Memelihara Alam, Petani Hewa di Flores Timur Lestarikan Ritual Warisan Leluhur

Sementara warga lainnya beralih ke pupuk dan pestisida kimia, sekelompok petani di Hewa masih mempraktikkan ritual adat dan memanfaatkan bahan-bahan alami

Floresa.co Di salah satu sudut petak sawah, Marselus Ribu Tapun bersiap-siap menjalani ritual pemberkatan benih padi yang siap ditanam.

Warga Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur itu  menempatkan beberapa helai daun pulai [rita roun] dan satu biji kemiri [gelo weran] yang telah dibelah jadi tiga ke dalam tempurung berisi air.

Ia lalu bergumam pelan, sembari memerciki benih, dalam ritual yang disebut Sisa Omak.

Kamang tawa nora epan, beli ami ihin iana ami newan moret,” gumamnya dalam bahasa Hewa: Tumbuhlah dengan baik dan subur agar kami dapat memperoleh hasil melimpah dan memenuhi kebutuhan hidup.

“Dalam doa-doa yang diucapkan, kami berharap benih yang diberkati dapat tumbuh dengan subur, memberikan hasil yang melimpah dan terhindar dari ancaman hama,” kata Marselus kepada Floresa pada Desember 2023.

Kemiri, daun pulai dan air yang digunakan dalam ritus Sisa Omak atau ritus pemberkatan benih. (Maria Margaretha Holo/Floresa)

Ketiga bahan yang digunakan dalam ritual itu punya makna masing-masing, katanya.

Daun pulai sebagai media percik benih mempunyai khasiat penyejuk, blatan ganu bao, bliran ganu wair sinan: sejuk bak naungan pohon beringin, dingin bagaikan air.

Sementara kemiri diyakini sebagai ramuan untuk menyembuhkan luka, taru nawuk dalam bahasa Hewa dan wair atau air diyakini sebagai sumber kehidupan.

Tak hanya ritual Sisa Omak, saat Floresa menemui Marselus seminggu kemudian, sekitar 30 menit ia mengajak menelusuri hutan, agak jauh dari sawahnya.

Dalam kerapatan hutan, lelaki 59 tahun itu mengambil dua jenis kayu dan dua jenis daun yang masing-masing berjumlah lima. Keempatnya adalah daun bambu tumiang [wulu roun], daun jambu air hutan [ai raon], pucuk tanaman sejenis rotan [kuar ubun] dan pimping atau sejenis rumput menyerupai gelagah [dalo].

Di atas bale-bale di dekat rumahnya, Marselus lalu memilah bahan-bahan itu satu per satu.

Ditemani Agustinus Liwu, warga lainnya, ia membuat lima ikatan yang masing-masing telah disisipkan empat jenis tanaman tersebut. Paku berukuran lima sentimeter turut diselipkan dalam ikatan itu.

Marselus Ribu Tapun dan Agustinus Liwu, warga Desa Hewa di Kabupaten Flores Timur sedang memilah beberapa jenis kayu dan daun yang akan digunakan untuk ritual Ule Anin. (Maria Margaretha Holo/Floresa)

Setelah memastikan benar-benar menyatu, ia bergegas menanamnya satu per satu di setiap sudut petak sawah.

Ia lagi-lagi merapal mantra: “Ami neni not mora nian tana, ama lero wulan reta, iana nalu newan tawa nora epan, raon, ule nora kenaha goit nake a”: Kami meminta kepada wujud tertinggi langit dan bumi serta alam semesta agar tanaman padi bisa tumbuh dengan subur, tanpa ada gangguan walang sangit, ulat, tikus ataupun gangguan lainnya.

Ritual Ule Anin itu pun berakhir kala Marselus membenamkan satu ikatan terakhir di tengah sawah.

“Kami sebut ini ramuan alami untuk mengusir hama. Cukup tanam di empat sudut dan satunya di tengah kebun,” katanya.

Tak ada penjelasan ilmiah khusus di balik pemilihan empat tumbuhan tersebut.

Namun, kata dia, warga Hewa meyakini wulu roun dapat mencegah ulat tanah mendekat, sementara ai raon, dengan aromanya yang khas, dapat mengusir walang sangit.

Kuar ubun dipercaya dapat menangkal serangan ulat batang padi dan dalo untuk menangkis serangan hewan liar lainnya.

Marselus mengatakan penggunaan ramuan itu tergantung berapa kali mereka menanam padi, terutama bila sudah terlihat jejak serangan hama.

“Bila sudah ada tanda-tanda serangan ulat atau walang sangit, kami mulai ambil tanaman-tanaman ini sebagai penangkal,” katanya.

Bertahan di Tengah Gempuran Pupuk dan Pestisida Kimia

Marselus dan 20-an warga lainnya di Hewa mempertahankan rangkaian ritual dan obat tradisional ini bertahun-tahun, dari generasi ke generasi, meski sekarang kian terancam.

Dua ritual itu, kata Marselus, terjaga dengan baik saat semua warga desa masih mengolah padi ladang.

Namun, situasinya berubah saat program nasional pembukaan sawah baru digalakkan pemerintah hampir satu dekade silam.

Pada 2016, pemerintah Kabupaten Flores Timur mencanangkan pembukaan 200 hektare lahan sawah baru di desa itu, meski hanya 47 hektare yang berhasil dicetak hingga 2017.

Bersamaan dengan kebijakan itu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi meresmikan empat kelompok tani di Desa Hewa – Rinjani, Ri’i Anak, Ri’i  Gete dan Rungat Watu Api.

Langkah itu beriringan dengan masuknya praktik baru pengolahan lahan pertanian, terutama penggunaan pupuk dan pestisida kimia.

Sejumlah petani berharap peralihan ke pupuk dan pestisida kimia turut memenuhi target musim tanam dari sebelumnya hanya sekali setahun dengan padi ladang menjadi dua hingga tiga kali setahun dengan sawah.

Kendati Sisa Omak dan Ule Anin tetap dijalankan, kata Marselus, “ritual sakral yang terjaga bertahun-tahun itu sontak menjadi lebih singkat, banyak prosesnya dipangkas.”

Theresia Lelo Liwu, 48 tahun, merupakan salah satu petani yang memilih beralih ke pupuk dan pestisida kimia.

Saat ditemui Floresa, ia sedang mencampur beberapa merek pestisida, seperti Green Tonik, Spontan dan Dharmabas.

Ia mengaku tidak tahu dampak sejumlah obat penangkal hama itu untuk lingkungan, tetapi hanya mengikuti praktik yang juga dilakukan petani lain di desanya.

Ia beralasan beralih ke pupuk dan pestisida kimia karena lebih praktis, berbeda dengan pupuk dan pestisida alami yang harus diracik dan baru bisa digunakan seminggu kemudian.

Tidak semua warga Desa Hewa di Kabupaten Flores Timur masih mengolah sawah secara organik. Salah satunya adalah Theresia Lelo Liwu, 48 tahun yang sedang menyemprotkan pestisida kimia di lahannya. (Maria Margaretha Holo/Floresa)

Ketua kelompok Tani Rii Anak, Gabriel Doler Plue senada dengan Theresia.

Ia tak menggunakan pupuk alami yang “makan waktu” dan lebih memilih pupuk kimia “yang mudah dibeli di pasar.”

Pemilik sawah setengah hektare itu rela mengeluarkan biaya Rp3-4 juta selama tiga kali masa tanam untuk membeli pupuk dan pestisida kimia.

Ia berkata, tidak hanya petani sawah, sekitar 50 petani lahan kering di desa itu juga sudah beralih menggarap sawah dengan memakai bahan kimia.

Hanya sebagian kecil petani, katanya, yang teguh mempertahankan ritual dan pola pertanian tradisional.

Botol bekas pestisida kimia di dekat lahan sawah warga Desa Hewa di Kabupaten Flores Timur. (Maria Margaretha Holo/Floresa)

Alasan Menjaga Ritual Adat

Marselus dan Agustinus bukannya tidak pernah mencoba menggunakan pupuk dan pestisida kimia.

Marselus mencobanya pada 2019, namun pengalaman gagal panen membuatnya berpikir ulang.

Kala itu, sawahnya digerogoti hama wereng, tikus, belalang, walang sangit dan ulat, membuatnya hanya bisa memanen 62 kilogram padi, turun drastis dari satu ton pada tahun sebelumnya.

Ia menggambarkan pengalaman itu sebagai “rugi banyak.”

Agustinus juga punya pengalaman serupa, kendati telah menyemprot berulang kali pestisida kimia.

“Hama ternyata masih tahan dengan obat kimia,” katanya.

Situasi itu membuat keduanya berpikir keras, bagaimana bisa tetap menghasilkan panenan yang cukup, tanpa harus beralih ke bahan kimia.

Keduanya lalu memutuskan tak hanya kembali ke ritual adat.

Agustinus pun mengajak Marselus mencari solusi berbasis pengetahuan tradisional, alih-alih menambah jumlah pupuk dan pestisida kimia untuk mendongkrak hasil sebagaimana dilakukan petani lainnya.

“Saya ajak Marselus ke hutan untuk cari akar tanaman yang biasanya kami gunakan sebagai pupuk dan pengusir hama di lahan kering,” katanya.

“Kami hanya ingin mencari tahu apakah khasiatnya sama apabila digunakan pada lahan basah atau sawah.”

Keduanya memutuskan mengambil empat kayu dari hutan – wulu roun, ai raon, kuar, dan dalo. Dua di antaranya, kata dia, sulit ditemukan.

“Aroma dari akar yang kita gali sangat menyengat dan bisa membuat badan terasa lemas,” kata Agustinus.

Kepada Floresa, ia memperlihatkan tiga dari keempatnya.

Ia juga menggunakan lima ramuan alami yang diracik dari akar pohon – ai lilihea, ai pa, sese kikir, ai koloniron dan ai wawi leken.

Ramuan itu bermanfaat untuk padi secara keseluruhan, baik untuk mengusir hama,  menyuburkan, juga merangsang padi agar berbunga serempak.

“Dalam pembuatannya, kelima jenis akar tersebut dicincang terlebih dahulu, kemudian dicampur dan difermentasi dalam sebuah wadah besar selama kurang lebih satu minggu,” katanya.

Air hasil fermentasi digunakan untuk menyemprot padi guna mengusir hama maupun membantu kesuburan.

“Kalau butuh, ya tinggal ambil. Kalau habis, tinggal tambah airnya,” katanya.

“Kalau tidak dipakai lagi, kami keringkan lalu kami simpan di karung. Bila dibutuhkan lagi, kami ambil dan rendam kembali. Bisa sampai dua tahun penggunaannya.”

Ramuan alami dari akar pohon ai lilihea, ai pa, sese kikir, ai koloniron dan ai wawi leken yang difermentasi dan digunakan untuk mengusir hama dan juga menyuburkan tanaman. Hasil fermentasi ini juga dapat merangsang padi agar berbunga secara serempak. (Maria Margaretha Holo/Floresa)

Setelah jadi ampas, katanya, sisa-sisa akar itu bisa digunakan sebagai pupuk tanah.

Hasil eksperimen itu, kata dia, ternyata menarik perhatian para petani lain di desanya.

Setiap hari, kata dia, banyak yang meminta racikan tersebut.

“Mereka datang bawa tangki untuk isi air hasil fermentasi itu.”

Jaga Ritual, Jaga Alam

Upaya petani Hewa mempertahankan ritual dan pengetahuan tradisional itu berjalan beriringan dengan komitmen menjaga alam, seperti sumber air.

Terdapat empat mata air yang menjadi sandaran mereka – mata air Bekor, Lewok, Waigamur dan Raon. Dua mata air pertama untuk kebutuhan sehari-hari, sementara dua lainnya untuk irigasi.

Kepala Suku Liwu Hikon – suku mayoritas di Hewa -, Mikael Mere Liwu, 56 tahun, berkata, dalam tradisi mereka, terdapat ritual Soba Song Nitu atau memberi sesajen kepada leluhur atau roh penjaga mata air sekali dalam tiga tahun.

Dalam ritual itu, terdapat rumusan doa memohon kepada leluhur atau roh penjaga mata air agar memberi mereka air bersih tanpa henti: “Neni tora nitu noan beli ita wair, ete ami plaan pola beli miu minu baa, iana beli ami wair na ba plosar. Beli nimu ga ninu, ga daha, ninu linok, iana nimu jaga plamang wair ba daa duden dadin.”

“Mata air di desa kami selalu mengalir dan kami tidak pernah kekurangan. Karena itu, Soba Song Nitu dilakukan rutin dalam tahun-tahun yang telah dijadwalkan atau ditentukan,” katanya.

Mikael berkata, jika terjadi kerusakan di daerah sekitar mata air, seperti ada yang menebang pohon, akan ada sanksi berat, berupa denda hewan seperti babi atau kambing yang dipersembahkan untuk memohon ampun pada leluhur.

“Hal tersebut dilakukan agar ada efek jera dan menjadi pelajaran bagi banyak orang sehingga tidak merusak alam,” katanya.

Mikael Mare Liwu, Kepala Suku Liwu Hikon bersama beberapa petani dari Desa Hewa sedang menanam padi di ladangnya. (Maria Margaretha Holo/Floresa)

Sanksi tersebut tidak hanya datang dari tetua adat, namun juga dari pemerintah desa, sebagaimana diakui Sekretaris Desa Hewa, Klaudius Lein Kei.

Ia berkata, pemerintah wajib memberikan pembinaan dan teguran keras kepada pelanggar.

“Kami tidak menerima uang untuk sanksi tersebut. Leluhur kami telah ajarkan agar sanksi permintaan maaf berupa hewan,” kata Kladius, 37 tahun.

Ia berkata, dalam upaya menjaga mata air, masyarakat dan kelompok anak muda turut berperan.

“Anak-anak muda di desa ini selalu punya program untuk melakukan reboisasi di mata air, sekaligus membersihkan daerah-daerah sekitar mata air,” katanya.

