Floresa.co – Yayasan milik Gereja Katolik di Kabupaten Manggarai Timur memutuskan membatalkan pemotongan sepihak gaji guru pada salah satu SMP di bawah naungannya.
Hal itu berbeda dengan terhadap guru di SMA yang mogok beberapa hari sebagai bentuk protes atas kebijakan yang muncul tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Pembatalan pemotongan gaji guru di SMP Katolik Stanislaus Borong itu diputuskan dalam rapat dengan Yayasan Sukma Manggarai Timur (Yasukmatim) pada 12 Febuari.
Rapat itu diwarnai perdebatan, dengan suara lantang terdengar hingga keluar ruangan.
Sebelumnya, Antonius Mali, kepala sekolah itu mengirim surat keberatan kepada yayasan usai gaji mereka dipotong pada bulan lalu.
Ia berkata, pemotongan paling tinggi sekitar Rp200 ribu untuk guru dengan gaji sekitar Rp2 juta, sementara guru dengan gaji terendah sekitar Rp800 ribu tidak dipotong.
Dengan pembatalan pemotongan itu, kata dia, surat keberatan mereka “dengan sendirinya gugur, dicabut.”
“Kita sudah buat berita acara. Intinya teman-teman tetap terima gaji seperti biasa, lalu ada peluang kenaikan,” katanya kepada Floresa.
Menurut Antonius, kondisi keuangan sekolahnya surplus sehingga ada ruang untuk penyesuaian.
Persoalannya, kata dia, yayasan tidak memiliki data yang cukup sehingga mengambil keputusan seakan-akan semua sekolah sama.
Ia berkata, sekolah sengaja meminta siswa belajar dari rumah pada 12 Februari, “supaya komunikasi dengan yayasan tidak terganggu.”
Pada 13 Februari, katanya, “sudah sekolah seperti biasa.”

SMA Katolik Pancasila Borong Masih Dialog
Kondisi berbeda terjadi dengan SMA Katolik Pancasila. Para guru sekolah itu mogok sejak 9 Februari karena pemotongan gaji sepihak.
Ketua Yasukmatim, Romo Simon Nama, berkata, pihaknya akan mengembalikan gaji guru seperti semula, namun prosesnya butuh waktu.
Ia menjelaskan, persoalan di SMA Katolik Pancasila hampir sama dengan SMP Katolik Stanislaus, tetapi masih perlu konsultasi lebih lanjut.
Simon berkata, jika pengembalian gaji tidak sejalan dengan kondisi keuangan sekolah, maka kemungkinan akan ada penyesuaian di sektor lain.
“Kalau memang tidak pas, uang sekolah naik. Kita hitung risikonya,” katanya.
Ia berkata, yayasan berupaya memperhatikan kepentingan guru, siswa, orang tua dan lembaga.
“Tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Kita punya visi yang sama, memajukan pendidikan di sini,” ujarnya.
Para guru sempat melapor masalah ini ke pemerintah setempat, hal yang memicu adanya rapat mendadak pada 11 Februari. Selain kepala sekolah dan ketua yayasan, rapat itu juga dihadiri oleh pejabat pemerintah.
Seorang guru yang meminta identitasnya dirahasiakan berkata, jumlah potongan gaji bervariasi.
Guru-guru senior yang telah mengabdi belasan hingga puluhan tahun–dengan gaji pokok sekitar Rp2 juta–dipotong Rp500 ribu hingga Rp800 ribu, guru yang masa kerjanya lebih singkat dipotong Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Manggarai Timur, Ade Manubelu telah mendatangi Yasukmatim untuk meminta klarifikasi tentang polemik ini pada 12 Februari.
Dalam pertemuan tersebut, katanya, yayasan membantah adanya pemotongan gaji dan menyebut kebijakan yang dilakukan adalah penyesuaian gaji pokok.
”Yayasan berjanji akan menyelesaikan secara internal dengan para guru,” katanya kepada Floresa.
Ia menambahkan, Dinas Ketenagakerjaan juga memberi kesempatan kepada yayasan dan para guru untuk menyelesaikan persoalan itu secara internal.
“Harapan kami, para pihak menyelesaikan secara arif dan bijaksana tanpa mengorbankan siswa, sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa,” katanya.
“Apalagi siswa Kelas XII akan menghadapi ujian akhir,” tambah Ade.
Pantauan Floresa pada 12 Februari aktivitas di sekolah itu kembali normal.
Editor: Ryan Dagur




