Terjadi Ribuan Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Flores hingga Lembata; Bagaimana Pola Penanganan Pemerintah?

Pengalaman beberapa pasien menunjukkan vaksin tak selalu ada di puskesmas sehingga harus mencari sendiri di tempat lain

Floresa.co – Awal Agustus, Maria Novlin Bruno, seorang ibu di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur meninggal usai empat bulan sebelumnya digigit anjing peliharaannya. 

Robertikalsius Joman, suaminya mengklaim sudah menyarankan Maria  segera mendapatkan vaksin anti rabies (VAR).

“Namun, dia bersikeras tidak mau,” kenang Rober saat berbicara dengan Floresa pada 4 September.

Kala itu, Rober khawatir karena anjing berusia sekitar tiga bulan yang menggigit istrinya itu pernah digigit anjing liar.

Kekhawatiran itu kemudian terbukti saat Maria menunjukkan gejala rabies pada 1 Agustus.

“Ia mengeluh sakit pada bagian lengan,” kata Rober.

Keesokannya, seorang perawat yang merupakan tetangga mereka memeriksa kondisi Maria. Perawat itu menduga Maria sudah terinfeksi rabies.

“Keluarga kemudian membawanya ke RSUD Borong. Saat tiba di rumah sakit, ia sudah takut minum air, mengalami kejang dan gelisah berlebihan,” katanya.

Dalam kondisi demikian, petugas rumah sakit masih meminta keluarganya untuk divaksin.

Namun, vaksin tak tersedia di RSUD Borong. Mereka pun diminta mengambil vaksin di Puskesmas Borong yang berjarak sekitar 10 kilometer dari rumah sakit itu.

Saat vaksin sudah diperoleh, kondisi Maria sudah semakin parah.

“Perawat di rumah sakit bilang Maria tidak bisa vaksin lagi karena virusnya sudah sampai ke saraf. Vaksin itu akhirnya hanya dipakai untuk saya,” kata Rober.

Kesulitan mendapatkan VAR juga dialami pasien Daria Nurlela, asal Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat. Perempuan itu digigit anjing pada 10 Agustus.

“Begitu istri saya digigit anjing, langsung saya bawa ke Puskesmas Golo Welu,” kata Paskalis Gapur, suami Daria.

Di Puskesmas Golo Welu, Daria langsung divaksin, “tetapi saat pulang ke rumah, tiba-tiba muntah darah.” 

Sepekan setelah kejadian itu, Daria dijadwalkan menerima vaksin lanjutan pada 17 Agustus. 

Namun, ketika tiba di Puskesmas Golo Welu stok vaksin habis.

Petugas medis di puskesmas itu menyarankan mereka mencari vaksin ke Puskesmas Tentang di Kecamatan Ndoso, sekitar 16 kilometer dari Golo Welu. 

Namun, sekembali dari Tentang, kondisi Daria kembali memburuk. 

Ia lagi-lagi muntah darah, kondisi yang kemudian mengharuskannya diantar ke RSUD Ruteng. 

Di rumah sakit milik Kabupaten Manggarai itu, ia diminta mengurus rujukan resmi dari Puskesmas Golo Welu untuk selanjutnya dirawat di RSUD Komodo di Labuan Bajo.

Sebaran Kasus Gigitan HPR di Flores hingga Lembata

Rabies adalah penyakit mematikan akibat infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat. Gejala umum usai terinfeksi adalah demam, sakit kepala, kelebihan air liur, kejang otot, kelumpuhan dan kebingungan mental.

Penyakit ini ditularkan melalui air liur hewan terinfeksi seperti anjing, kucing atau kera, terutama melalui gigitan atau luka terbuka. 

Data yang dihimpun Floresa dari dinas kesehatan di beberapa kabupaten di Flores hingga Lembata, jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) — terutama anjing — pada tahun ini mencapai 5.538 kasus.

Manggarai Barat telah mencatat 924 kasus.

