Krisis Keteladanan dan Minim Fasilitas Pendukung, Pendidik dan Peserta Didik di NTT Sebut Dunia Pendidikan Butuh Kolaborasi dalam Menumbuhkan Semangat Literasi

Lomba menulis merupakan sarana untuk saling terkoneksi dan berbagi  praktik baik terkait pembelajaran di sekolah masing-masing

Floresa.co – Para pendidik dan peserta didik di Nusa Tenggara Timur [NTT] menyebut krisis keteladanan dan minimnya fasilitas pendukung sebagai penghambat tumbuhnya semangat literasi di provinsi itu.

Mereka menilai lomba menulis tentang Kurikulum Merdeka yang baru-baru ini digelar KoLiterAksi – inisiatif kolaboratif Floresa, Sunspirit for Justice and Peace, dan Rumah Baca Aksara – merupakan sarana yang dapat menumbuhkan semangat literasi bagi pendidik maupun peserta didik.

Lomba yang mengusung tema “Peluang dan Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka: Sudut Pandang Pendidik dan Peserta Didik di NTT” itu digelar dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, dengan dua kategori – Artikel Analisis untuk Pendidik SD-SMA/SMK dan Artikel Liputan Mendalam untuk Peserta Didik SMA/SMK. 

Lomba yang diluncurkan pada 10 April itu diikuti oleh 15 kelompok peserta didik SMA/SMK dan 30 pendidik SD-SMA/SMK dari beberapa kabupaten. Para pemenang, yang diumumkan panitia pada 21 Mei, tersebar di antara sekolah-sekolah yang berbasis di  Pulau Flores dan Pulau Timor.

Problem Literasi

MN Aba Nuen, pendidik dari SMA Negeri Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan yang berbicara kepada Floresa pada 23 Mei berkata “yang saya amati, kampanye literasi di sekolah belum berdampak pada perilaku.”

Sekolah, kata dia, hanya menyiapkan tempat dan sarana [buku, pojok baca dan lain-lain], tetapi belum disertai pembiasaan untuk membaca, menulis, berbicara, menalar dan lain sebagainya. 

“Padahal golnya itu. Literasi harus menggambarkan tumbuhnya keterampilan seperti itu,” katanya.

Peraih juara I untuk kategori pendidik dengan judul artikel Harmonisasi Pembelajaran Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler Optimalkan Potensi Murid itu mengatakan hal lain yang menjadi penghambat tumbuhnya budaya literasi di sekolah adalah kurangnya kesadaran guru dalam memberikan teladan bagi siswa. 

Guru, kata dia, mestinya mendorong siswa untuk membaca dan menulis, tetapi mereka justru jarang melakukannya. 

“Keteladanan guru itu penting. Guru harus menjadi role model. Guru punya banyak pilihan media digital [blog, media sosial] untuk menulis, tetapi itu jarang digunakan,” ungkapnya.

Herfan Yanse Parlan Gagu, pendidik dari SMP Negeri 1 Borong, Kabupaten Manggarai Timur mengatakan lomba ini berkontribusi positif karena menjadi ajang bagi guru menunjukkan teladan kepada siswa tentang literasi. 

Selain bimbingan teknis, kata dia, pada dasarnya, siswa butuh teladan dari guru untuk menumbuhkan budaya literasi. 

“Melihat gurunya membaca, siswa pasti ikut membaca. Melihat gurunya menulis, siswa juga pasti ikut menulis,” katanya.

Peraih juara III dengan judul artikel Nasib Kearifan Lokal dalam Kurikulum Merdeka itu mengatakan lomba ini juga menjadi media bagi pendidik untuk berbagi praktik baik terkait implementasi Kurikulum Merdeka. 

Terlepas dari berbagai kritik, kata dia, “Kurikulum Merdeka telah mengubah mindset saya tentang pendidikan dan membuka ruang bagi kreativitas dan inovasi guru.”

“Persoalan dasar literasi di NTT adalah berkaitan dengan teladan, ekosistem dan literasi masih dianggap sebagai urusan dunia pendidikan,” ungkapnya.

Herfan mengaku dalam pembelajaran di kelas, “saya dihadapkan dengan tantangan bagaimana membuat literasi menjadi urusan lintas mata pelajaran,” bukan hanya urusan mata pelajaran bahasa Indonesia.

Amanda Gabriella Chrislayanto, peserta didik dari SMA Katolik Giovanni Kupang mengatakan sekolahnya sudah menerapkan budaya literasi  di mana setiap hari, pada pukul 07.00-07.15, seluruh siswa harus membaca buku minimal satu sampai tiga halaman.

Selain itu, kata dia, SMAK Giovanni juga memiliki ekstrakulikuler literasi dan sering mengundang dosen dari Universitas Nusa Cendana Kupang menjadi salah satu pembimbingnya.

Kendati demikian, menurut dia, budaya literasi masih lemah karena mungkin siswa merasa membaca hanya sebuah rutinitas sehingga cepat merasa bosan.

Selain itu, katanya, guru kurang inovatif dalam mencari cara agar siswa memiliki minat membaca dan menulis.

“Menurut saya, selama ini sekolah belum terlalu fokus ke literasi karena cuma menerapkan kegiatan membaca buku seperti novel tiap pagi selama 15 menit,” katanya.

Amanda bercerita SMAK Giovanni pernah mengadakan webinar tentang penelitian dan siswa yang memiliki hobi menulis didata agar mengikuti kegiatan tersebut. 

Dalam webinar itu, kata dia, “kami diajarkan cara melakukan parafrase terhadap informasi yang didapat dari suatu sumber.”

“Kebetulan saya salah satu peserta webinar itu. Saya lihat peserta yang ikut sangat sedikit, hanya sekitar 20 orang,” katanya. 

Frumensius Hemat, Kepala SMAN 6 Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur mengatakan persoalan dasar literasi di NTT adalah “tidak ada kebiasaan yang baik dari keluarga serta sekolah tingkat dasar dan menengah dalam menumbuhkan semangat membaca dan menulis bagi peserta didik.”

Di sekolah, kata dia, para guru belum menekankan aspek literasi dalam setiap pembelajaran. 

Selain itu, katanya, semangat menumbuhkan literasi dihadapkan pada tantangan ketiadaan akses atau daya dukung seperti bahan bacaan. 

Sementara itu, Jefrianus Kolimo, pendidik dari SMPN 2 Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua mengatakan persoalan paling utama dalam mengembangkan literasi di NTT adalah akses terhadap bahan bacaan. 

Di sekolah, kata dia, ada perpustakaan tetapi aksesnya terkesan dipaksakan karena bahan bacaan yang ada hanya sebatas buku mata pelajaran.

Penjenjangan terhadap akses bahan bacaan, katanya, juga belum terlalu diperhatikan karena “buku-buku ditaruh begitu saja.”

“Asal namanya buku ya ditaruh saja di perpustakaan. Penjenjangan buku untuk anak-anak sama sekali tidak ada,” katanya.

“Padahal, bahan bacaan harus berjenjang.  Misalnya untuk anak, ada buku untuk jenjang B1 dan B2.”

Butuh Kolaborasi

Amanda berkata lomba menulis artikel dalam bentuk liputan mendalam yang digelar KoLiterAksi merupakan “sesuatu yang baru bagi kami.”

Lomba ini, kata dia, dapat meningkatkan bakat serta minat dalam berliterasi karena “kami tidak hanya menulis, tetapi juga berlatih menganalisis suatu fenomena atau kejadian yang menjadi topik liputan.”

Ia mengaku dalam mengerjakan artikel, banyak tantangan yang dilewati seperti menentukan narasumber, mengumpulkan data, membuat naskah dan revisi yang semuanya “kami lakukan dan amati sendiri tanpa adanya guru yang membimbing.” 

Kendati demikian, kata dia, ia bersyukur karena artikel yang ditulisnya bersama Avrill Raqhuel Malelak dan Maria Gemma Galgani Orpa Beribe dengan artikel berjudul Proses Adaptasi dan Implementasi Kurikulum Merdeka sebagai Pelajaran Berdiferensiasi di SMAK Giovanni Kupang meraih juara II.

“Puji Tuhan, kami berkesempatan untuk meraih juara II tingkat SMA se-NTT, mewakili Kota Kupang,” katanya.

Amanda mengatakan minat membaca dan menulis memang tidak bisa dipaksa karena semuanya bergantung pada cara tiap-tiap siswa merespons sesuatu. 

Jika siswa ingin meningkatkan cara berpikir kritis [critical thinking], kata dia, maka mereka akan menumbuhkan minat membaca dan menulis. 

Sebaliknya, kata dia, jika literasi dianggap sebagai rutinitas, maka dengan sendirinya siswa akan merasa bosan dan mungkin saja tidak tertarik untuk membaca dan menulis.

Frumensius mengatakan lomba ini sangat penting untuk meningkatkan literasi peserta didik dan pendidik. 

Kesempatan seperti ini dapat menumbuhkan gairah menulis, kendati “peserta didik kami belum beruntung dalam lomba ini.”

Ia berkata gerakan literasi dan numerasi menjadi tanggung jawab bersama yang melibatkan semua stakeholder seperti pemerintah, penggiat literasi dan media massa. 

Selama ini, kata dia, Dinas Pendidikan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi sudah mengadvokasi dan mendukung sekolah lewat berbagai macam kegiatan dan lomba yang berhubungan dengan literasi. 

Bahkan, kata dia, Dinas Pendidikan memonitor secara serius kebijakan anggaran di sekolah yang berhubungan dengan kegiatan literasi dan numerasi. 

