Floresa.co – Sejak 22 Januari pagi, hujan turun dengan derasnya, memecah kesunyian di Kampung Pau, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.
Silvanus Tasman (39) yang sore itu tengah bersantai bersama keluarganya di rumah semula tak terlalu memedulikan lebatnya hujan itu.
Namun, pada sore hari, ia mulai merasa ada yang berbeda.
“Kami mulai panik ketika melihat material longsor mulai mengalir dari arah bukit,” katanya kepada Floresa pada 28 Januari.
Bukit itu terletak di sebelah timur Kampung Pau, memanjang dari utara ke selatan. Di antara pemukiman dan bukit yang itu terdapat hamparan sawah yang masih hijau, tanda padi belum lama ditanam.
“Perlahan, lereng bukit mulai terkikis. Tanah, batu dan kayu bercampur lumpur mengalir turun, menutupi persawahan, kebun warga, hingga mendekati pemukiman,” katanya.
Melihat kondisi itu, Silvanus dan keluarganya segera keluar dari rumah.
“Kami berniat menyelamatkan diri ke kapela – gereja kecil – yang berjarak sekitar 80 meter dari rumah. Namun niat itu terpaksa dibatalkan karena jalan menuju kapela sudah lebih dulu tertimbun material longsor,” ujarnya.
Tak punya pilihan lain, ia mencoba berlari ke arah barat. Namun jalur tersebut juga sudah tertutup longsoran.
“Kami terjebak di tengah kepungan lumpur dan bebatuan. Saat masih mencari jalan keluar, tiba-tiba kami mendengar suara orang menangis dan minta tolong, ‘tolong, tolong’,” katanya meniru suara yang didengar.
Ia bersama kakaknya, Herman Namat, segera berlari mencari sumber suara tersebut.
Keduanya terkejut saat melihat Albina Ria, perempuan 47 tahun, mengangkat tangannya memberi isyarat minta tolong. Jaraknya sekitar 15 meter dari mereka.
“Albina tengah menggendong anaknya, Apri Nikolaus Acan, yang masih balita. Tubuh mereka terperosok di tengah material longsor dengan tubuh berlumuran lumpur hingga setengah badan,” katanya.
Dengan tangan kosong, Silvanus dan Herman mengeruk lumpur di sekitar tubuh Albina.
“Batu besar yang menekan punggung Albina segera kami angkat. Setelah itu, ia dan anaknya kami gendong keluar dari timbunan longsor dan dibawa ke rumah saya,” katanya.
Karena tubuh mereka dipenuhi lumpur, anak Silvanus membersihkan mereka terlebih dahulu.
“Setelah itu, keduanya kami gendong ke rumah puskesmas pembantu atau pustu di Kampung Rentung. Untuk sampai ke sana, kami hanya bisa lewat di bawah titik akhir material longsor,” katanya.
Di tengah perjalanan, kata dia, Albina terus menanyakan keberadaan putri sulungnya, Yustina Mira.
“Saya memilih menyembunyikan kenyataan karena tidak sanggup memberitahu bahwa Yustina masih tertimbun material longsor,” ujarnya.
“Kami kaget melihat kondisi longsor sekarang sudah jauh lebih parah,” lanjutnya.
Saat tiba di pustu sore itu, petugas kesehatan yang mengecek kondisi Albina langsung menyarankan agar dia segera diantar menuju Puskesmas Benteng Jawa, ibukota Kecamatan Lamba Leda yang berjarak sekitar 10 kilometer pendakian ke arah timur.
Namun nyawanya ternyata tak tertolong. Ia meninggal beberapa jam sesudahnya, sekitar pukul 01.00 dini hari pada 23 Januari.
Semenara Apri, anak yang digendongnya di tengah lumpur longsoran, terus dirawat di puskesmas.
Anaknya yang lain, Yustina Mira (19), baru ditemukan pada hari terakhir pencarian Tim SAR Gabungan pada 27 Januari.
Korban lainnya yang tertimbun adalah Lusia Resem (47), warga Kampung Munta, Desa Compang Weluk, Kecamatan Lamba Leda Selatan, yang saat kejadian sedang berada di Desa Goreng Meni.