Di Manggarai Timur tercatat 1.737 kasus hingga Agustus. Tiga orang di antaranya meninggal, termasuk Maria Novlin Bruno. 

Pada tahun lalu, tercatat 1.926 kasus gigitan di Manggarai Timur, enam orang di antaranya meninggal.

Di Kabupaten Flores Timur, terdapat 1.704 kasus gigitan, sementara di Kabupaten Lembata 1.173 kasus. 

Floresa belum mendapatkan data untuk Kabupaten Manggarai, Sikka, Ende, Ngada dan Nagekeo.

Bagaimana Ketersediaan Vaksin?

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo mengklaim pihaknya berkomitmen menyediakan VAR tepat waktu untuk menangani setiap kasus.

“Komitmen ini diperkuat dengan sistem distribusi dan pemantauan stok yang terintegrasi antara tingkat kabupaten dan puskesmas,” kata Ojo kepada Floresa pada 28 Agustus. 

Menurutnya, vaksin yang didistribusikan ke setiap puskesmas terdiri dari dua kategori utama, yakni vaksin imunitas dasar lengkap—seperti DPT-HB-HiB, Polio, BCG, MR, IPV, dan HB0—dan vaksin program, yang mencakup TD, DT, VAR (Vaksin Anti Rabies), SAR (Serum Anti Rabies), dan HPV.

Ia mengklaim, khusus untuk penanganan rabies, ketersediaan VAR di tingkat kabupaten pada 2024 dilaporkan selalu mencukupi dan tidak pernah mengalami kekosongan. 

Pengadaannya bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Dana Alokasi Umum (DAU).

Sementara untuk tahun ini, dinasnya telah merencanakan persediaan cadangan (buffer stock).

“Pada prinsipnya, kami selalu berupaya agar stok VAR di kabupaten tidak kosong. Untuk 2025, kita sudah siapkan 1.000 pcs dari DAU sebagai cadangan,” kata Ojo.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo. (Dokumentasi pribadi)

Meski demikian, Ojo mengaku terjadi kekosongan stok pada akhir Mei hingga Juni. 

Hal itu terjadi karena penyerahan barang dari pemerintah pusat tertunda dan proses kontrak dengan Penyelenggara Pengadaan Barang/Jasa (PPK) belum final. 

“Kekosongan ini telah teratasi dengan masuknya vaksin dari pusat sebanyak 1.000 pcs pada bulan Juli,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagai ujung tombak, puskesmas secara ketat mendata setiap korban gigitan, lalu menghitung kebutuhan VAR hingga suntikan ketiga untuk masing-masing pasien. 

“Jika stok di puskesmas diproyeksikan tidak mencukupi hingga periode penyuntikan selesai, puskesmas segera mengajukan permintaan tambahan ke dinas di luar jadwal distribusi rutin,” kata Ojo.

Ia mengklaim koordinasi antara Dinas Kesehatan dan puskesmas dilakukan dengan intensif.

“Begitu ada permintaan mendesak dari puskesmas karena ada kasus, kami langsung proses distribusi tambahan,” ujarnya.

Namun, dalam kasus Daria, ia mengakui ada permasalahan koordinasi sehingga ketersediaan vaksin di Puskesmas Golo Welu kosong.

“Sementara ketersediaan di kabupaten full,” katanya. 

Ojo berjanji akan mengumumkan secara resmi di halaman Facebook dinasnya mengenai ketersediaan VAR di berbagai puskesmas agar  memudahkan pasien mengakses vaksin.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur, Surip Tintin mengklaim, dari semua kasus gigitan hewan penular rabies di wilayahnya, seluruhnya dilaporkan ke fasilitas kesehatan dan telah ditangani. 

Surip berkata, korban yang meninggal umumnya tidak melapor dan tidak mendapatkan vaksin.

“Kalau kasusnya dilaporkan, meskipun stok VAR di puskesmas terdekat kosong, kami punya grup WhatsApp khusus penanganan rabies. Puskesmas akan melaporkan kasus, lalu petugas lain menginformasikan lokasi VAR terdekat,” katanya.