Berjuang

Dengan alam yang terus terjaga, kata Agustinus, ia dan warga lainnya yang masih mempertahankan pola pertanian organik yakin bahwa alam akan tetap menyediakan apa yang mereka butuhkan.

“Kalau alam sudah berikan yang terbaik bagi kita, maka tugas kita adalah berterima kasih dengan cara menjaganya,” katanya.

Dengan cara pandang itu pula, katanya, pertanian organik adalah bagian dari menjaga alam, berbeda dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang bisa merusak alam.

Namun, bagaimanapun, upaya menjaga warisan leluhur ini tidaklah mudah.

Pada 2020, mereka sempat mendapat bantuan dari Pemerintah Desa Hewa lewat Badan Usaha Milik Desa [BUMDes] yang membantu pemasaran beras organik.

BUMDes itu membeli dari mereka, lalu memasarkan dengan merek dagang “Beras Helero.”

Tahun lalu, sayangnya, badan usaha itu tidak lagi beroperasi, tanpa diketahui pasti pemicunya.

Absennya BUMDes warga Hewa kini secara mandiri menjual ke pasar-pasar di Flores Timur.

Sekretaris Desa Hewa, Klaudius Lein Kei berkata pemerintah desa berjanji tetap mendukung para petani seperti Marselus dan Agustinus,  kendati “BUMDes sudah tidak berjalan lagi.”

“Ke depannya BUMDes akan dibentuk kembali untuk menerima produk-produk yang berkaitan dengan kearifan lokal masyarakat Desa Hewa,” janji Klaudius.

Kendati tidak semua warga desa tetap memilih pola pertanian organik, desa tetap mendukung dan memberikan keleluasaan kepada mereka memilih metode yang tepat, katanya.

“Mana yang terbaik untuk mereka, kami tetap dukung.”

Ia berkata, meskipun menerapkan pertanian organik prosesnya ribet dan beberapa bahan alaminya sulit didapatkan, “kami tetap rekomendasikan hal itu dipertahankan.”

Tetap Bertahan

Sejak akhir Februari 2024 harga beras terus melonjak di Flores Timur dan warga kesulitan mendapatkan beras kualitas premium dengan harga terjangkau.

Onsa Onan, ibu rumah tangga yang berdomisili di Larantuka, ibu kota kabupaten itu, mengaku pada awal Februari masih mendapatkan beras premium dengan harga Rp15.000-16.000 per kilogram, namun naik menjadi Rp17.000 per kilogram sebulan kemudian.

Harga ini, kata Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Flores Timur, Siprianus Ritan, melebihi Harga Eceran Tertinggi [HET] versi Badan Pangan Nasional dengan beras premium Rp14.500 per kilogram.

Agustinus Liwu, 37 tahun, mengumpulkan akar-akar pohon yang dipakai sebagai bahan baku pupuk organik dan pengusir hama. (Maria Margaretha Holo/Floresa)

Saat warga lainnya kebingungan mendapat beras premium itu, tidak demikian dengan Marselinus dan Agustinus.

Agustinus mendapat 1,5 ton beras setiap musim panen dari 12 petak lahan seluas 14 are. Sebagiannya untuk konsumsi keluarganya, sebagian lagi untuk dijual.

Pada panenan tahun lalu, ia tidak berani jual karena panas berkepanjangan dan cuaca yang tidak menentu.

“Saya khawatir akan terjadi gagal panen, jadi musim panen kali lalu saya tidak jual.”

Ia menyebut beras organik produksi mereka bersaing dengan beras premium yang susah didapat di toko-toko dan dengan harga yang lebih mahal.

Mereka memasarkannya dengan harga Rp 15.000 per kilogram.

“Kendati bagi orang lain beras yang kami produksi mungkin terasa biasa saja,” tetapi kata Marselus, “untuk kami, sudah tahu betul bedanya di lidah.”

“Beras organik juga akan bertahan selama kurang lebih 24 jam setelah dimasak. Kalau beras kimia akan lebih cepat basi,” katanya.

Alasan demikian yang membuat mereka tetap bertahan, sembari terus merawat alam yang menyediakan apa yang mereka butuhkan.

“Alam yang menyediakan semuanya,” kata Marselus, dan karena itu menjaganya menjadi suatu keharusan.

Selaras dengan itu, Agustinus meyakini inti dari semua ritual yang kini masih mereka lestarikan “adalah ungkapan terima kasih kepada Tuhan dan leluhur yang sudah menjaga alam kami.”

Editor: Ryan Dagur

Artikel ini adalah bagian dari beasiswa liputan program For the People

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini. Gabung juga di grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini.

TERKINI

BANYAK DIBACA

BACA JUGA