Realisasi Pabrik Garam di Nagekeo Terkendala Ketersediaan Lahan

garamFloresa.co – Sejak 2010 hingga saat ini, rencana pembangunan pabrik garam di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur belum juga dimulai. Padahal sudah ada kerjasama antara perusahaan Indonesia dengan perusahaan Australia bernama Cheetam Salt Ltd.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, investasi pabrik garam di NTT itu belum bisa berjalan, karena Bupati belum menyediakan lahannya.

“Industri garam di NTT bisa terealisir itu kuncinya di Bupati. Oleh karena itu, kami minta agar kepala daerah mempercepat proses penyelesaian lahan. Kalau lahannya selesai, maka industri garam di NTT akan dapat terealisasi. Mau tidak kepala daerahnya menyediakan lahan. Kalau itu tersedia, investor siap masuk,” tutur Saleh di Jakarta, Jumat (17/7/2015).

Karena itu, lanjut Saleh, kunci dari berjalannya investasi pabrik garam di NTT adalah penyediaan lahan oleh kepala daerah.

“Bagaimana kepala daerah dapat menyelesaikan ketersediaan lahan,” imbuh Saleh.

Seperti diberitakan sebelumnya, dari lahan seluas 1.000 hektar yang dibutuhkan, yang baru tersedia 700 hektar lebih.

Cheetam Salt Ltd, perusahaan garam asal Australia awalnya berkomitmen menggandeng pemda NTT untuk menggarap lahan garam di Kabupaten Nagekeo NTT seluas 2.100 hektar. Proyek ini sudah dirancang sejak Juni 2010, namun kini belum terealisasi, dan sempat membuat Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) terdahulu frustasi.

Bila kerjasama ini sudah direalisasikan, maka akan ada tambahan produksi garam nasional sebesar 250.000 ton per tahun. Diharapkan akan terserap 2.000 tenaga kerja dari realisasi kerjasama ini.

Pihak Cheetam akan memberikan pembinaan teknologi garam kepada petani rakyat. Nantinya produksi garam di NTT tersebut akan diolah di pabrik garam Cheetam di Cilegon.

Cheetam sudah berinvestasi pabrik pengolahan garam di Cilegon sebesar 3 juta dolar Australia.

Indonesia memang harusnya berbangga sebagai negara kepulauan dengan luasnya laut yang dimiliki. Keunggulan ini seharusnya dimanfaatkan dengan optimal, salah satu carannya dengan memproduksi garam.

Tapi kondisi sekarang‎, kebutuhan garam di dalam negeri masih mengandalkan impor.Tercatat pada April 2015, garam yang diimpor Indonesia mencapai 95.164 ton atau setara dengan US$ 4,5 juta. (Detikfinance/Armand Suparman/ARS/Floresa)

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA