran dan penggalian, tanpa menyinggung adanya pengerahan alat berat.
Floresa menghubungi Rupertus, salah satu staf BPBD pada 24 Januari malam untuk menanyakan soal ketiadaan alat berat tersebut.
“Alat berat sudah siap tetapi, terkendala BBM (bahan bakar minyak),” kata Rupertus, “berharap besok alat berat sudah bisa rolling ke lokasi.”
Saat ditanya lebih lanjut terkait kapan alat berat dikerahkan, ia menjawab singkat “besok alat menuju lokasi.”
Namun setelah Floresa menanyakan nama lengkapnya untuk kepentingan pemberitaan, Rupertus meminta langsung “konfirmasi ke pimpinan saja.”
Ia lalu mengirim nomor kontak Whatsapp Kepala BPBD Agustinus Susanto.
Hingga berita ini diterbitkan, Agustinus belum merespons pesan yang dikirim Floresa.
Selain dua korban yang masih hilang, longsor tersebut menyebabkan satu warga lainnya meninggal dan seorang lainnya dirawat di Puskesmas Benteng Jawa.
Tanah longsor juga menimbun area persawahan hingga menutup halaman di antara Sekolah Dasar Katolik dan Kapela Santu Benediktus Meni.
Editor: Herry Kabut





