Melacak Jejak Batuan Unik di Pinggiran Labuan Bajo

Terhampar di permukaan bukit, bebatuan itu berbentuk prismatik dan lingkaran dengan panjang bervariasi. Pemilik lahan yang juga pebisnis menatanya untuk jadi lokasi wisata

Floresa.coPotongan video singkat yang beredar luas di media sosial pada awal Agustus mengungkap keberadaan batu-batu unik di dekat Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Dalam video berdurasi 14 detik itu, tak ada informasi rinci lokasi keberadaan batu-batu tersebut. 

Hanya disebut bahwa batu-batu itu terdapat di Merombok, sekitar tujuh kilometer arah timur kota pariwisata itu.

Floresa melakukan penelusuran dengan video itu sebagai petunjuk tunggal.

Penelusuran bermula pada 14 Agustus sore dengan mendatangi Merombok.

Saat video itu ditunjukan kepada warga di pinggir Jalan Raya Labuan Bajo-Ruteng, tak satupun yang mengetahuinya. Mereka bahkan tak yakin jika lokasi di video itu memang berada di Merombok.

Penelusuran selanjutnya hanya dengan modal nekat: mengunjungi lokasi-lokasi yang sedang digusur dan membuntuti truk-truk proyek yang beraktivitas di Merombok.

Setelah sesaat melempar pandang ke sekitar, di arah timur Merombok terdapat satu titik terbuka bekas penggusuran. Lokasi itu pun diputuskan menjadi tujuan selanjutnya.

Saat mendekat ke lokasi itu, aksesnya berupa jalan tanah. Debu pun beterbangan.

Tak ada yang unik di lokasi itu. Semua tampak biasa-biasa saja. Bebatuan yang telah dipecah-pecah berserakan di permukaan tanah yang telah digusur.

Floresa pun meninggalkan tempat itu.

Perjalanan diteruskan dengan mengikuti jejak-jejak ban truk hingga tiba di salah satu lokasi lain yang juga telah digusur.

Di lokasi itu, seorang bapak yang sedang berkebun menyarankan untuk berjalan terus hingga tiba di sumber suara dentuman alat pemecah batu. 

Kondisi jalan lebih ekstrim lagi. Jalan tanah yang sebelumnya datar kini menanjak dengan pepohonan di pinggir jalan yang seolah berdaun debu.

Sumber suara dentuman itu berada cukup jauh di dalam hutan pada ketinggian sekitar 40-60 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Di situ, eskavator sedang bekerja memecah batu. Tampak tiga truk pengangkut batu di lokasi itu.

Petunjuk tambahan berhasil diperoleh dari seorang pria tua yang sedang memantau pekerjaan di lokasi itu. 

Ia menyarankan untuk berjalan ke arah barat. Ia mengaku mendengar kabar bahwa di wilayah barat Merombok memang sedang ada pembangunan vila. 

“Kalau dari depan Gereja Merombok, lihatnya ke arah sana (barat). Ada batu-batu yang sudah ditanam di situ,” katanya.

“Nanti jalan saja ke arah Kampung Merombok,” tambah pria tua itu yang tak mau namanya disebut.

Perjalanan pun diteruskan ke arah barat sambil berusaha mengingat kembali petunjuknya.

Melihat sebuah truk proyek di Jalan Raya Labuan Bajo-Ruteng yang berbelok arah ke Kampung Merombok, muncul niat untuk mengekor di belakangnya.

Tiga menit kemudian, truk itu berhenti di salah satu lokasi yang ramai oleh pekerja. 

“Iya betul. Di sini lokasinya, di atas itu,” ucap seorang pekerja sambil menunjuk ke arah puncak bukit yang tingginya sekitar 50-70 MDPL.

“Tetapi kalau mau ke atas harus izin bos dulu. Bos kami ada di atas. Kalau kami tidak melarang, tetapi masalahnya bos kami ada di atas. Jadi harus ijin,” tambahnya.

Beberapa pekerja itu menunjukkan batu berbentuk balok dengan panjang sekitar empat meter yang mereka bawa dari bukit.

“Model begini batunya. Kami bawa dari atas. Kalau di atas ada yang panjangnya sampai delapan meter. Ada yang bentuknya bulat, ada yang kotak,” ucap salah seorang dari mereka.

Pada 18 Agustus, setelah sebelumnya janjian dengan pemilik lokasi, keberadaan batu-batu unik tersebut pun diketahui. 

Akses menuju bukit tempat penemuan batu-batu tersebut butuh kehati-hatian sebab harus melewati tanjakan jalan tanah.

Setibanya di permukaan bukit itu, terhampar bebatuan berbentuk prismatik dan lingkaran dengan panjang bervariasi. 

Jumlahnya tak sedikit, menciptakan kesan lautan batu.

Hamparan batuan di Bukit Pepak, Merombok. (Dokumentasi Floresa)

Meski bentuk dan ukurannya bervariasi, strukturnya sama-sama batuan keras yang pada bagian terluar terdapat lapisan menyerupai kulit batu.

Rencana Pemilik Lahan: Jadi Lokasi Wisata

Lokasi penemuan batu itu ada di lahan milik Frans Mantero.

Penelusuran Floresa di internet menemukan Frans yang berasal dari Ende adalah pendiri PT Rofenty Karsa Tama, perusahaan penjual batu dengan label Rofenty Stone. 

