BerandaTOPIK KHUSUSFee Proyek APBDDari Santai dan Ceria...

Dari Santai dan Ceria Jadi Garang dan Buru-buru Hindari Wartawan; Ekspresi Bupati Manggarai Saat Ditanyai Fee Proyek

Wajah Hery pun mendadak berubah jadi serius, lalu berjalan cepat menerobos wartawan yang berdiri di hadapannya. Sambil terus berjalan menuju kantornya, ia terus mengelak.

Floresa.co – Bupati Manggarai, Herybertus GL Nabit menghadiri acara Pramuka di Lapangan Motang Rua yang letaknya persis di depan kantor bupati pada Kamis pagi, 1 September 2022.

Sepanjang acara itu, ia tampak ceria berada di panggung, menyaksikan acara hiburan yang dibawakan para pelajar.

Ia bahkan sempat memperagakan sandi morse hingga melayani semua orang yang mengajaknya berfoto bersama.

Setelah tak ada lagi yang meminta berfoto dengannya, Hery masih enggan beranjak sambil ekor matanya sesekali memperhatikan sejumlah wartawan yang menunggu untuk mewawancarainya.

Komentarnya memang sedang ditunggu-tunggu saat itu setelah sehari sebelumnya kabar terkait dugaan jual beli proyek di Kabupaten Manggarai dibicarakan, yang diduga melibatkan Meldyanti Hagur, isteri Hery.

Kasus itu dibongkar oleh Adrianus Fridus, seorang kontaktor dan mantan tim sukses yang gagal mendapat proyek mesti telah menyerahkan uang kepada Meldy. Transaksi itu disebut melibatkan Rio Senta, seorang THL di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat [PUPR].

Karena pentingnya pernyataan Hery, para wartawan segera mendatanginya saat ia sudah tampak santai, mengobrol dengan Sekda Manggarai Jahang Fansialdus dan beberapa pengurus Pramuka.

Namun, saat wartawan mendekat, ia menarik rokok dari kantongnya, membakar lalu mengisapnya.

“Sabar dulu ya, saya masih rokok. Kan tidak bagus kalau wawancara sambil rokok,” katanya.

Usai menghabiskan sebatang rokok, wartawan pun langsung mewawancarainya.

Bupati langsung disodori pertanyaan tentang pengakuan kontraktor yang dipungut fee, yang mencapai 5% untuk mendapatkan proyek dari APBD Manggarai.

Wajah Hery pun berubah jadi serius, lalu berjalan cepat menerobos wartawan yang berdiri di hadapannya. Sambil terus berjalan menuju kantornya, ia terus mengelak.

Ekspreasi Bupati Hery saat terus berusaha tidak menjawab pertanyaan wartawan terkait kasus dugaan fee proyek lewat isterinya. (Foto: Floresa.co)

“Kan bukan nama saya to? Kenapa itu ditanyakan ke saya?” ujarnya dengan nada mulai meninggi sambil menoleh ke arah wartawan dengan tatapan sinis.

Wartawan pun terus mengejar dan memberondong politisi PDI Perjuangan itu untuk mencari tahu terkait adanya pungutan fee itu.

“Kenapa itu dikonfirmasi ke saya?” tanya Nabit dengan suara keras.

Wartawan pun merujuk pada pengakuan kontraktor.

“Loh, kalau kontraktor, kontraktor periksa, mengaku, terus, kenapa ditanyakan ke saya?” timpalnya sambil menatap wartawan dengan tajam sementara langkah kakinya terus dipercepat.

Ia pun terus berusaha menghindar dengan menaiki tangga menuju lantai dua kantor bupati, tempat ruangan kerjanya berada.

Wartawan terus mengejar sambil bertanya terkait posisinya sebagai bupati sekaligus suami dari pihak yang disebut sebagai peminta dan penerima fee.

“Apanya? Apa kaitannya? Pengakuan kontraktor bilang apa?” Sementara wartawan menjelaskan, Nabit memotong, “Oh tanya dia (kontraktor)!”

Hery terus memotong pertanyaan wartawan dengan berulang-ulang menyuruh wartawan bertanya pada kontraktor tanpa harus meminta tanggapannya.

Sementara bupati berusaha mengelak dan menghindar, beberapa pegawai Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) dan seorang pengawalnya berusaha mendorong wartawan.

Hery baru berhenti sejenak ketika sudah sampai di depan ruang kerjanya. Nabit hanya menyinggung tentang Fenses Nasrio Budi Senta alias Rio Senta yang disebut oleh kontraktor sebagai pihak yang aktif menghubunginya atas permintaan isteri Bupati Nabit, Meldyanti Hagur.

Rio Senta merupakan mantan tim sukses Pilkada 2020 lalu. Sejak Nabit menjabat Bupati Manggarai, Rio bersama isterinya tinggal di rumah jabatan Bupati.

Sedangkan Bupati Hery bersama keluarganya memilih tinggal di rumah pribadinya yang terletak di belakang Toko Monas, tempat usaha dagang hasil bumi milik Meldyanti.

Mengingat Rio juga bekerja sebagai pegawai berstatus tenaga harian lepas (THL) di Dinas Pekerjaan Umum, Nabit berjanji akan memerintahkan Kepala Dinas untuk memeriksanya.

“Saya bicara sebagai atasan dari THL ya. Saya bicara sebagai atasan dari THL. Kan nama saya kan tidak disebut di situ,” tegasnya sambil menggerakkan tangan kiri yang terkepal lalu mengacungkan telunjuk mengikuti irama kata-kata yang terucap.

Wartawan kembali mengungkit soal dugaan keterlibatan istrinya dan mempertanyakan sikapnya terhadap sang isteri. Hery langsung menyambar, “Tidak! Tidak! Saya bicara sebagai atasan dari THL.”

Terkait istrinya yang disebutkan kontraktor sebagai peminta dan penerima fee proyek Nabit berkata, “Ya, nantikan berproses to.”

Tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang proses apa yang ia maksudkan, Nabit buru-buru pamit untuk masuk ruangan kerjanya.

FLORESA

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga