Ata Modo Tolak Pementasan Teater ‘Legenda Putri Komodo’ dalam Festival yang Disponsori Pemerintah di Labuan Bajo

Mereka menyebut panitia tidak meminta persetujuan Ata Modo dan khawatir pementasan cerita rakyat yang sakral itu tidak sesuai dengan apa yang mereka yakini

Floresa.co Komunitas Pemuda Ata Modo, penduduk asli Pulau Komodo di  Kabupaten Manggarai Barat, NTT menolak pementasan teater “Legenda Putri Komodo” dalam festival yang disponsori pemerintah di Labuan Bajo.

Mereka menyebut pementasan legenda itu yang akan digelar di hotel plat merah Meruorah Komodo Labuan Bajo tanpa izin dan mengusik budaya serta martabat masyarakat adat.

Dalam rapat konsolidasi yang diikuti 30 orang pemuda dan mahasiswa di Kampung Komodo pada 26 Oktober malam, komunitas itu menyatakan pementasan teater yang berisi cerita rakyat setempat seharusnya dilakukan setelah mendapat izin dari para tetua adat yang mewakili seluruh anggota komunitas.

“Masyarakat Komodo merasa tersinggung dan tidak dihormati ketika budaya dan adat diusik oleh orang lain,” kata mereka dalam pernyataan yang diterima Floresa. 

Riswan, ketua Ikatan Mahasiswa Pulau Komodo (IMPK) yang menginisiasi rapat tersebut berkata penyelenggara acara tersebut tidak pernah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan warga.

“Kami kaget melihat rencana pentas cerita legenda kami yang paling sakral itu di media sosial,” katanya, “bahkan kepala desa juga tidak tahu.”

Riswan berkata warga tidak mempersoalkan pertunjukan teater itu sebagai “bagian dari upaya promosi pariwisata Labuan Bajo.”

Namun, “ada etikanya, pengelola harus datang bertemu warga dulu dan melibatkan warga lokal.”

“Kami khawatir jangan sampai ada cerita yang tidak sesuai dengan apa yang ada di kampung dan sejarah Legenda Putri Komodo itu,” katanya, menyebut warga memiliki hak cipta cerita rakyat itu yang diwariskan turun-temurun.  

Riswan berkata IMPK dan warga Komodo akan menemui panitia kegiatan dalam waktu dekat untuk “meminta pertanggungjawaban terkait rencana teater Putri Naga Komodo.”

Firman, anggota IMPK lainnya berkata kekhawatiran warga juga terkait “sesuatu yang bisa saja terjadi ketika adat dipentaskan di panggung oleh orang lain.”

Hal itu, kata dia, merujuk hal sakral yang di luar jangkauan pengetahuan dan pengalaman manusia.

“Kami di Komodo ada lima klan, setiap klan bahkan tidak bisa sembarangan membawakan atraksi terkait budaya warisan klan lainnya,” katanya.

Firman yang berasal dari klan Gunung Ara mencontohkan, pementasan tarian Kolokamba dari klan tersebut biasanya disertai “kerasukan mistis”.

Karena itu, katanya, “minimal penyelenggara kegiatan itu datang ke kampung untuk meminta persetujuan atau melibatkan klan-klan Ata Modo.”

Floresa menghubungi Mirlen, narahubung pertunjukan itu pada 27 Oktober, namun ia tidak merespons. 

Pementasan teater itu merupakan bagian dari Komodo Waterfront Festival 2025 yang digelar pada 15-22 November.  Festival itu dilaksanakan di Hotel Meruorah dan Taman Plaza Marina, keduanya di pesisir Labuan Bajo.

Mengangkat tema umum “Bajo Heritage Threads, Flavors & Rhythm” atau “Warisan Bajo – Benang, Rasa & Ritme”, kegiatan tersebut kini memasuki tahun keempat penyelenggaraannya.

Dalam akun Instagram @komodowaterfrontfestival, panitia menjelaskan pentas teater Putri Naga Komodo menjadi acara penutup.

Beberapa acara lain yang ditampilkan antara lain karnaval budaya Manggarai, kompetisi musik Komodo Idol 3 hingga bazar UMKM.

Selain oleh Hotel Meruorah, acara ini disponsori pemerintah, termasuk Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.

Legenda yang Jadi Alasan Menolak Perusakan Alam

Legenda Putri Komodo adalah cerita rakyat dari Pulau Komodo yang mengisahkan tentang seorang putri bernama Putri Naga.

Ia menikah dengan seorang pria bernama Umpu Najo dan dikaruniai anak kembar, seorang anak laki-laki bernama Gerong dan seekor bayi kadal betina yang diberi nama Ora.

Gerong dibesarkan di pedesaan, sementara Ora dibiarkan hidup di hutan. Mereka terpisah sejak lahir sehingga membuat mereka tidak saling mengenal satu sama lain.

Tahun berlalu, suatu hari Gerong berburu rusa di hutan. Saat akan mengambil buruannya, seekor kadal besar muncul dari balik semak dan hendak merampas rusa itu. 

Gerong berusaha mengusirnya, namun gagal.  Saat ia mengangkat tombak hendak membunuh kadal tersebut, tiba-tiba muncul seorang wanita cantik, Sang Putri Naga. 

Wanita tersebut melerai dan berkata pada Gerong: ”Jangan kau bunuh dia. Ia adalah Ora, saudari kembarmu. Aku yang melahirkan kalian, perlakukan ia sebaik mungkin karena kalian bersaudara.”

Riswan menjelaskan, selain lekat dengan adat masyarakat yang memperlakukan komodo sebagai saudara kembar atau “Sebae” dalam bahasa mereka, legenda itu juga mengandung makna bahwa warga menolak segala bentuk ancaman perusakan alam yang menjadi habitat satwa langka tersebut.

Kinan, pemuda lainnya dari Kampung Komodo berkata, legenda tersebut berisi kepercayaan nenek moyang bahwa “komodo adalah keluarga kandung kami.”

“Keterkaitan itu tidak bisa dipisahkan”, katanya, “maka kami tegas menyatakan bahwa rencana pentas itu mencederai martabat kami.” 

“Menceritakan sejarah ini tidak bisa orang sembarangan, karena sejarah ini tidak main-main,” kata Kinan. 

Ia berkata legenda itu juga menjadi pegangan bagi warga yang selama ini menolak beragam intervensi pemerintah dan perusahaan untuk menguasai lahan dan membangun infrastruktur pariwisata di habitat Komodo.

Hal senada disampaikan Firman yang menyebut legenda Putri Naga Komodo berkaitan erat dengan perjuangan warga selama ini untuk menolak proyek-proyek pembangunan di kawasan itu, khawatir “perubahan signifikan pada alam dan budaya.”

Salah satunya PT Komodo Wildlife Ecotourism milik Tomy Winata dan anak Setya Novanto yang hendak mendirikan ratusan bangunan di Pulau Padar dan mengantongi izin konsesi lahan di Pulau Komodo.

“Kalau kita mengizinkan perusahaan masuk, jejak-jejak nenek moyang kami lama-kelamaan akan memudar,” katanya. 

Ia berkata, Ata Modo terus memperjuangkan model tata kelola pariwisata yang tidak merusak alam.

Terkait kedekatan warga dengan Komodo, ia menjelaskan adanya “komunikasi spiritual kami dengan alam.”

Ia mencontohkan kisah hilangnya komodo saat kunjungan Presiden Soeharto pada Era Orde Baru, tanpa koordinasi dengan masyarakat adat. Soeharto kala itu, kata dia, tidak menjumpai komodo selama kunjungannya di Pulau Komodo.

Editor: Anno Susabun

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA