Floresa.co – Lapangan Pamakayo di Desa Lewolema, Kecamatan Solor Barat, Pulau Solor menjadi riuh. Ibu-ibu dari berbagai penjuru pulau kecil di sebelah timur Flores tersebut berdatangan ke lapangan itu. Mereka mengenakan atasan putih berpadu tenun ikat, sembari menjunjung lembaran koli-bahasa setempat untuk lontar.
Pada Senin pagi 1 September itu, 400-an perempuan mengambil bagian dalam “Kegiatan Menganyam Bersama.” Acara itu diselenggarakan oleh Du Anyam, lembaga kewirausahaan sosial yang tahun ini genap berusia 10 tahun.
Usai berkumpul di bawah tenda, para perempuan duduk berkelompok. Ada yang menganyam helai demi helai daun koli untuk dijadikan placemat, semacam tatakan untuk anyaman. Sebagian lagi menghiasnya dengan motif.
Emirinsiana Lamanepa, salah satu di antaranya menyebut “membuat placemat mudah, tapi harus teliti.”
“Warna dan suwiran tiap helai koli mesti sama. Kalau beda ukuran, anyamannya bisa miring,” kata Mama Emi, sapaan perempuan 49 tahun itu.
Melia Winata, CEO & Co-Founder Du Anyam dalam sambutannya menyebut acara itu sekaligus memperkenalkan dua inovasi motif anyaman: bunga teratai dan burung punai, hasil karya kolaborasi mama-mama penganyam dengan desainer Du Anyam.
Mama Emi dan rekannya Ervin Koten (50) atau Mama Ervin adalah dua penganyam yang dipercaya untuk ikut mengembangkan motif tersebut.
Inovasi itu mendapat dukungan dari Dana Indonesiana, program Kementerian Kebudayaan yang salah satu fokusnya pada pelestarian dan penciptaan karya kebudayaan berbasis komunitas.
Butuh empat bulan dari riset hingga motif tersebut bisa diaplikasikan ke produk.
“Jika sebelumnya desain baru berkisar pada ukuran dan warna-warna, kali ini kami coba membuat karya seni, namun dari anyaman. Muncullah ide motif ini,” kata Melia.
Motif bunga teratai didominasi warna merah muda dan hijau, sementara burung punai warna hijau dan coklat.
Melia berkata, motif bunga teratai melambangkan keteguhan dan harapan yang tumbuh indah meski di tengah keterbatasan. Sementara motif burung punai terinspirasi dari burung endemik Flores dan Solor yang merepresentasikan harmoni dan persaudaraan.
Acara hari itu berakhir dengan pengumuman penghargaan bagi perempuan penganyam dan aktor-aktor lain yang mendukung keberlanjutan Du Anyam di Solor.

Bertahan Hidup dari Menganyam
Di pulau yang dihuni lebih dari 36.000 jiwa itu, keterampilan menganyam diwariskan para perempuan dari generasi ke generasi.
Mama Emi misalnya mulai menganyam sejak usia 13 tahun. Ia belajar langsung dari ibunya. Saat masih remaja, ia sudah bisa membuat sobe, kleka, dan ohe. Sobe biasanya digunakan untuk wadah makanan seperti nasi dan dalam ukuran besar digunakan untuk wadah beras. Kleka lebih mirip nampan, biasanya digunakan untuk menapis beras. Sementara ohe adalah tikar.
Namun, keterbatasan akses terhadap pasar membuat warisan budaya ini tidak selalu dilirik sebagai tumpuan bagi kehidupan para perempuan. Ditambah dengan kondisi alam yang kering dan tak banyak pilihan pekerjaan yang tersedia di kampung, banyak di antara warga Solor memilih merantau ke daerah lain.
Hal itu pula yang menjadi alasan bagi Mama Emi dan suaminya kala memilih ke Kalimantan pada 2010. Di sana, ia bekerja sebagai asisten rumah tangga, sementara suaminya menjadi staf gudang salah satu perusahaan.
Tujuh tahun di tanah orang tak membuat hidup lebih mudah hal yang membuat Mama Emi memutuskan kembali ke Solor pada 2017. Apalagi salah satu anaknya telah berusia sekolah dan akan sulit baginya untuk mengasuh mereka sambil bekerja sebagai asisten rumah tangga.
“Saya ingin anak-anak juga kenal kampungnya sendiri,” katanya. Keluarga kecil itu terpaksa berpisah. Sang suami tetap bertahan di perantauan untuk menopang ekonomi rumah tangga.
Di kampungnya, Mama Emi tak semata mengandalkan pendapatan dari suaminya. Ia mencari tambahan penghasilan dengan mengaktivasi keterampilan menganyam. Ia mengisi waktu di sela-sela mengurus rumah, menyiapkan makan malam atau berkebun.
Butuh waktu sebulan untuk menghasilkan cukup banyak anyaman, lalu menjualnya di pasar. Ia menjajakan sendiri produknya di Pasar Waiwerang di Pulau Solor. Kadang, ia sampai ke Larantuka di Flores daratan yang terpisah satu jam perjalanan laut. Ini berarti Mama Emi perlu menghabiskan hari yang lebih panjang untuk berdagang. Untuk hari-hari seperti itu, anak-anaknya dititipkan kepada keluarga lainnya di kampung.
Harga jual sebuah anyaman berkisar Rp5.000–Rp15.000, tergantung ukuran. Ongkos perjalanan seringkali menggerus keuntungan. “Kalau banyak orang jual anyaman, kami harus jual lebih murah, daripada bawa pulang lagi,” ujarnya.
Kisah Mama Ervin tak jauh berbeda. Ia sudah makan asam garam dengan pengalaman menjual anyaman. Mama Ervin berjualan di pasar-pasar di Larantuka, di Pelabuhan Larantuka atau dari pintu ke pintu.
Jika dagangannya tak habis, ia terpaksa bermalam di pelabuhan. Dari hasil jualan anyaman yang diproduksi selama tiga minggu hingga sebulan, ia mendapat penghasilan bersih antara Rp100.000 hingga Rp300.000.
Tradisi yang Menyambung Harapan
Tahun 2017, Du Anyam hadir di Desa Wulublolong, Kecamatan Solor Timur. Mama Emi mulai mendengar nama lembaga tersebut kala itu. Namun, ia masih ragu untuk bergabung. Selain karena harus membagi waktu untuk mengurus anaknya, ia juga masih kurang percaya diri dengan kualitas anyamannya. Ia baru bergabung pada 2022 setelah dibujuk keluarganya.
Pengalaman pertama membuatnya terkejut karena ia tidak hanya diminta menganyam, tetapi juga diajari cara memilih dan mengolah koli, menyuwir dengan ukuran yang sama, hingga teknik menganyam yang rapi. “Rasanya seperti sekolah lagi,” katanya.
Perlahan, keterampilannya semakin terasah. Ia pun mulai rutin mendapat pesanan, hal yang berarti makin besar pula penghasilannya.