Kalau stok di kabupaten habis, kata dia, Dinas Kesehatan berupaya meminjam dari kabupaten tetangga sambil menunggu kiriman baru.

“Saat ini, stok VAR di Manggarai Timur masih dalam kondisi cukup. Namun, kasus gigitan yang terus meningkat membuat kami tetap meminta tambahan dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat,” katanya.

Kendati tidak merinci jumlahnya, Surip menyebut jenis vaksin yang tersedia di Manggarai Timur adalah VAR untuk manusia dengan nama dagang RABIVAX-S (Inactivated Rabies Virus – Pitman-Moore Strain 3218-Vero).

Sementara Serum Anti Rabies (SAR), kata dia, hanya diberikan pada kasus gigitan dengan risiko tinggi, misalnya gigitan di bagian atas bahu atau kepala atau ketika hasil laboratorium hewan menunjukkan positif rabies.

“SAR jumlahnya sangat terbatas karena produksi pabrik juga terbatas dan harganya mahal. Namun, tetap kami upayakan tersedia untuk kondisi darurat,” katanya.

Ia berkata, penyediaan vaksin tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur, Surip Tintin. (Timexkupang.fajar.co.id)

Di Kabupaten Lembata, jumlah kasus gigitan fluktuatif. Pada 2023 tercatat 807 kasus, lalu naik menjadi 1.333 kasus pada tahun lalu.

Tahun ini, menurut data dari 12 puskesmas di sembilan kecamatan, sudah tercatat 1.173 kasus.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) di Dinas Kesehatan Lembata, Maria Kurniawati Beyeng berkata, pada 2024 terdapat dua orang yang terinfeksi dan meninggal.

“Tidak ada yang (positif) terinfeksi untuk tahun 2023 dan 2025,” katanya kepada Floresa pada 27 Agustus.

Maria menjelaskan, penyebab kematian dua korban gigitan anjing pada 2024 karena “minimnya kesadaran penanganan dan pertolongan untuk divaksinasi.”

“Satu korban dari Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur sekali saja divaksin, sementara dari Lewolein, Desa Dikesare tidak dilakukan vaksin sama sekali,” kata Maria.

Ia menyebut saat ini VAR tersedia di 12 fasilitas kesehatan dan di dinas dengan jenis Chirorab dan Rabivax. 

“VAR jenis Chirorab diadakan oleh Dinas Kesehatan Lembata sebanyak 1.456, sementara Rabivax-S disumbangkan dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT sebanyak 525,” kata Maria.

Penjabat Fungsional Epidemiologi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur, Maria Goreti Barelinda mengungkapkan, dalam tiga tahun terakhir, kasus gigitan hewan penular rabies di Flores Timur mencapai 7.493 kasus.

Ia merinci, pada 2023 sebanyak 2.643 kasus, meningkat menjadi 3.074 kasus pada 2024. Pada tahun ini, data hingga Juli 2025 menunjukkan terdapat 1.704 kasus.

“Semuanya ditangani. Tidak ada yang meninggal,” kata Maria Goreti kepada Floresa pada 28 Agustus. 

Ia mengklaim ketersediaan vaksin di Flores Timur tetap terjaga. 

Hingga kini, kata dia, terdapat 840 ampul stok vaksin yang tersedia.

“Walaupun di Dinas Kesehatan kosong, itu hanya satu hingga dua  minggu sambil menunggu pengiriman dari provinsi,” kata Maria Goreti.

Maria Goreti berkata, bila terjadi kekosongan stok, ia menanyakan di grup ketersediaan di fasilitas kesehatan lainnya untuk realokasi.

