BerandaMENDALAMVirus ASF yang Menyerang...

Virus ASF yang Menyerang Babi Kembali Masuk NTT, Picu Kepanikan Bagi Warga

Pemerintah diharapkan proaktif memberi sosialisasi pencegahan penyebaran virus, sementara sesama warga diminta bergandengan tangan melawannya.

Floresa.co – Warga di Provinsi NTT yang umumnya memelihara babi sedang cemas setelah virus mematikan African Swine Fever [ASF]  muncul kembali dan telah menewaskan puluhan babi di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir.

Ini merupakan gelombang serangan virus ASF ketiga di provinsi itu selama beberapa tahun terakhir.

Yohanes Jehadun, seorang warga di Kampung Umung, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai mengatakan, ia mendengar informasi terkait penyebaran virus itu dari berita di media.

Membaca berita demikian, kata dia, ia terus memikirkan keselamatan babinya.

Yohan, ia disapa, memiliki lima ekor babi dan ada yang sudah siap beranak. Pamannya juga memiliki lebih banyak, 34 ekor.

“Munculnya informasi ini membuat kami cemas,” kata pemuda 31 tahun ini kepada Floresa, Kamis, 19 Januari 2023.

Di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomese, Kabupaten Ngada, Pastor Philipus Adisulistyo, OFM yang memelihara babi di parokinya juga dilanda perasaan yang sama.

Imam yang bekerja sebagai pastor rekan di Gereja Katolik Paroki Maria Ratu Para Malaikat Kurubhoko itu mengatakan ia sulit melupakan peristiwa dua tahun lalu ketika virus itu menewaskan babi-babi di paroki.

“Kali lalu itu babi yang mati 28 ekor,” katanya.

Kini, ia cemas dengan nasib 12 ekor babi yang masih berada di kandang andai kembali diserang wabah ini.

Kandang babi di Paroki Maria Ratu Para Malaikat Kurubhoko, Ngada yang dipelihara oleh Pastor Philipus Adisulistyo, OFM. Ada 12 ekor babi di sini. (Foto: Pastor Philipus Adisulistyo, OFM)

Virus ASF mulai terdeteksi kembali di beberapa wilayah di NTT pada pekan ini.

Melky Angsar, Kepala Bidang Kesehatan Hewan di Dinas Peternakan Provinsi menyatakan dari hasil tes sampel babi yang dilaporkan mati di Kabupaten Kupang dan Flores Timur, dua kabupaten yang pertama kali memberi laporan, sudah terkonfirmasi bahwa pemicunya adalah ASF.

Di Kabupaten Kupang, 48 babi mati dilaporkan mati mendadak setelah demam tinggi dengan suhu tubuh di atas 39 derajat celcius, nafsu makan hilang, tubuh lemas, dan muncul bercak kemerahan di sekujur tubuh mereka.

Karena itu, kata Melky, mereka telah mengimbau pemerintah kabupaten untuk melakukan langkah-langkah pencegahan penyebaran.

“Kami dalam dua hari terakhir sudah membagikan desinfektan ke peternak di Kabupaten Kupang untuk semprot kandang babi,” katanya kepada kantor berita Antara.

Ia mengatakan mereka juga akan membagi desinfektan ke kabupaten-kabupaten lain yang membutuhkan.

Imbauan dari Pemerintah Kabupaten

Sejauh ini, beberapa pemerintah kabupaten telah mengeluarkan pengumuman kepada warga mereka untuk mengambil langkah-langkah antisipatif.

Dalam sebuah surat yang salinannya diperoleh Floresa,  Maximus Jujur Nohos, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur meminta warganya meningkatkan kewaspadaan demi mencegah masuk dan menyebarnya virus ini.

Pencegahan dilakukan dengan cara “tidak membeli ternak babi, daging babi, dan produk olahan babi dari wilayah yang belum diketahui status kesehatan ternak dan produk olahannya,” katanya.

Ia juga meminta warganya wajib melaporkan kepada pemerintah setempat bila ada babi yang sakit atau mati mendadak.

“Jangan membuang bangkai/babi mati ke got/kali/laut/tempat terbuka lainnya melainkan harus dikubur agar memutus penularan penyakit. Jika ada ternak babi yang sakit, dilarang untuk dipotong dan dijual dagingnya karena akan menyebarkan penyakit,” tulis Maximus.

Ia juga meminta warganya menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar kandang serta melakukan desinfeksi.

Pengumuman serupa juga disampaikan oleh pemerintah di kabupaten-kabupaten lainnya.

Di Kabupaten Lembata, Marsianus Jawa, pelaksana tugas bupati menyatakan pihaknya telah memutuskan menutup seluruh akses masuk bagi babi dari luar demi mencegah masuknya virus itu.

Abidin, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Manggarai Barat mengatakan, meski belum ada laporan kasus di wilayahnya, ia sudah memberikan arahan kepada bawahannya untuk mengambil langkah antisiatif, dengan membuat surat imbauan ke seluruh camat dan petugas di dinasnya.