Mama Ervin, yang bergabung lebih awal–mengemukakan cerita berbeda. Ia tertarik karena bersama Du Anyam menjual anyaman menjadi lebih mudah–tak harus ke pasar dengan konsekuensi menanggung biaya transportasi, juga tak perlu cemas dagangannya tak laku.
“Dengan Du Anyam, saya bisa dapat uang setiap bulan tanpa harus pergi jauh. Cukup untuk makan,” ucapnya.
Ia berkata, Solor adalah wilayah yang kering, dengan hasil kebun hanya cukup untuk dimakan sendiri. Dengan kondisi demikian, penghasilan dari menjual anyaman amat membantu.
Mama Ervin berkata, beberapa bulan setelah bergabung, ia juga direkrut oleh Du Anyam menjadi instruktur untuk para perempuan di desa lain. Kini ia telah membagi keterampilannya kepada ratusan perempuan di wilayah lain seperti Flores dan Sabu.
Merasakan manfaat bergabung dengan Du Anyam mendorong Mama Ervin dan Mama Emi mengajak perempuan lain bergabung. Dari semula hanya lima orang, kelompok mereka kini berkembang menjadi lebih dari 80 orang.

Kewirausahaan Sosial dengan Market Global
Melia Winata berkata, perjalanan 10 tahun Du Anyam “menunjukkan bagaimana inovasi bisa lahir dari akar budaya.”
“Dari tangan perempuan desa, anyaman lontar kini berkembang menjadi produk kreatif yang mampu bersaing di pasar internasional tanpa kehilangan makna dan jati dirinya,” ujarnya.
Ia berkata, Du Anyam telah berkembang menjadi ekosistem kreatif yang bekerja sama dengan lebih dari 1.600 perempuan di 54 desa di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Selatan.
Di sisi lain, jangkauan pasarnya sudah kian luas, termasuk pasar global. Titik mula merambah pasar global adalah ketika Asian Games pada 2018-ajang olahraga terbesar se-Asia-18 ribu produk anyaman dipilih sebagai suvenir. Kini, anyaman dari desa-desa kecil di Flores Timur telah sampai ke 50 negara.
Bagi Mama Emi, mengayam telah jadi jalan untuk bisa bertahan di kampung halaman dan titian harapan penghidupan untuk perempuan lainnya di daerah-daerah pelosok.
“Saya harap Du Anyam terus ada, supaya kami tetap bisa punya penghasilan dari kampung, tanpa harus merantau lagi,” katanya.
Mama Ervin menambahkan, ia selalu berharap generasi muda tertarik untuk belajar menganyam dan berkreasi menghasilkan motif-motif baru, agar tradisi turun-temurun itu tidak hilang ditelan waktu.

Sementara helai-helai lontar masih terjalin di tangan para perempuan Solor pada 1 September, di kota-kota jauh anyaman hasil karya tangan mereka mereka mungkin hadir di meja makan dan lobi hotel.
Di kampung-kampung di pulau itu, anyaman adalah penanda perempuan Solor punya alasan untuk tetap tinggal, menjaga rumah, menjaga budaya dan menjaga harapan.
Editor: Ryan Dagur