Menurut situs resmi perusahaan, Frans berbisnis batu sejak 1987 dan mulai mengekspornya sejak 1990 ke Amerika Serikat, Prancis, Belanda, Italia, Australia, negara-negara Asia dan Timur Tengah. 

Ditemui Floresa pada 18 Agustus, Frans tidak menampik bahwa dirinya “orang batu,” merujuk pada kedalaman pemahamannya terkait batu.

“Ende punya batu Penggajawa yang hijau itu, di Timor batu di Kolbano, Alor yang batu hitam,” katanya.

“Saya bisnis itu,” katanya, mengamini telah memulainya pada tahun 80-an. 

Frans Mantero, pemilik lahan, memantau hasil penataan bebatuan di sisi barat Bukit Pepak (Dokumentasi Floresa)

Untuk batu-batu di lahan tersebut, katanya, semuanya ditemukan di permukaan tanah tanpa penggalian.

Frans berkata, saat beberapa tahun silam membeli lokasi tersebut dari warga setempat, ia mengklaim tidak mengetahui keberadaan batu-batu tersebut.

“Waktu mau bikin jalan, ketemu batu. Nyatanya tumpukan pohon-pohon liar ini di bawahnya batu semua” katanya.

Karena itu, ia mengubah rencananya yang semula hendak menjadikan lahan itu sebagai kebun.

Kini ia merancangnya menjadi tempat wisata.

“Selama ini pariwisata Labuan Bajo orientasinya hanya laut. Di darat ini masih belum banyak. Kalau kita bisa bikin indah, paling tidak bisa menopang pariwisata di Labuan Bajo,” katanya.

Frans mengaku menyewa seniman asal Jawa untuk menata batu-batu tersebut.

Sebagian batu-batu itu telah ditata dalam posisi berdiri. Ada yang dilukis membentuk gambar Komodo, kadal purba yang menjadi ikon pariwisata Labuan Bajo. 

Batu dengan lukisan Komodo diantara batu-batu lainnya yang telah ditata dalam posisi berdiri (Dokumentasi Floresa)

Selain itu terdapat satu bangunan permanen yang sudah berdiri.

Di lokasi itu, Frans juga berencana menyediakan tempat khusus bagi UMKM lokal untuk menjual makanan dan minuman serta produk kesenian dan kerajinan tangan. 

“Teman-teman kita ada yang suplai kelapa muda, jagung, buah-buahan, kopi, jual pisang goreng dan lainnya. Kita buat di sini model warung,” tambahnya.

Barudin (55), Ketua RT setempat di Merombok, berkata tempat ditemukannya batu-batu itu bernama Bukit Pepak. 

Barudin tinggal di Merombok sejak 1992. Di daerah Kampung Merombok, kata dia, memang banyak ditemukan batu-batu berukuran besar dan panjang.

“Dulu sekitar tahun 2000an ada orang dari Bali beli batu-batu itu. Saya ikut tarik batu-batu itu dari bukit,” kata Barudin.

Siti Halija, 49 tahun, warga yang tinggal di Merombok sejak 1999 berkata batu-batu besar dan panjang memang banyak ditemukan di area sekitar Merombok.

“Sekitar tahun 2000 atau 2001 orang jual batu-batu itu. Mereka bawa ke Bali. Orang dari Bali yang beli” katanya.

Siti mengaku tak mengetahui informasi penemuan batu di Bukit Pepak, namun tidak heran mendengar hal itu.

Selain di Merombok, Floresa juga mendapat kiriman foto dari warga tentang batu serupa yang ditemukan di dekat Kampung Warloka, arah selatan Labuan Bajo.

Batu-batu tersebut berukuran panjang, menyerupai balok, dengan diameter antara 20-50 sentimenter.

Batuan yang ditemukan di dekat Kampung Waroka, arah selatan Labuan Bajo. (Dokumentasi Cely Lengo)

Apa Kata Ahli?

Floresa mengirim beberapa foto batu tersebut kepada beberapa ahli geologi.

Namun, hanya Lutfi Yondri, Peneliti Ahli Utama pada Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional yang bersedia memberi penjelasan.

Ia berkata, “balok-balok batu itu dalam ranah geologi disebut columnar joint” yang terbentuk secara alamiah dari lava yang membeku dan merekah. 

“Peristiwa terbentuknya sudah jutaan tahun yang lalu,” katanya kepada Floresa pada 23 Agustus.

Columnar joint itu sebagian ada yang muncul di permukaan tanah dan juga masih tertimbun di dalam tanah,” tambahnya.

Columnar joint, jelas Lutfi, memiliki ukuran yang bervariasi. Pada lokasi tertentu, ada yang diameternya mencapai 50 sentimeter, namun ada juga yang lebih kecil. 

Menurutnya, keberadaan columnar joint tak selalu menjadi situs megalitik, tetapi menjadi penanda adanya gunung api di lokasi atau di sekitar lokasi penemuannya.

Ia berkata, balok-balok batu itu “memang ada yang kemudian digunakan dalam lintas budaya masa lalu.”

Salah satunya adalah “untuk pembangunan punden berundak seperti di situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.”

Sementara terkait pelapukan pada permukaan batu tersebut, ia menyebutnya sebagai penanda “balok-balok batu itu tidak dalam posisi berdiri sejak masa lalu.” 

Editor: Petrus Dabu dan Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img