Sebulan Usai Menipu Turis Italia, Pelaku Wisata Itok Aman Masih Berkeliaran

Ia melakukan aksi serupa berulang kali. Dalam kasus sebelumnya, polisi membebaskannya setelah ia membayar uang korban.

Floresa.co – Sebulan setelah dilaporkan menipu wisatawan asal Italia, pelaku wisata Kristoforus Aman alias Itok Aman masih berkeliaran. Polres Manggarai Barat tak kunjung menemukan keberadaannya untuk menjalani proses hukum.

“Mohon waktu untuk bersabar. Tidak bisa secepat yang bisa diharapkan,” kata Kasat Reskrim Polres Manggarai Barat, AKP Lufthi Darmawan kepada Floresa pada 7 September.

Ia berkata, penyidik masih berkoordinasi dengan kepolisian di wilayah lain untuk memastikan lokasi Itok dan mengembangkan penyelidikan.

“Waktunya tidak bisa dijanjikan, nggak bisa kita ukur. Nanti kalau saya bilang satu bulan, kalian tagih lagi,” katanya.

Menurut Lufthi, Itok belum masuk daftar pencarian orang (DPO) karena masih berstatus terlapor, belum tersangka.

“Konteksnya [adalah] mencari supaya dia mempertanggungjawabkan perbuatannya,” katanya.

Enam wisatawan Italia melaporkan Itok pada 12 Agustus 2026 setelah ia hilang kontak saat mereka tiba di Labuan Bajo pada 9 Agustus.

Mereka telah membayar total Rp125 juta kepada agen perjalanan Labuan Bajo Top milik Itok untuk paket wisata laut selama enam hari di kawasan Taman Nasional Komodo.

Masalah muncul karena uang yang diterima Itok belum dilunasi kepada pihak kapal wisata Sabbar Cruise.

Ia hanya menyetorkan uang muka Rp20 juta  yang digunakan untuk persiapan perjalanan, termasuk membeli bahan makanan, minuman, handuk, seprai, bed cover, dan kebutuhan kapal lainnya.

Pengelola Sabbar Cruise, Saputra, mengatakan pihak kapal turut dirugikan karena persiapan perjalanan sudah dilakukan, sementara transaksi utama berlangsung antara wisatawan dan agen perjalanan.

Nama Itok bukan pertama kali terlibat kasus penipuan. Pada Mei 2026, ia ditetapkan sebagai tersangka atas penipuan dan penggelapan dana wisatawan asal Malaysia dan Singapura senilai Rp85,2 juta.

Itok, yang juga dikenal sebagai comedian dan aktif di media sosial Facebook, sempat ditahan selama 48 hari, tetapi keluar setelah kerugian korban dikembalikan, surat perdamaian diteken, dan laporan polisi dicabut.

Malam setelah bebas, ia kembali tampil di ruang publik. Di Facebook, ia mengunggah video saat membawakan komedi di salah satu lokasi di Labuan Bajo.

Polisi Didesak Bekerja Serius

Koko Ama, pemandu wisata di Labuan Bajo sekaligus anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), menilai lambannya penanganan kasus itu menunjukkan kurangnya keseriusan polisi.

Publik, katanya, berhak menuntut polisi untuk tidak sekadar memburu pelaku, tetapi juga memberikan kepastian hukum yang jelas.

“Seharusnya polisi bisa melacak keberadaannya dan segera diproses hukum,” kata Koko.

Sementara Fiktorianus Afri, Sekretaris Pemandu Geowisata Indonesia, menyatakan “kami memahami pencarian seseorang membutuhkan proses.”

“Namun, keterangan [polisi bahwa mereka] masih memburu pelaku tidak boleh menjadi jawaban tanpa batas waktu,” katanya kepada Floresa.

Polisi, kata dia, perlu menjelaskan secara transparan status perkara, langkah pencarian yang telah dilakukan, serta kendala yang dihadapi.

Mengingat ini bukan kasus pertama, kata dia, penanganannya tidak boleh kembali berhenti pada pengembalian uang, permintaan maaf, atau perdamaian tanpa evaluasi pola penegakkan hukum.

“Kekhawatiran terbesar kami bukan hanya kemungkinan terlapor menghindari proses hukum, tetapi juga risiko munculnya korban baru, hilangnya barang bukti, dan semakin rusaknya kepercayaan wisatawan terhadap Labuan Bajo,” katanya.

Menurut Fiktorianus, ketika kasus berulang tidak ditangani secara tegas dan transparan, masyarakat dapat menilai pelanggaran semacam ini seolah tidak memiliki konsekuensi.

“Penahanan memang bukan dilakukan semata-mata karena tekanan publik. Namun, jika unsur dan syarat hukumnya telah terpenuhi, penyidik harus berani mengambil tindakan,” katanya.

“Polisi punya banyak instrumen untuk mencari dan menangkapnya. Seharusnya tidak ada alasan butuh waktu lama,” tambahnya.

Editor: Petrus Dabu

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA