Kisruh SMA Katolik di Manggarai Timur; Sekolah Lengang, Guru Mengadu ke Pemda, Belum Ada Solusi Jelas dari Yayasan Soal Gaji

Imam Katolik Ketua Yasukmatim bilang “apakah nanti happy ending atau bad ending, kita (akan) lihat”

Floresa.co – Suasana di lingkungan SMA Katolik Pancasila Borong, Manggarai Timur tampak lengang pada 11 Februari, dua hari sesudah aksi protes guru terkait pemotongan gaji mereka oleh yayasan yang bernaung di bawah Gereja Katolik.

Sekitar pukul 10.00 Wita, Floresa yang mendatangi sekolah itu, mendapati halaman yang tampak sepi. Hanya beberapa pegawai yang duduk di depan ruang kerja mereka.

Selain itu, sejumlah siswa berseragam pramuka terlihat berada di salah satu ruangan yang terletak satu deret dengan ruang kerja kepala sekolah. 

“Sepertinya tidak ada KBM – Kegiatan Belajar Mengajar – hari ini. Kami hanya datang saja tadi,” kata satu di antara siswa itu.

Lima belas menit berselang, Floresa menelusuri sisi utara bangunan sekolah itu dan disambut seorang pegawai. 

“Rupanya akan ada pertemuan dengan orang dinas hari ini,” katanya saat ditanyai keberadaan Kepala Sekolah, Romo Pankrasius Wahu Nudan.

Tak lama kemudian, beberapa orang yang sebagian besar berpakaian kemeja putih mulai berdatangan satu per satu. Romo Pankrasius juga tiba sambil berbicara lewat telepon. 

Informasi yang dihimpun Floresa, para tamu itu merupakan beberapa Kepala SMA yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Manggarai Timur. Di antara mereka ada Koordinator Pengawas Tingkat SMA, Lukas Sumba.

Dari seorang guru di salah satu SMA di Manggarai Timur, Floresa mendapat salinan pemberitahuan melalui pesan Whatsapp yang dibagikan Frumensius Hemat, Ketua MKKS yang juga Kepala SMA Negeri 6 Kota Komba.

Isi pesan itu adalah permintaan kepada semua kepala dan guru SMA, baik negeri maupun swasta, “untuk tidak memberi respon berlebihan terkait dinamika yang terjadi di SMAK Pancasila Borong, khusus di media sosial.”

Frumensius juga menyatakan telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi, sekaligus memohon kepada para kepala sekolah dan guru untuk tidak memperkeruh suasana dan kondisi sekolah itu.

Guru Mengadu ke Pemda: Gaji Dipotong Tanpa Pemberitahuan

Situasi mengejutkan terjadi pada 9 Februari ketika para guru, pegawai dan sejumlah siswa SMA Katolik Pancasila melakukan aksi protes terbuka di Yayasan Sekolah Umat Katolik Manggarai Timur atau Yasukmatim di Rana Loba. Mereka berjalan kaki ke tempat itu yang berjarak sekitar satu kilometer ke arah utara.

Hari itu juga, mereka mogok mengajar, menyebabkan aktivitas pembelajaran mulai berhenti total. 

Mereka memprotes kebijakan yayasan yang disebut memotong gaji secara sepihak tanpa pemberitahuan. 

Ketua Yasukmatim Romo Simon Nama menolak ditemui sehingga para guru akhirnya memutuskan mengadukan persoalan tersebut ke Dinas Ketenagakerjaan Manggarai Timur pada hari yang sama.

Seorang guru yang meminta identitasnya dirahasiakan berkata nominal gaji mereka sebelumnya diurus langsung manajemen sekolah sesuai masa dan beban kerja, sedangkan yayasan hanya menyalurkan dana. 

Kebijakan itu berubah dan mulai dikendalikan seluruhnya oleh yayasan sejak awal tahun ini.

Ia berkata, protes mereka pada 9 Februari dipicu pemotongan gaji bulan lalu, tanpa penjelasan sebelumnya.

“Kami kaget saat gaji Januari 2026 masuk. Ternyata ada pemotongan, sebelumnya tidak ada penjelasan apa pun,” kata seorang guru lainnya, seperti dilansir Bacerita.id.

Besaran pemotongan, katanya, bervariasi. Guru-guru senior yang telah mengabdi belasan hingga puluhan tahun—dengan gaji pokok sekitar Rp2 juta—mengalami pemotongan sebesar Rp500 ribu hingga Rp800 ribu.

Sementara gaji guru yang masa kerjanya lebih singkat dipotong Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.

Seorang guru lainnya menjelaskan, nominal gaji mereka tidak memenuhi ketentuan Upah Minimum Kabupaten sebesar Rp2.455.898, setara dengan Upah Minimum Provinsi NTT. 

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Manggarai Timur, Ade Manubelu mengaku sudah bertemu dengan perwakilan para guru di kantornya pada 11 Februari.

Merespons pengaduan itu, Ade berjanji akan menemui pihak yayasan. 

“Kasusnya sudah dipelajari, besok (12 Februari) jam 9.00 Wita kami akan ke Yasukmatim, kami minta klarifikasi,” katanya kepada Floresa.

Ketua Yasukmatim sekaligus Vikaris Episkopal Borong, Romo Simon Nama (tengah) saat memberi keterangan terkait kisruh pemotongan gaji guru SMA Katolik Pancasila kepada sejumlah jurnalis pada 11 Februari 2026. (Dokumentasi Floresa)

Respons Kepsek dan Ketua Yayasan

Dihubungi melalui Whatsapp pada 11 Februari sore, Kepala Sekolah, Romo Pankrasius mengklaim persoalan tersebut sudah diselesaikan. 

Ia tak merinci bentuk penyelesaiannya, hanya menyebut bahwa keputusan akhir berada di pihak Yasukmatim.

Saat ditanya terkait kelanjutan kegiatan belajar mengajar, ia menegaskan bahwa sekolah akan berjalan seperti biasanya.

Sementara itu, Romo Simon Nama berkata pada 11 Februari siang bahwa pihaknya tetap memperjuangkan penyelesaian masalah secara internal dengan pendekatan kekeluargaan.

“Kami beri waktu dua hari kepada mereka (para guru). Jangan ditunda-tunda,” katanya.

Ia menyebut aksi mogok mengajar sejak 9 Februari sebagai tindakan indisipliner yang mengganggu proses pendidikan.

“Soal upah guru itu urusan internal kami. Jangan dulu diomongkan ke publik,” katanya.

Romo Simon juga menjelaskan, pembahasan terkait gaji para guru sudah dilakukan sejak Oktober 2025 dan telah disepakati bersama, meski berita acaranya belum dibuat.

Ia juga berjanji akan menyampaikan hasil resmi penyelesaian masalah itu kepada media setelah proses internal selesai.

“Apakah nanti happy ending atau bad ending, kita lihat nanti,” ujarnya sambil tertawa.

Seorang guru lainnya yang berbicara kepada media menyatakan kendati hanya direncanakan selama dua hari, aksi mogok akan terus mereka lakukan hingga ada kejelasan dari yayasan.

“Anak-anak tetap diliburkan sampai ada jawaban pasti. Kalau ada solusi, baru kami bekerja lagi,” katanya.

Editor: Anno Susabun

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA