BerandaARTIKEL UTAMA"Anak-anak Kami Lapar,” Keluh...

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Floresa.co – “Tolong Pak, anak-anak kami lapar. Kami meminta kebijaksanaan Bapak untuk melihat keluh kesah kami.”

Kata-kata itu disampaikan Mama Silvia, warga asal Desa Compang Longgo kepada Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi.

Ia merupakan salah satu dari 15 perwakilan petani yang diizinkan ikut dalam audiensi dengan Bupati Endi saat aksi demonstrasi pada Selasa, 17 Mei 2022.

Dalam aksi yang diikuti ratusan warga dan didampingi oleh para mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng dan Kota Jajakan Labuan Bajo, mereka mengadukan masalah Bendungan Wae Cebong yang rusak akibat aktivitas pertambangan pasir atau galian C.

Bendungan itu merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Mama Silvia mengatakan kepada Bupati Endi, sawah-sawah tersebut adalah tumpuan hidup mereka, termasuk untuk biaya pendidikan anak dan biaya kesehatan.

“Sawah-sawah ini juga merupakan lumbung pangan yang menyuplai kebutuhan beras warga Labuan Bajo,” katanya dalam Bahasa Daerah Manggarai.

Leonardus Suhardiman, juga perwakilan warga Compang Longgo mengatakan, total areal persawahan Satar Walang adalah 582 hektar dan terancam gagal tanam pada musim tanam dua (MT2) tahun ini.

“Biasanya selesai tanam pada MT2 itu sejak awal bulan Mei. Tetapi, tahun ini kami belum bisa tanam hingga pertengahan Mei karena tidak ada air,” ujarnya.

BACA: Bendungan Wae Cebong di Mabar: Rusak Diduga Karena Tambang Pasir dan Ancaman Kelaparan untuk Warga

Ia mengatakan, bendungan yang dibangun pada 1998 itu tidak berfungsi lagi sejak tanggulnya mulai jebol pada April 2021, setahun setelah sebuah perusahan tambang bernama Handel Berseri beroperasi di dekatnya.

“Begitu ada banjir kecil pada April 2021, tanggul bendungan jebol kurang lebih 50 meter,” kata Leonardus.

Terbentuknya Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kali Wae Mese – sumber air untuk bendungan itu – akibat pertambangan pasir juga membuat bendungan itu makin mubazir.

Dalama audiensi itu, para petani mendesak agar bendungan itu segera diperbaiki sehingga mereka bisa menanam padi pada bulan ini.

Mereka juga mendesak Pemerintah Manggarai Barat untuk segera berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat agar membangun bendungan secara permanen.

Menanggapi desakan itu, Bupati Endi mengatakan akan segera melakukan penanganan darurat dan berjanji dilakukan secepatnya.

“Penanganan darurat segera kita lakukan dalam minggu ini, supaya MT2 berjalan,” katanya.

Ia juga mengatakan akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat terkait permintaan petani agar membangun secara permanen bendungan tersebut.

FLORESA

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga