Emanuel Melkiades Laka Lena

Artikel-artikel terkait topik ini

Pergub Jam Belajar NTT, Sebuah Jeda Kemanusiaan

Pergub ini merupakan gerakan moral untuk merebut kembali masa depan anak-anak NTT dari penjara algoritma dan paparan budaya populer yang bisa merusak

Retret Pejabat NTT Habiskan Satu Miliar Tanda Gubernur “Tidak Peka pada Protes Publik,” Tak Sejalan Spirit Efisiensi

Ombudsman menilai APBD seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal penting

Hadiri Dialog Bersama Pejabat Pemerintah dan Korporasi, Lembaga Gereja Katolik Soroti Sejumlah Masalah dalam Proyek Geotermal

Pastor Simon Suban Tukan, SVD menyinggung “pemaksaan kehendak, kriminalisasi warga dan ancaman terhadap hak masyarakat adat”

Hanya untuk Melegitimasi Kehendak Gubernur, Catatan Keuskupan Agung Ende atas Hasil Uji Petik Satgas Geotermal 

Keuskupan menyebut penolakan masyarakat muncul karena “dampak yang sudah mereka alami dan rasakan,” bukan “karena kurangnya pengetahuan dan ketimpangan informasi,” seperti klaim Satgas

Tiga Kali Didemo Komunitas Sopir dan Mahasiswa, Gubernur NTT Izinkan Pikap Kembali Angkut Lebih dari Lima Penumpang

Massa menilai pikap mempunyai peran vital dalam distribusi kebutuhan pokok dari desa ke kota

Gubernur NTT Rombak Sistem Pendanaan Pendidikan Lewat Pergub: Larang Pungutan Liar, Batasi Iuran dan Wajibkan Transparansi

Peserta didik dari keluarga tidak mampu akan dibebaskan sepenuhnya dari iuran, sementara sekolah dan komite dilarang menarik biaya yang bersifat memaksa maupun diskriminatif

Gubernur NTT Usul Buka Unit Pelaksana Teknis dan SMK Energi Baru Terbarukan; Bagaimana Respons Warga Lingkar Proyek Geotermal?

Laka Lena mengusulkan dua program itu ke Kementerian ESDM yang diklaim bagian dari agenda menuju kemandirian energi baru dan terbarukan di NTT

Lidah Kotor dan Logika Ngawur Gubernur NTT soal Geotermal Poco Leok

Pejabat publik bisa jadi aktor utama pembusukan demokrasi di tingkat lokal

Gubernur NTT yang Mewarisi Kolonialisme Intelektual

Dalam pernyataan gubernur yang meremehkan warga Poco Leok, ia secara implisit hendak menegaskan bahwa warga di kampung seharusnya tidak bisa rapi, tidak bisa berpikir logis dan tidak layak bersuara di ruang-ruang formal