Epidemi HIV/AIDS dan Upaya Pencegahannya di Kabupaten Manggarai

Hari HIV/AIDS sedunia pada 1 Desember hendaknya menjadi momen memikirkan kembali langkah-langkah yang efektif dalam pencegahan epidemi itu

Oleh: Wilibaldus Julian Siga

Setiap tanggal 1 Desember, kita memperingati Hari HIV/AIDS sedunia, bagian dari rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan mulai 25 November hingga puncaknya pada Hari HAM Sedunia pada 10 Desember.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi rentan terhadap infeksi berbagai penyakit. Jika tidak segera ditangani dan imunitas melemah drastis, HIV akan  berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).

Secara medis, HIV bukan penyakit yang menular melalui interaksi sosial biasa, bukan melalui pelukan, berbagi makanan, atau sentuhan. Penularan hanya terjadi melalui hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah terkontaminasi, serta penularan dari ibu ke bayi dalam kehamilan atau menyusui. 

Namun pemahaman ini belum sepenuhnya sampai ke seluruh lapisan masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Masih banyak yang menganggap HIV sebagai kutukan moral, bukan persoalan kesehatan. Pandangan seperti ini memperluas ruang penularan karena orang takut memeriksakan diri.

Tren Peningkatan

Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan, Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV. 

Data Kementerian sampai tahun 2023 menunjukkan 57.299 orang positif terinfeksi dari 6.142.136 jiwa yang dites HIV. Persentase kasus HIV tertinggi dilaporkan terjadi pada kelompok usia 25–49 tahun (64 persen), yang diikuti kelompok usia 20–24 tahun (18,1 persen). 

Jumlah itu naik drastis pada 2025 di mana tercatat 564.000 ODHIV.

Data skala lokal di Manggarai menunjukkan tren yang lebih mengkhawatirkan. Menurut laporan terbaru, total kasus terdeteksi di Manggarai mencapai 347 orang, tertinggi dibanding kabupaten tetangga Manggarai Timur dan Manggarai Barat.

Dalam kurun 2022–2025 terjadi lonjakan jumlah kasus baru: pada 2022 tercatat 25, 2023 sebanyak 39, 2024 sebanyak 51, dan hingga Oktober 2025 sudah ada tambahan 45 kasus baru. 

Per Oktober 2025, jumlah kasus di Manggarai naik menjadi 351, sedangkan Manggarai Timur 87 dan Manggarai Barat 84 kasus. Dua kabupaten tetangga itu menunjukkan tren penurunan, berbeda dari Manggarai yang alami peningkatan.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun secara nasional Indonesia sudah berupaya menurunkan insiden baru, di tingkat lokal terutama di Manggarai HIV tetap meningkat. 

Kasus HIV menyebar di seluruh wilayah kabupaten Manggarai dengan prevalensi tertinggi berada di Kecamatan Langke Rembong. Sebaran kasus berdasarkan jenis kelamin menunjukkan laki-laki menjadi penderita HIV terbanyak dengan persentase 57,4 persen sementara perempuan sebesar 45,3 persen. Berdasarkan kelompok umur menunjukkan persentase kasus HIV tertinggi pada kelompok umur 25-49 tahun

Berdasarkan pekerjaan, ibu rumah tangga menempati urutan tertinggi dengan persentase sebesar 32,5 persen, disusul eks perantau 11,53 persen, sisanya wiraswasta, termasuk mahasiswa. 

Berangkat dari pengalaman sebagai petugas kesehatan, saya menilai ketimpangan jumlah penderita berdasarkan jenis kelamin dan pekerjaan kemungkinan besar terjadi karena laki-laki lebih sedikit melakukan pemeriksaan kesehatan dibandingkan perempuan. Perempuan lebih banyak melakukan skrining kesehatan melalui kegiatan skrining Triple Eliminasi, mencakup HIV, Sifilis dan Hepatitis B, khususnya pada ibu hamil. 

Tren ini jelas menunjukkan bahwa penularan masih berlangsung di tengah masyarakat, terutama pada kelompok usia produktif. Lebih mengejutkan lagi, kasus banyak ditemukan pada ibu rumah tangga, sebuah indikasi bahwa penularan tidak semata terjadi pada kelompok berisiko tinggi, tetapi telah merambah kehidupan keluarga biasa yang seringkali tidak disadari.

Hal ini juga menjadi alarm keras bahwa intervensi yang dilakukan secara medis belum cukup efektif. Edukasi belum masif, kesadaran masyarakat yang masih minim untuk melakukan tes mandiri di fasilitas kesehatan — meskipun tes sudah tersedia di dua rumah sakit dan 25 Puskesmas, dan stigma sosial yang masih mengakar. Tanpa perubahan strategi, angka kasus mungkin akan terus meningkat.

