Floresa.co – Frans sedang kalut ketika seorang rekan memperkenalkannya dengan beberapa orang yang mengaku sebagai wartawan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Rekannya itu memberitahunya bahwa para wartawan itu bisa menangani masalah pribadinya.
Frans, bukan nama sebenarnya, sedang terlibat masalah dengan mantan pasangan yang memilih berpisah dengannya setelah tinggal bersama selama beberapa tahun dan memiliki seorang anak.
Masalah itu berujung pada penyitaan mobil pikap oleh keluarga mantan pasangannya. Mobil itu biasa ia gunakan untuk mencari nafkah.
Ia sempat berupaya melaporkan kasus ini ke polisi. Namun, para wartawan itu mencegahnya, memberinya janji bahwa mereka bisa menyelesaikan masalahnya.
“Mereka mengaku dekat dengan seorang anggota polisi yang bertugas di Polres Manggarai Barat,” katanya.
Mereka juga memintanya untuk tidak gegabah, termasuk tidak menggunakan jasa pengacara.
“Mereka selalu meyakinkan saya bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah ini,” katanya.
Keyakinannya menguat setelah seorang polisi di Polres Manggarai Barat beberapa kali berkomunikasi dengannya.
“Saya jadi makin yakin bahwa mereka memang benar-benar bisa membantu,” katanya.
Frans sebetulnya ingin agar kasusnya ditulis di media.
Ia sempat bertanya kepada para wartawan itu tentang berita yang mereka tulis.
Namun, “mereka tidak menunjukkannya.”
Saat ia meragukan kerja mereka, ia diberitahu bahwa “kita main pelan saja.”
Ketika suatu kali ia mencoba bersikeras membuat laporan polisi, ia diminta oleh para wartawan itu untuk membuat laporan “kalau polisi yang dekat dengan wartawan tersebut sedang bertugas.”
Ia memilih nekat mengajukan laporan ke Polres Manggarai Barat pada pertengahan bulan lalu.
Para wartawan itu juga ikut menemaninya ke Polres, namun saat menyampaikan laporan mereka tidak ikut memasuki ruangan.
Laporannya ternyata ditolak. Petugas di bagian Sentra Kepolisian Pelayanan Terpadu (SKPT) meminta agar ia menyelesaikan masalah dengan mantan pasangannya sesuai tata cara adat Manggarai.
Ia pun memilih pulang.
Frans kaget karena beberapa hari kemudian ia tiba-tiba mendapat panggilan dari polisi.
Ia diberitahu bahwa keluarga mantan pasangannya melapornya dengan dugaan penelantaran anak.
Ia berusaha menghubungi para wartawan itu soal langkah yang mesti ia tempuh terkait laporan itu.
Mereka memintanya untuk tidak perlu datang dan “ikut saja arahan kami.” Ia pun tidak memenuhi panggilan polisi.
Setelah itu, ia terus menanti, namun tak ada titik terang soal penyelesaiannya.
Padahal, ia terus dimintai uang oleh para wartawan itu, dengan alasan untuk memuluskan penuntasan kasusnya.
Setelah dihitung-hitung, katanya, ia telah mengeluarkan uang tunai lebih dari dua juta rupiah, belum termasuk untuk rokok dan minuman setiap kali ia menjamu para wartawan.
Suatu kali, katanya, salah satu dari para wartawan itu meneleponnya dan meminta uang Rp500 ribu.
“Uang itu katanya mau dikasih ke polisi. Uang saya di ATM hanya Rp 470 ribu. Wartawan itu bilang, ‘tidak apa-apa,’ mengklaim dia yang akan melengkapinya menjadi Rp500 ribu,” katanya.
Pada kesempatan lain, katanya, para wartawan tersebut memintanya bertemu di kediamannya.
Ada pesan khusus: ia mesti memasak ayam kampung.
Frans berusaha menangkap ayam peliharaannya, namun tidak berhasil.
Tak mau mengecewakan tamunya, ia akhirnya membeli ayam potong di pasar.
Frans mengaku kini kesulitan ekonomi sejak mobilnya disita. Ia pun memutuskan menjual sebuah kulkas yang ia beli pada pertengahan tahun lalu seharga Rp3 juta rupiah.
Kulkas itu ia jual dengan harga murah kepada kerabatnya di Labuan Bajo.
Uang hasil penjualan kulkas itu ia pakai untuk kebutuhan hidupnya, sekaligus untuk memenuhi permintaan para wartawan.
Menemui Floresa
Sembari membawa dua botol bir dan satu bungkus rokok, Frans menemui jurnalis Floresa di sebuah lokasi di Labuan Bajo pada 25 Januari.
Kedatangannya dengan tata cara adat Manggarai itu, katanya, untuk berdiskusi sekaligus meminta masukan soal penanganan kasusnya.