Lusia merupakan saudari Kongradus Lasa, suami Albina, yang tinggal sementara di rumah mereka untuk menjalani pengobatan tradisional luka pada tangan kanannya usai terpeleset saat mengejar ternak babi yang lepas dari kandang di sekitar rumah.
Jenazah Lusia ditemukan Tim SAR Gabungan pada 26 Januari.

Sempat Ada Himbauan
Kepala Seksi Pemerintahan Desa Goreng Meni, Bernadus Jeranat berkata kepada Floresa bahwa intensitas hujan dan angin kencang di wilayah itu meningkat sejak 20 Januari.
“Selama dua hari hujan datang tidak seperti biasanya, baik siang maupun malam. Kondisi ini sesuai dengan perkiraan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Timur tentang himbauan waspada cuaca ekstrem,” katanya.
Pada 22 Januari, Bernadus mengaku terbangun sekitar pukul 01.30 dini hari karena terganggu kondisi cuaca ekstrem.
Atas inisiatif sendiri, ia mengunggah imbauan dari BPBD itu melalui akun Facebook pribadinya sekitar pukul 02.00 untuk mengingatkan warga agar tetap waspada.
Pagi harinya, ia mengimbau seluruh anggota keluarganya untuk tidak keluar rumah. Hanya anaknya yang duduk di kelas I SMPN 10 Lamba Leda yang masih berangkat ke sekolah, namun pulang lebih cepat karena sebagian besar guru tidak masuk.
“Hingga siang hari hujan masih terus turun. Saya tidak melihat satupun warga beraktivitas di luar rumah. Kampung tampak sepi,” ujarnya.
Sekitar pukul 15.00, saat sebagian warga beristirahat di dalam rumah, suara gemuruh disertai getaran kuat terdengar.
“Awalnya saya kira seperti suara truk besar yang lewat,” katanya.
Ia sempat menyuruh anaknya memastikan apakah ada kendaraan yang melintas di jalan raya. Namun suara tersebut bukan berasal dari kendaraan.
“Saya segera keluar rumah untuk mencari sumber suara,” katanya.
Dalam hatinya, ia sudah menduga longsor terjadi di wilayah kampungnya, mengingat sekitar sepekan sebelumnya, sebuah pohon tumbang di titik yang kini menjadi pusat longsor.
“Meski demikian, warga tidak menduga akan terjadi longsor besar karena peristiwa pohon tumbang kerap terjadi saat musim angin kencang,” katanya.
Saat hendak menuju halaman kampung, ia melihat warga berlarian sambil menangis menuju pemukiman di sekitar rumahnya, sekitar 700 meter dari pusat kampung.
Ia kemudian mengambil pengeras suara di rumah kepala dusun dan mengarahkan warga agar segera menjauh dari lokasi longsor serta mencari tempat yang lebih aman.
“Warga diarahkan mengungsi sementara ke Kantor Desa Goreng Meni,” katanya.

Sempat melakukan pencarian secara manual menggunakan sekop dan linggis selama sekitar tiga hari, warga berasam Tim SAR Gabungan lalu dibantu alat berat yang baru dikerahkan Pemda Manggarai Timur pada 25 Januari sore.
Operasi SAR lalu resmi ditutup setelah penemuan jasad Yustina Mira pada hari kelima.
Selain menelan tiga korban jiwa, longsor tersebut juga menyebabkan satu warga mengalami luka-luka.
Sebanyak 827 jiwa dari 227 kepala keluarga juga terpaksa mengungsi secara mandiri ke kampung tetangga, yakni Kampung Rentung.
Sementara itu, satu unit rumah tertimbun material longsor secara total dan delapan rumah lainnya mengalami kerusakan.
Longsor juga merusak persawahan, kebun warga, tambak ikan, mata air Sosor Alo, jaringan irigasi dan drainase, dua akses jalan menuju Kampung Tuwa, tiang listrik serta halaman depan Sekolah Dasar Katolik (SDK) dan Kapela Stasi Santu Benediktus Meni.
Editor: Anno Susabun