Akar Masalah

Lonjakan kasus yang sangat masif di Manggarai dari 2022 hingga 2025 menandakan adanya celah besar dalam sistem pencegahan, deteksi dini dan upaya penanganan.

Penyebabnya sangat kompleks, bukan hanya faktor medis tetapi juga perilaku masyarakat dalam konteks sosial dan budaya. Sebagai contoh, perilaku seksual dengan banyak pasangan tanpa alat kontrasepsi seperti kondom masih menjadi jalur penularan paling dominan, disusul penggunaan jarum suntik tidak steril. 

Namun persoalan yang lebih dalam adalah kurangnya literasi kesehatan seksual, anggapan tabu membicarakan seks secara terbuka, serta kuatnya stigma yang menghalangi masyarakat untuk memeriksakan diri di fasilitas kesehatan. 

Ironisnya, penularan HIV terjadi di hampir semua kelompok usia dan tanpa memandang latar belakang pekerjaan.

Mobilitas masyarakat juga berkontribusi dalam penularan HIV/AIDS, banyak warga yang merantau keluar daerah membawa risiko terpapar, kemudian kembali tanpa kesadaran untuk melakukan skrining untuk deteksi dini.

Sementara itu, sebagian kelompok muda terpapar pergaulan baru tanpa pengetahuan memadai tentang penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.

Yang lebih mengkhawatirkan, stigma dan diskriminasi masih begitu kuat. Banyak orang menganggap HIV sebagai “aib”, sehingga penderitanya memilih diam. 

Situasi ini membuat deteksi dini terhambat, dan penularan berlangsung tanpa diketahui. Dalam kondisi seperti ini, angka tinggi kasus HIV/AIDS bukan hanya masalah statistik, tetapi gambaran lemahnya perlindungan sosial terhadap masyarakat kita sendiri.

Bagaimana Penanganannya di Manggarai?

Meski belum ada obat untuk menanggulangi penyebarannya, terapi antiretroviral (ARV) mampu menekan jumlah virus sehingga penderita dapat hidup sehat dan tidak menularkan HIV. Terapi ARV adalah penanganan dengan menggunakan kombinasi obat untuk menghentikan replikasi virus.

Meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Manggarai menandakan perlunya langkah serius dan terarah. Upaya penanggulangan tidak cukup hanya dengan sosialisasi sesekali, yang dibutuhkan adalah pendekatan menyeluruh dan berkelanjutan.

Pertama, memperluas akses tes HIV secara gratis dan rahasia, sebab deteksi dini adalah kunci pengendalian virus. Pemerintah daerah perlu menyediakan layanan tes di puskesmas, sekolah, kampus hingga desa-desa. Tes harus bersifat rahasia, aman dan tanpa stigma.

Kedua, kampanye edukasi seharusnya dilakukan secara lebih konkret dan tidak menghakimi serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Materi seperti cara penularan, penggunaan kondom, bahaya berbagi jarum suntik dan pentingnya tes rutin harus diperkenalkan sejak remaja.

Ketiga, hal yang tak kalah penting adalah penanganan stigma secara struktural dan kultural. Tokoh agama, tokoh adat dan komunitas lokal harus dilibatkan untuk menyampaikan pesan bahwa HIV bukan aib. Langkah ini sangat penting karena budaya Manggarai memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku sosial masyarakat.

Keempat, penguatan layanan ARV secara teratur bagi ODHIV untuk menjamin hidup sehat dan menekan risiko penularan hingga hampir nol. Karena itu, ketersediaan ARV harus terjamin dan ODHIV perlu mendapat pendampingan psikososial.

Kelima, institusi pendidikan dan komunitas kaum muda perlu terus dilibatkan mengingat mereka adalah kelompok paling rentan sekaligus paling strategis menjadi agen perubahan. Program edukasi berbasis komunitas pemuda, karang taruna dan mahasiswa dapat mendorong perubahan perilaku yang lebih cepat.

Lima tawaran upaya tersebut hanya dapat tercapai jika pencegahan dan penanganan HIV/AIDS digencarkan sebagai gerakan masyarakat, bukan hanya program pemerintah. Ketika setiap keluarga dan komunitas memiliki kesadaran yang sama, penularan dapat ditekan secara signifikan.

Dengan pendekatan ilmiah, humanis dan berbasis komunitas, saya yakin Manggarai dapat membalikkan keadaan. HIV bisa dicegah, dikendalikan dan dampaknya dapat diminimalkan, jika semua pihak, dari pemerintah hingga keluarga, bersedia bergerak bersama.

Wilibaldus Julian Siga adalah Petugas Promosi Kesehatan di Puskesmas Pagal, Kabupaten Manggarai, alumnus Magister Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya

Editor: Anno Susabun

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING