Dirujuk ke Bali Usai Operasi di Rumah Sakit Siloam, Anak di Manggarai Barat Diberitahu Matanya Tak Bisa Disembuhkan

Dokter di Bali menyarankan agar anak itu menggunakan bola mata palsu, kata ayahnya

Floresa.co – Natalia Virginia Putri dirujuk ke Rumah Sakit Mata Ramata di Bali setelah menjalani operasi mata dan masa pemeriksaan selama enam bulan di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Anak berusia 12 tahun asal Kampung Wae Mege, Desa Watu Tiri, Kecamatan Lembor Selatan itu kehilangan penglihatan pada mata kanan, kata ayahnya, Adolfus Ivon.

Berbicara kepada Floresa pada 5 November, Adolfus berkata mereka berangkat ke Bali pada 29 Oktober usai sehari sebelumnya mendapat rujukan dari Alif Reza Faizal, dokter di Rumah Sakit Siloam yang mengoperasi mata Putri.

Namun, saat tiba di Rumah Sakit Mata Ramata pada 31 Oktober, Yuliawati, dokter spesialis mata di rumah sakit tersebut berkata, “mata kanan Putri tidak bisa disembuhkan, sehingga hanya bisa diganti dengan bola mata palsu.” 

“Kata dokter, (bola mata palsu itu) hanya untuk menyeimbangkan penglihatan pada mata kiri Putri,” kata Adolfus.

Adolfus berkata, Putri kaget saat mendengar jawaban Yuliawati dan “dia tidak mau dioperasi.” 

“Dokter hanya bilang, ia tidak bisa mengambil keputusan. Kalau pasien tidak mau dioperasi, ia tidak bisa memaksa,” kata pria 43 tahun itu.

Adolfus berkata, Putri dirujuk ke Rumah Sakit Mata Ramata usai menjalani pemeriksaan terakhir di Rumah Sakit Siloam pada 27 September. 

Saat itu, kata dia, Alif membuka benang jahitan pada mata kanan Putri dan menyatakan akan memberikan obat tambahan.  

“Dia bilang nanti ambil di ruangan saya. Namun, petugas bilang obatnya sudah habis,” katanya. 

Selain tidak memberi obat tambahan, kata Adolfus, Alif juga tidak menjelaskan kondisi mata kanan Putri.

“Ia hanya tanya mau dirujuk ke rumah sakit mana? Saya bilang ke rumah sakit spesialis mata. Akhirnya, dia mengeluarkan rujukan ke Rumah Sakit Mata Ramata di Bali,” katanya.

Floresa meminta penjelasan Direktur Rumah Sakit Siloam, dokter Christian R. Tilaar terkait kondisi mata kanan Putri melalui WhatsApp pada 5 November. 

Namun, pesan yang dikirim ke ponselnya bercentang satu, tanda belum sampai kepadanya.

Adolfus bercerita, mata kanan Putri dioperasi oleh dokter Alif Reza Faizal pada 14 April.

Namun, dua hari kemudian, mata Putri semakin merah dan berdarah.

Ia mengadukan hal tersebut kepada Alif saat kontrol pertama pada 21 April. 

Dokter tersebut, katanya, hanya melihat sepintas kondisi mata Putri, lalu meminta perawat memberikan obat.

Hingga Putri menjalani kontrol kedelapan pada 18 Agustus, kondisi mata Putri semakin memburuk hingga kehilangan penglihatan.

“Saya bingung, kenapa kondisi Putri tidak kunjung membaik. Padahal, saya membawa Putri untuk dioperasi agar penglihatannya kembali pulih,” katanya kepada Floresa usai kontrol itu.

Saat kontrol, katanya, Alif hanya memberi tahu bahwa “di mata kanan Putri masih ada jahitan yang belum dibuka.”

Jahitan tersebut baru akan dibuka pada akhir masa kontrol pada Oktober.

Berbicara kepada Floresa pada 19 Agustus, Direktur Rumah Sakit Siloam, dokter Christian R. Tilaar berkata “saat ini, pasien (tersebut) masih dalam dalam proses berobat jalan.”

Ia mengklaim pihaknya sudah mengikuti semua prosedur yang ada dan “kami selalu memberikan pelayanan yang terbaik.”

Bermula dari Kecelakaan Saat Bermain

Menurut Adolfus, mata Putri tertusuk kawat ketika bermain bersama teman-temanya pada 2021 saat ia kelas IV SD.

Ia lalu membawanya berobat ke Puskesmas Lengkong Cepang, Kecamatan Lembor Selatan.

Selama satu hari di puskesmas itu, katanya, dokter hanya membersihkan darah pada matanya, lalu meminta agar dirujuk ke Rumah Sakit Siloam.

Ia tidak mengurus rujukan itu, lalu membawa Putri ke Rumah Sakit Siloam karena melihat ada bintik berwarna putih pada matanya.

Atas saran kerabatnya, ia membawa Putri ke ruang Unit Gawat Darurat.

Seorang dokter yang memeriksanya memberi tahu bahwa “kalau dioperasi, hasilnya bisa baik, bisa juga tidak baik.”

“Saya ragu dengan jawaban dokter waktu itu. Saya takut anak saya benar-benar kehilangan penglihatan sehingga saya memutuskan untuk membawa Putri kembali ke kampung,” katanya.

Pada awal April, kata Adolfus, penglihatan Putri kabur, hal yang membuatnya kembali membawa Putri ke Puskesmas Lengkong Cepang pada 7 April.

Leonita Alfy, dokter yang bertugas di puskesmas itu, meminta agar Putri dirujuk ke Rumah Sakit Siloam. 

Dua hari kemudian, Adolfus menerima surat rujukan dari dokter itu, lalu mengantar Putri pada 13 April untuk operasi.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA