Floresa.co – Saat mengetahui rumah keluarga Stefanus Naur hangus pada 29 September, warga Kampung Watu, Desa Golo Wuas, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur spontan tergerak untuk bersolidaritas.
Pada 29 September malam, suara gong berbunyi nyaring di kampung itu, isyarat ajakan bagi seluruh warga untuk berkumpul.
Marselinus Sungga, salah seorang warga kampung tersebut berkata kepada Floresa, pertemuan itu diinisiasi oleh tetua adat.
Dalam pertemuan di rumah adat yang dihadiri puluhan warga, mereka lalu satu suara untuk membantu membangun kembali rumah keluarga Stefanus.
“Setiap kepala keluarga bersepakat memberikan sumbangan, entah uang, bahan bangunan atau beras,” kata Marselinus.
Ia menjelaskan, keesokannya seluruh warga kampung bergotong royong.
“Ada yang menebang kayu dan mengangkut papan. Ada yang menggali fondasi, ada yang membuat kerangka rumah,” katanya.
“Kaum perempuan menyiapkan makanan dan minuman bagi para pekerja,” tambahnya.
Aksi gotong royong itu membuat rumah baru Stefanus berdiri dalam hitungan hari.
“Selama tiga hari penuh warga tidak ke kebun. Kami semua fokus membangun rumah itu,” kata Marselinus.

Ia menjelaskan, rumah itu sudah siap ditempati oleh keluarga Stefanus yang selama sepekan menginap di rumah kerabat.
“Saat ini belum ditempati, masih menunggu acara adat,” katanya kepada Floresa pada 5 Oktober.
Tak Disangka-sangka
Stefanus Naur dan istrinya Kornelia Hermin tampak sibuk membersihkan puing-puing rumah itu saat Floresa menemui mereka.
Kornelia memegang sapu lidi, sambil memungut beberapa barang yang sudah tak berbentuk di antara sisa-sisa bangunan. Stefanus tampak berdiri diam di tengah reruntuhan, memandangi bekas pondasi rumah mereka yang sudah rata dengan tanah.
Keduanya bergantian menceritakan peristiwa naas itu.
Stefanus berkata, pada 29 September pagi itu, seperti biasa mereka bangun pagi dan sarapan sebelum ke kebun.
“Sekitar jam delapan pagi kami sudah keluar dari rumah. Saya dan istri pergi ke kebun seperti biasa, sementara anak saya dan istrinya pergi ke Manggarai Barat untuk ikut acara kenduri salah satu kerabat,” tuturnya.
Ia berkata, tak ada tanda-tanda atau firasat buruk bahwa akan terjadi musibah.
Sekitar dua jam bekerja di kebun, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara warga dari kejauhan dan “melihatnya berlari ke arah kami.”
Warga itu memberi tahu rumah mereka yang berdinding bambu itu sudah terbakar dan menyuruh mereka segera pulang.
“Tanpa berpikir panjang, saya dan istri segera berlari pulang, meninggalkan alat kebun begitu saja,” katanya.

Pikap dan Uang Rp20 Juta Hangus
Stefanus berkata, sampai di kampung, mereka melihat rumah sudah rata dengan tanah, termasuk satu unit mobil pikap yang terparkir di samping rumah.
“Saya hanya berdiri. Tidak bisa bicara, tidak bisa menangis. Rasanya seperti mimpi,” kata Stefanus.
Mobil pikap itu milik anak sulungnya Yorifansius yang sehari-hari berjualan keliling kampung menjajakan minyak tanah dan garam.
Stefanus menjelaskan, berdasarkan informasi dari warga yang pertama kali melihat kebakaran itu, pemicunya diduga dari ledakan lampu panel surya di dalam kamar.
Ledakan serupa, katanya, sudah beberapa kali terjadi di Kampung Watu, hanya cepat diatasi ketika pemilik rumah berada di lokasi.
Kornelia Hermin berkata, kebakaran itu tidak hanya membuat keluarganya kehilangan rumah dan pikap, tetapi juga uang Rp20 juta yang disimpan di lemari.
“Uang itu hasil pesta sekolah bulan Juli. Kami simpan untuk biaya kuliah dari anak kami,” tuturnya.
Pesta sekolah merujuk pada aksi urunan dana warga untuk membiayai kebutuhan pendidikan.
Anak bungsu mereka dari tiga bersaudara kini semester tujuh di Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng, yang berarti tinggal beberapa bulan lagi menyelesaikan studinya.
“Sekarang kami tidak tahu mau dapat uang dari mana. Kalau hanya dari hasil kebun tidak cukup,” tutur Kornelia.
Selain itu, semua dokumen penting mereka mulai dari KTP, kartu keluarga, akta nikah, akta kelahiran, hingga kartu BPJS Kesehatan juga hangus. Kartu bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan pun ikut lenyap.
“Selama ini kami sangat terbantu dengan bantuan itu. Sekarang kami tidak tahu apakah masih bisa menerima lagi, karena kartunya sudah terbakar,” katanya.

Berharap Bantuan dari Pemerintah
Kornelia berharap, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bisa memberi bantuan untuk meringankan beban mereka.
Hingga saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Timur belum menerima laporan resmi terkait kebakaran itu.
“Belum masuk surat dari desanya” kata Agus Salim, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD.
“Kami selama ini menunggu laporan resmi dari desa, tapi sudah seminggu lebih ini laporannya belum dikirim,” katanya.
Meski demikian, kata dia, BPBD sudah menyerahkan bantuan darurat pada 30 September.
“(Bantuan) sudah diantar oleh teman-teman BPBD bersama anggota DPRD, Pa Yorit,” katanya kepada Floresa, merujuk pada Yohanes Paulus Yorit Poni. Ia tidak merinci jenis bantuan darurat itu.
Agus berkata, jika sudah mendapat laporan resmi dari desa, pihaknya akan mengusulkan rencana kebutuhan biaya ke Badan Keuangan setelah membuat surat pernyataan tanggap darurat bencana dan surat pernyataan bencana yang ditandatangani oleh bupati.
Bantuan yang diberikan, katanya, disesuaikan dengan kerusakan dan nilai kerugian yang dilaporkan.
“Kalau kerugiannya di atas Rp50 juta berarti dapat santunan Rp10,5 juta, kalau kerugian di bawah Rp50 juta santunannya satu sampai sampai lima juta,” katanya.
Kepala Desa Golo Wuas Kristianus Naba mengklaim baru bisa mengirim surat ke BPBD pada 8 Oktober.
“Besok pagi baru saya antar suratnya ke Borong,” katanya kepada Floresa pada 7 Oktober.
Laporan ini dikerjakan oleh Gabrin Anggur, kontributor di Manggarai Timur
Editor: Ryan Dagur