Penjabat Fungsional Epidemiologi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur, Maria Goreti Barelinda saat diwawancarai Floresa di ruang kerjannya pada 28 Agustus 2025. (Dokumentasi Floresa)

Upaya Pencegahan 

Untuk memastikan vaksin tetap tersedia di Manggarai Barat, Kepala Dinas Kesehatan, Adrianus Ojo berkata, stok vaksin di gudang kabupaten dan puskesmas dipantau secara berkala demi mengantisipasi kebutuhan.

Ia juga menekankan koordinasi intensif dengan puskesmas dan distribusi vaksin dilakukan berbasis kebutuhan. 

“Distribusi tidak kaku pada jadwal, tetapi dapat dilakukan sewaktu-waktu berdasarkan urgensi kasus dan prioritas.”

Ia juga mengoptimalkan seluruh proses logistik dari permintaan hingga pengiriman untuk memastikan vaksin tiba tepat waktu.

Dengan langkah-langkah tersebut, kata dia, dinas berupaya maksimal memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan menekan angka kejadian rabies di wilayahnya, khususnya di destinasi wisata populer seperti Labuan Bajo.

“Masyarakat yang mengalami gigitan hewan penular rabies diimbau untuk segera melapor ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat,” ujarnya.

Di Kabupaten Manggarai Timur, Kepala Dinas Surip Tintin berkata, pihaknya terus mengedukasi masyarakat untuk mematuhi Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rabies serta mengimbau warga segera melapor apabila mengalami gigitan. 

Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan Dinas Peternakan dalam penanganan hewan penular rabies.

“Untuk distribusi vaksin, Dinas Kesehatan membagi VAR ke seluruh puskesmas. Namun, pada wilayah dengan angka gigitan tinggi, stok kerap cepat habis sehingga pasien bisa diarahkan ke puskesmas terdekat yang masih memiliki vaksin,” katanya.

“Kami ada grup WhatsApp rabies yang beranggotakan penanggung jawab rabies di puskesmas dan tenaga kesehatan hewan. Di situ, setiap kasus gigitan dilaporkan, lalu diinformasikan puskesmas mana yang masih punya stok VAR. Dengan begitu, pasien bisa segera ditangani,” katanya.

Sosialisasi juga dilakukan ke masyarakat baik oleh dinas maupun puskesmas. 

Namun, Surip mengakui sosialisasi itu hanya berlangsung hingga 2018 karena keterbatasan anggaran.

“Saat ini, fokus anggaran lebih banyak diarahkan untuk penyediaan vaksin,” katanya.

Di Kabupaten Lembata, setelah ada korban meninggal dunia pada 2024,  Dinas Kesehatan langsung bergerak melakukan sosialisasi kepada masyarakat. 

“Untuk meminimalisasi kasus gigitan anjing, selama ini kami rutin menggandeng Dinas Peternakan untuk memvaksin anjing dan hewan yang berpotensi menularkan virus rabies,” kata Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit, Maria Kurniawati Beyeng.

Maria juga mengimbau tenaga medis di 12 puskesmas untuk rutin sosialisasi ke warga tentang tata cara penanganan usai digigit anjing.

“Berdasarkan data yang kami peroleh, umumnya warga sudah mulai sadar untuk selalu berobat apabila terkena gigitan binatang yang terinfeksi rabies,” tambah Maria.

Penjabat Fungsional Epidemiologi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur, Maria Goreti Barelinda berkata, selain memastikan ketersedian vaksin, pencegahan juga perlu dilakukan di hulu dengan tidak membiarkan anjing berkeliaran. 

Dinas Kesehatan, kata dia, hanya menangani itu pada hilirnya, “pokoknya, kalau ada kasus gigitan, kami tangani.” 

Ia juga mengimbau agar puskesmas yang sedang ketiadaan stok vaksin segera mengambil di puskesmas lain yang masih tersedia. 

“Kita jangan merujuk pasien,” katanya.

Laporan ini dikerjakan oleh Doroteus Hartono, Arivin Dangkar, Adrian Naur dan Arsenius Agung Boli Ama

Editor: Petrus Dabu

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img