Mengenang Fidelis Pranda, Tokoh Politik yang Menolak Menyerah Kalah

Baca Juga

Floresa.co – Tak ada kabar sakit. Tiba-tiba saja, Selasa sore jelang malam, 17 Maret 2020, ada kabar di facebook dan media sosial Wilfridus Fidelis Pranda meninggal dunia.

Ucapakan duka pun membajir di media sosial. Fidelis memang tokoh yang tersohor setidaknya di Manggarai. Ia merupakan bupati pertama kabupaten Manggarai Barat (2005-2010). Seperti pemimpin pada umumnya, selama menjadi orang nomor satu di wilayah paling barat pulau Flores ini, Fidelis tidak terlepas dari kontroversi. Salah satu yang menonjol adalah soal izin tambang di Batu Gosok, Manggarai Barat.

Pada masa kepemimpinannya, gara-gara memeberi karpet merah bagi pengusaha tambang, Fidelis dicerca aktivis. Gereja yang menjadi bagian penting dalam kehidupan orang Manggarai pun mengambil jarak kepadanya gara-gara soal izin tambang ini.

Tetapi, terlepas dari kontroversi itu,  Fidelis juga dikenang sebagai ‘bapak pembangunan Manggarai Barat’. Selama masa pemerintahannya ia membangun jalan-jalan ke desa-desa, membuka keterisolasian ke kampung-kampung.

Tetapi pada pilkada 2010, Fidelis yang berpasangan dengan Vinsenius Pata, kalah melawan mantan wakilnya sendiri Agustinus Ch Dula. Tetapi ia tak terima begitu saja kekalahannya. Fidelis melakukan perlawanan hukum dengan menggugat Surat Keputusan (SK) Mendagri Nomor 131.53 – 462 tahun 2010 tanggal, 9 Agustus 2010 yang mengangkat pasangan Agustinus Ch Dula dan Maksimus Gasa sebagai Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat. Gugatan ke PTUN Jakarta dimenangkan oleh Fidelis Pranda dan pasangannya. Kementerian Dalam Negeri pun mengajukan banding, namun PT TUN Jakarta menguatkan keputusan sebelumnya.

Kementerian Dalam Negeri selanjutnya mengajukan kasasi. Mahkamah Agung (MA) pun kembali menguatkan keputusan sebelumnya. Namun, sayangnya, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 346 K/TUN/2011, tanggal 7 Mei 2012 itu tak dieksekusi. Bupati dan wakil bupati Manggarai Barat tetap dijabat oleh Dula-Gasa hingga 2015.

Tahun 2015, saat pilkada kembali digelar, Fidelis maju lagi. Kali ini ia berpasangan dengan Benyamin Padju, tokoh organisasi Muslim, Nahdatul Ulama di Manggarai Barat. Kedunya, sempat mendaftar ke KPUD Mabar pada 28 Juni 2015 dengan membawa surat dukungan dari Hanura, PKB dan PKPI.

Baca: Berebut Pengaruh Fidelis Pranda

Sayangnya, dukungan dari PKB dan PKPI ternyata juga diberikan kepada pasangan lain. Ketegangan politik pun terjadi. Massa pendukung Pranda-Padju pada malam 28 Juni itu mengepung kantor KPUD. Namun, tekanan massa loyalis Pranda tak mengubah keputusan. KPUD menganulir pasangan ini dari pencalonan.

Jelang pilkada tahun 2020 ini, meski sudah tak muda lagi, Fidelis masih berikhtiar untuk maju dalam pilkada kabupaten Manggarai Barat. Ia sudah menggaet Belasius Jeramun, sebagai calon wakilnya. Kedunya berniat maju melalui jalur independen. Tetapi Tuhan berkendak lain. Selamat jalan Pak Fidelis. RIP.

PTR/Floresa

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kawan-kawan bisa berdonasi dengan cara klik di sini.

Terkini

spot_img