Floresa.co – Telah lebih dari sejam Syukur Tadu bertahan di sekitar salah satu warung kopi di Beutong Ateuh, suatu kecamatan kecil di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.
Ia menunggu saya. Hanya di sekitar warung itulah ia mendapat sinyal internet yang memungkinkan kami saling berkabar.
“Hancur sudah, Kak, hancur,” kata Syukur saat kami akhirnya berbicara.
Syukur kini menjabat sebagai Direktur Apel Green Aceh, organisasi yang aktif mengadvokasi pelestarian lingkungan, khususnya di wilayah Beutong Ateuh yang terhubung dengan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).
Ekosistem hutan hujan tropis seluas lebih dari 2,6 juta hektare itu vital sebagai penjaga keseimbangan air yang turut menopang mata pencaharian warga.
KEL juga merupakan rumah terakhir bagi satwa endemis–termasuk orangutan, gajah, harimau dan badak Sumatera.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Beutong seumpama jantung KEL. Di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Taman Nasional Gunung Leuser itu berkecipak pelbagai jenis ikan air tawar sumber protein warga. Airnya yang jernih mengairi sekitar 500 hektare lahan pertanian sekitar.
Sebegitu bergantungnya warga pada Krueng Beutong, hidup mereka terasa hancur kala banjir bandang memorakporandakan DAS itu pada 26 November.
“Bagaimana kami dapat memulihkan ini semua?” kata Syukur menatap Krueng Beutong dari kejauhan.
Deforestasi Brutal
Bencana Sumatra pada pengujung November bukan tiba-tiba datang.
Pada 21 November, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah secara resmi merilis peringatan dini tentang pertumbuhan bibit siklon 95B di sekitar Selat Malaka.
Dalam pernyataannya, BMKG mengingatkan bibit siklon itu berpotensi berevolusi menjadi siklon tropis. Pertumbuhannya disertai serangkaian cuaca ekstrem, termasuk berhari-hari hujan deras yang tumpah di atas daratan Aceh dan Sumatera Utara.
Sejumlah lembaga riset independen dan organisasi pembela lingkungan menilai peringatan dini BMKG tak lekas diikuti aksi dini, termasuk pemetaan pemerintah akan kerentanan wilayah yang berpotensi terdampak.
Absennya mitigasi risiko memicu katastrofe kala 95B akhirnya berevolusi menjadi siklon tropis Senyar.
Hingga 18 Desember, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 1.608 orang meninggal, ratusan masih hilang dan lebih dari 5.000 orang terluka akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Jumlahnya kemungkinan bertambah apabila penanganan bencana berjalan lambat selagi sejumlah wilayah masih terisolasi.
Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menilai kemudahan pemberian izin industri ekstraktif di hulu turut memicu deforestasi brutal yang berujung bencana mematikan di Aceh.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang diolah JATAM menunjukkan Aceh kini dibebani 31 izin tambang dengan total luas konsesi 156.7411,12 hektare. Jumlah tersebut belum termasuk pertambangan tanpa izin (PETI) yang didominasi pertambangan emas ilegal.
Selain ledakan industri ekstraktif, Aceh dibebani empat izin kehutanan dengan luas konsesi 207.177 hektare. Salah satunya izin PT Tusam Hutani Lestari, perusahaan perkebunan hutan tanaman industri (HTI) milik Presiden Prabowo Subianto yang menguasai lahan seluas 97.300 hektare.
Data Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menunjukkan provinsi itu kehilangan tutupan hutan hingga 82.898 hektare dalam kurun 2018-2024. Seluas 5.699 hektare di antaranya hilang dalam KEL pada 2024, naik dari 4.854 hektare pada setahun sebelumnya.
“Deforestasi memicu penyempitan habitat satwa endemis KEL,” kata Geographic Information System Specialist HAkA, Lukmanul Hakim. Penyempitan tersebut diikuti hilangnya sumber makanan yang berpotensi meningkatkan perburuan sekaligus menimbulkan konflik satwa dan manusia.
“Saya sungguh tak ingin itu terjadi di Aceh,” kata Lukman, yang hasil risetnya soal KEL ditampilkan dalam film “17 Surat Cinta.”
Deforestasi ugal-ugalan tak cuma terjadi di Pulau Sumatra.
Global Forest Watch mencatat Pulau Flores telah kehilangan 83 persen tutupan hutan dalam kurun 2001-2024. Pada saat yang sama, menurut data HuMa, “industri ekstraktif marak di seluruh wilayah kepulauan NTT sejak 2007.”
Tak hanya di pulau besar, industri ekstraktif juga menyesaki pulau-pulau kecil NTT.
Auriga Nusantara mencatat 24 badan usaha mengantongi izin tambang di lima pulau kecil NTT hingga Juli. Masing-masing Adonara, Lembata, Pantar, Rote dan Sabu. Mangan paling banyak ditambang.
Terhadap maraknya industri ekstraktif itu, pakar kelautan Universitas Sam Ratulangi di Sulawesi Utara, Rignolda Djamaluddin mengingatkan: “Sekecil apapun luas industri tak berkeadilan, entah tambang maupun wisata, tetap ia punya daya rusak di sebuah pulau kecil yang pada dasarnya sudah rentan.”
Tak Kenal Batas
Hampir sebulan sejak banjir bandang menerjang, sebagian wilayah Beutong Ateuh masih terendam air berlumpur dan gelondongan kayu. Akses jalan lumpuh total.
Sekitar 85 persen perkampungan hilang, menurut data Apel Green Aceh. Warga mengungsi ke hutan perbukitan.
Bantuan bagi warga disalurkan menggunakan perahu karet seadanya, selain uluran kabel yang dibentangkan di atas DAS Krueng Beutong yang kini terpecah menjadi tiga jalur.
Di tengah-tengah kesusahan para penyintas, pemerintah belum juga menetapkan serangkaian katastrofe Sumatra menjadi bencana nasional. Padahal, status tersebut akan menopang dukungan anggaran yang dapat mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana.
Alih-alih bergerak cepat dan responsif, sejumlah pejabat justru menggunakan media sosial mereka demi mendongkrak popularitas pribadi. Beberapa di antaranya memberikan pernyataan yang–setidaknya bagi Syukur dan Lukman–“nir-empati dan menyakiti penyintas.”
“Nasib kami sedang tak pasti. Paling tidak, bisakah pernyataan mereka (pejabat) menguatkan kami?” kata Syukur.
Hingga hari ini Syukur masih mondar-mandir menyeberangi DAS Krueng Beutong, menyalurkan bantuan yang dihimpun secara perorangan maupun organisasi.

Bantuan tersebut datang dari pelbagai wilayah, termasuk Pulau Jawa dan wilayah kepulauan Maluku.
Bagi Syukur, kedatangan bantuan tersebut menunjukkan “rasa kemanusiaan yang tak mengenal batas,” baik wilayah, pekerjaan maupun keyakinan.
Pernyataannya membuat saya kembali pada suatu hari kala menerima pesannya: “Kak, hujan deras lagi di sini. Doakan kami ya Kak, dengan cara yang Kakak bisa dan biasa lakukan.”
Pesannya disertai beberapa video yang menunjukkan hujan turun deras sampai-sampai suaranya terdengar seperti gemuruh.
Melihat video kiriman Syukur, saya sekaligus tersadar bahwa bencana bisa saja begitu dekat dengan kita. Pekan ini mungkin Syukur yang mengirim video. Pekan depan bisa jadi saya, Anda atau kita.
Editor: Anno Susabun





