WVI Mabar: “Bullying” di Kalangan Pelajar Sebabkan Bunuh Diri

Baca Juga

Labuan Bajo, Floresa.co – Memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, sejumlah organisasi yang konsen mendalami isu gender di Manggarai Barat (Mabar), menggelar sosialisasi kesetaraan gender dan kekerasan terhadap perempuan dan anak kepada sejumlah pelajar di Labuan Bajo.

Kegiatan bertajuk, “Mabar Melawan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak”, ini diinisiasi oleh Rumah Perlindungan Anak dan Perempuan binaan JPIC SSpS, Flores Barat, bersama Institut Hak Asasi Perempuan (IHAP) dan Wahana Visi Indonesia (WVI).

Kegiatan dimulai, Senin 26 hingga Selasa, 27 November 2018, dan diikuti oleh 135 siswa SMA Santo Ignasius Loyola dan siswa Santo Arnoldus Labuan Bajo.

Manager WVI Mabar, Firma Oktaviana, mengatakan bahwa bullying atau perundungan kerap terjadi di kalangan pelajar.

“Perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk yaitu perundungan fisik, seksual, siber, dan verbal. Dampaknya bahkan bisa menyebabkan seseorang bunuh diri,” jelas Oktaviana di hadapan para siswa.

Oktaviana kemudian menyarankan agar setiap pelajar selalu berhati-hati dalam tindakan dan memikirkan dampaknya. Pasalnya, setiap anak rentan menjadi pelaku dan juga korban.

Sementara, pada hari kedua, Donatus Dola, atau yang lebih akrab disapa Dom dari IHAP, mengajak murid SMA untuk menonton film pendek berjudul “Masa Sih?” yang disutradarai dengan apik oleh Chairun Nissa. Film ini membahas, “dengan bahasa anak muda” mengenai kesehatan reproduksi dan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Pemateri dan beberapa peserta berpose usai sosialisasi. (Foto: Arinta S).

Usai menonton film tersebut, salah seorang pelajar perempuan mengatakan: “Kami dari Asrama Putri, kami tidak ingin di bawah laki-laki, kami juga setara dengan kalian [laki-laki]. Jadi jangan anggap kami di bawah kalian”, ucapnya yang disambut dengan riuh dan tepuk tangan dari teman-temannya.

Menurut Kepala Rumah Perlindungan Anak dan Perempuan, Suster Yosephin, SSpS, sosialisasi tersebut diharapkan dapat membantu anak mengenali diri mereka, mengetahui bentuk-bentuk kekerasan, dan mendorong mereka untuk menghargai satu sama lain.

“Pengetahuan seks seringkali dianggap tabu sehingga anak, yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar, seringkali mencari informasi seorang diri sehingga mendapatkan informasi yang keliru,” katanya.

“Inisiasi ini kedepannya diharapkan dapat terintegrasi dalam kurikulum sekolah dengan metode pembelajaran yang menyenangkan dan mengedepankan pemahaman mengenai kesetaraan gender,” tutupnya.

Data Polres Mabar, tahun 2015-2018, setidaknya sebanyak 72% kasus kekerasan terhadap anak didominasi oleh kekerasan seksual. Pada sebagian kecil kasus, kekerasan seksual dilakukan oleh anak.

ARJ/Floresa

 

 

 

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kawan-kawan bisa berdonasi dengan cara klik di sini.

Terkini

spot_img