“Terkait petugas saya di lapangan, saya akan panggil mereka semua untuk waspada. Langkah pertama, komunikasi, informasi dan edukasi melalui sosialisasi kepada pemilik babi masyarakat,” katanya kepada Floresa.co.

Ia juga mengaku telah meminta pegawai di Pusat Kesehatan Hewan Lembor agar segera melapor ke dinas jika menemukan kasus babi yang sudah terpapar serta memperketat pengawasan bagi babi dari luar.

Yoseph Mantara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai mengatakan pihaknya belum menerima laporan kasus di wilayahnya sejak tahun lalu.

Ia mengatakan, kasus ASF pernah terjadi di wilayah itu pada awal 2021 yang menewaskan 401 ekor babi milik peternak di Kecamatan Satar Mese Utara dan Langke Rembong.

Meski belum ada laporan kasus saat ini, kata dia, pemerintah berusaha melakukan langkah antisipatif.

“Virus ini sangat mematikan. Ketika [daerah] yang lain kena, kita juga jadi terancam. Penyebarannya bukan hanya melalui ternak hidup, tetapi juga daging olahan,” katanya kepada Floresa.

Karena itu, kata dia, pihaknya akan segera mengumumkan kepada masyarakat untuk ikut serta mencegah penularan virus tersebut.

“Sebab untuk mencegah virus ini, pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Masyarakat harus terlibat,” katanya.

Yohanes Simarmata, dokter di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Kupang mengatakan, ini merupakan gelombang ketiga serangan virus ASF di NTT setelah pada 2020 dan 2021.

Data Pemerintah provinsi yang dipublikasi Juli tahun lalu menyebutkan 122.000 babi yang telah mati akibat serangan virus itu.

Yohanes menjelaskan, pemicu masuknya virus ini adalah pengadaan babi dari luar NTT yang dilakukan pemerintah tanpa memperhatikan aspek keamanan, baik kondisi babi yang dibeli maupun kebersihan alat transportasi pengangkut.

“Seharusnya pemerintah cek dulu babi yang dibeli dari luar, dan harusnya dikarantina dulu selama 14 hari sebelum dibagikan ke masyarakat,” katanya kepada Floresa.

Menurutnya, langkah konkret yang mesti dilakukan masyarakat saat ini adalah membatasi orang yang masuk kandang dan memperhatikan kebersihan kandang.

Ia juga meminta agar makanan sisa dari dapur yang hendak diberikan kepada babi dimasak terlebih dahulu.

Babi, Salah Satu Penopang Ekonomi

Di NTT, di mana 83 persen dari 5,5 juta populasinya adalah Kristen, baik Katolik maupun Protestan, banyak warga yang umumnya petani memelihara babi sebagai pekerjaan sampingan.

Daging babi termasuk salah satu jenis daging yang paling laku di wilayah itu. Selain untuk konsumsi sehari-hari, daging ini juga jadi menu utama pada saat acara adat.

Babi juga umumnya jadi sembelihan dalam upacara-upacara adat, seperti syukuran musim panen, pernikahan adat, dan sebagainya.

Karena laris, setiap keluarga di kampung-kampung banyak yang memelihara babi antara 1-10 ekor, dengan kandang yang berada dekat dengan rumah. Ada juga yang memelihara dalam jumlah besar.

Seorang anak sedang mengelus telinga seekor babi yang berada di dalam kandangnya di Kampung Wesang, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Keluarga di NTT umumnya memelihara babi di dekat rumah mereka. (Foto: Floresa.co)

Memelihara babi juga menjadi salah satu cara untuk bisa membiayai pendidikan anak-anak.

Tidak mengherankan bahwa menurut data 2021 dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, populasi babi di NTT mencapai 2.598.370 ekor, hampir setengah dari populasi babi di Indonesia yang mencapai 7.622.724 ekor.

Servasius Asak [28], warga Wae Bo, Labuan Bajo mengatakan kepada Floresa, meski virus itu belum dilaporkan menular ke Manggarai Barat, pemerintah bisa bergerak cepat dengan mendata semua warga yang memiliki usaha babi dan memberi vaksin agar babi bisa bertahan hidup.

“Harapan untuk masyarakat umum yang pelihara babi agar waspada mulai sekarang,” katanya.

Yohan dari Kampung Umung juga berharap pemerintah bekerja maksimal mencegah penyebaran virus ini.

“Semoga pemerintah segera lakukan sosialisasi [pencegahan dan penanganan virus] ini ke kampung-kampung,” katanya.

Babi di peternakan warga di Kampung Umung, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai (Foto: Yohanes Jehadun)

Harapan serupa juga disampaikan Pastor Philip di Kurubhoko agar pemerintah proaktif memberi pemahaman dan penyadaran kepada warga.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama dari masyarakat terutama sesama pemelihara babi untuk mematuhi imbauan yang dikeluarkan pemerintah.

Baca Juga