“Menurut saya, ini sangat penting dalam menggelorakan semangat literasi,” katanya.

Nuen mengatakan “lomba seperti ini bukan ajang untuk berkompetisi, tetapi kesempatan untuk berbagi praktik baik di ekosistem sekolah melalui tulisan.”

Saat ini, kata dia, yang dibutuhkan dunia pendidikan adalah “kolaborasi dan syering, bukan kompetisi” dan lomba menulis merupakan “sarana bagi para pendidik untuk saling terkoneksi berbagi praktik baik terkait pembelajaran di sekolah masing-masing.” 

Ia berkata lomba ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi manajemen sekolah untuk merancang program literasi yang mendukung kreativitas menulis guru dan murid. 

Budaya literasi, kata dia, tumbuh dari pembiasaan di sekolah dan lomba seperti ini dapat menstimulasi semangat dan motivasi siswa. 

“Dalam konteks NTT, kita memang perlu bekerja keras dan memperkuat kolaborasi dengan banyak pihak untuk mengembangkan budaya literasi,” katanya.

Jefrianus mengatakan dalam konteks NTT, lomba ini merupakan media bagi guru-guru untuk memberikan pendapat dan opini terkait pengalamannya mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. 

Secara teknis, kata dia, Kurikulum Merdeka dirancang dengan pendekatan dari bawah ke atas, sehingga lomba ini menjadi penting, terutama untuk mendengar suara guru.

Peserta yang menjadi finalis kategori Analisis untuk Pendidik dengan judul artikel Kurikulum Merdeka dan Tantangannya dalam Pembelajaran itu mengatakan lomba ini juga merupakan ajang untuk memperkuat literasi, terutama untuk mengasah kemampuan menulis. 

Apalagi, kata dia, dalam lomba ini ada feedback [umpan balik] dari dewan juri terkait “kesalahan dalam artikel yang diulas secara rinci.”

“Sebagai penulis, saya bisa belajar salahnya di mana dan bagian mana yang perlu diperbaiki,” katanya.

Nuen mengatakan catatan kritis dewan juri adalah informasi yang sangat berharga karena relevan dengan hasil rapor pendidikan sekolah-sekolah di NTT pada kompetensi literasi siswa. 

Catatan itu, kata dia, dapat diteruskan sebagai rekomendasi ke Dinas Pendidikan agar mereka membuat blueprint kebijakan yang mendukung gerakan literasi di sekolah. 

Catatan itu, katanya, juga sebaiknya diketahui sekolah untuk merancang kegiatan atau program literasi.

“Pengalaman yang saya lakukan di sekolah adalah kami menjadikan perpustakaan sebagai pusat Gerakan Literasi Sekolah. Dari sanalah kami membuat program yang variatif seperti literasi pagi terbimbing, membuat resensi buku yang dibaca di perpustakaan dan menyeleksi resensi terbaik untuk terbit di mading,” katanya.

“Kami juga melaksanakan pelatihan jurnalistik dasar untuk siswa pengelola mading, memperkuat kegiatan ekskul jurnalistik, menyertakan siswa dalam lomba. Jadi sangat beragam kegiatannya,” tambahnya.

Sementara itu, Herlan mengatakan terkait literasi budaya, sudah saatnya sekolah memperkenalkan kearifan lokal dengan cara yang dapat diterima oleh generasi milenial seperti dengan permainan edukasi daring, animasi, komik, dan lain-lain.

Jefrinus berkata jika ingin mengembangkan budaya literasi, maka sekolah dan Dinas Pendidikan mesti memperbaiki akses terhadap bahan bacaan dan perbanyak kegiatan lomba menulis.

Terobosan yang Perlu Dilanjutkan

Nuen mengatakan “saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk KoLiterAksi yang telah membuka ruang bagi para pendidik untuk mengembangkan kompetensi menulis.” 

Terobosan seperti ini, kata dia, justru tidak kami dapatkan dari “otoritas utama seperti Dinas Pendidikan, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.”

“Kami berharap, gerakan ini terus berlanjut, untuk mendorong para pendidik dan murid-murid menjadikan keterampilan menulis sebagai sebuah kebutuhan,” katanya.

Herfan berkata “saya berterima kasih kepada KoLiterAksi yang sudah memberikan ‘panggung’ kepada para guru dan siswa untuk menuangkan pikiran tentang Kurikulum Merdeka terutama terkait implementasinya di dalam kelas.”

Sementara itu, Amanda berharap, “semoga kedepannya lomba-lomba yang berhubungan dengan literasi jangan pernah berhenti dan terus dikembangkan dan diadakan karena dapat merangsang jiwa literasi anak muda di NTT.”

Lomba seperti ini, kata dia, dapat membantu anak muda untuk memiliki pola pikir yang kritis, kreatif dan komunikatif.

Editor: Ryan Dagur

spot_imgspot_img

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini.

Baca Juga Artikel Lainnya