Ia ditemani seorang kerabat yang memberitahunya bahwa meminta pendapat wartawan lain mungkin bisa membantunya.
Pilihan Frans menemui Floresa juga terjadi usai ia mendapat kabar dari salah satu polisi di Polres Manggarai Barat yang dekat dengan para wartawan itu.
Polisi itu berkata, keluarga mantan pasangannya telah mengantar mobil itu dan sedang digunakan oleh ajudan Kapolres.
Jurnalis Floresa memberitahunya bahwa menyelesaikan masalah demikian, termasuk untuk melobi polisi, bukanlah domain wartawan, termasuk Floresa.
Ia juga diberitahu bahwa memberi uang dan barang lainnya kepada jurnalis sebetulnya tidaklah dibenarkan.
Frans kaget dan berkata sempat ragu untuk menemui Floresa karena berpikir soal uang yang mesti ia siapkan.
“Saya berpikir saat menemui wartawan, kami masyarakat harus selalu menyiapkan uang,” katanya.
“Itu yang selama ini saya lakukan,” katanya.
Pengakuan Frans soal permintaan uang oleh para wartawan itu terkonfirmasi langsung lewat panggilan telepon yang tiba-tiba muncul saat ia sedang bertemu dengan jurnalis Floresa.
Dari seberang, wartawan itu berterus terang kepadanya: “Ada uang rokok kah? Rp50 ribu atau Rp100 ribu?”
Permintaannya jelas terdengar setelah pengeras suara pada ponsel Frans diaktifkan.
Frans menjawab akan mengusahakannya karena “saya sudah tidak punya uang lagi.”
“Kakak lihat sendiri saya punya ATM kemarin, sudah kosong,” begitu jawabannya.
Wartawan itu berkata kepadanya bahwa permintaan itu bukan paksaan.
“Kalau ada saja. Kalau tidak juga tidak apa-apa, saya lagi ada kebutuhan,” katanya.
Wartawan itu memberitahunya bahwa ia akan menemui Frans pada malam hari untuk mengambil uang itu.
Pada malamnya, Frans mengabari Floresa bahwa ia tidak jadi memberikan uang itu.
Mendatangi Polres Manggarai Barat
Dari diskusi tersebut, Floresa memintanya untuk berhubungan dengan orang yang tepat yang bisa membantunya mencari jalan keluar.
Dan, pilihannya adalah pengacara karena mereka yang memahami urusan soal hukum.
Floresa kemudian menghubungkannya dengan Ferdinansa Jufanlo Bufan, seorang pengacara di Labuan Bajo.
Jufan kemudian menyatakan kesediaannya.
Setelah berdiskusi panjang, Frans bersama Jufan mendatangi Polres Manggarai Barat pada 26 Januari, menemui bagian Profesi dan Pengamanan (Propam).
Di ruangan itu, Frans mengisahkan kronologi kasusnya dan menyebut nama semua anggota polisi yang sempat berkomunikasi dengannya.
Jufan kemudian meminta atensi polisi soal kasus ini dan meminta penjelasan soal pengakuan dari polisi dan wartawan yang menghubungi Frans soal keberadaan mobilnya.
Salah satu anggota Propam kemudian mengecek riwayat panggilan telepon di ponsel Frans untuk memastikan anggota polisi yang sebelumnya berhubungannya dengannya.
Setelah mendapat nama-nama polisi itu – Jack, Rusli dan Fian – Propam kemudian memanggil mereka memasuki ruangan, termasuk ajudan Kapolres yang disebut sedang menggunakan mobil Frans.
Dari pertemuan itu, semua anggota polisi mengklaim mobil itu memang sempat dibawa ke Polres oleh keluarga mantan pasangan Frans.
Namun, mereka kemudian membawanya kembali ke Ruteng dan kini sedang dalam penguasaan mereka.
Propam kemudian meminta Frans untuk memprioritaskan penanganan masalah itu sesuai adat Manggarai dan bisa melapor jika ada kendala terkait kasus penyitaan mobilnya.
Frans pun memilih pulang dan berjanji akan membereskan masalah dengan mantan pasangannya sesuai dengan arahan polisi.
Usai pertemuan itu, seorang polisi yang dekat dengan para wartawan beberapa kali menghubunginya, meminta untuk bertemu dan membicarakan persoalan itu.
Namun, Frans menolak.
Ia juga berjanji untuk tidak lagi membayar para wartawan, tetapi mengikuti prosedur resmi demi menuntaskan kasusnya.
Catatan Redaksi: Penulisan laporan ini bagian dari komitmen kami menjaga integritas dan profesionalisme cara kerja jurnalis. Identitas mereka yang terlibat kami samarkan demi menjaga keamanan Frans
Editor: Ryan Dagur





