Polisi Periksa 20 Saksi dan Ponsel Aktivis di Nagekeo untuk Ungkap Pemicu Kematiannya

Kasus ini memicu perhatian luas karena dikaitkan dengan aktivitas Vian Ruma dalam penolakan proyek geotermal

Floresa.coPolisi di Kabupaten Nagekeo telah memeriksa belasan saksi dan mengecek ponsel milik Rudolfus Oktafianus Ruma atau Vian Ruma untuk mengusut pemicu kematian pemuda yang dikenal sebagai aktivis itu.

Sumber di internal Polres Nagekeo berkata, sejauh ini sudah ada 20 saksi yang diperiksa.

“Mereka adalah rekan-rekan vian di OMK (Orang Muda Katolik), teman-teman guru, juga beberapa siswa (di tempatnya mengajar),” katanya kepada Floresa dalam wawancara di Nagekeo.

Para saksi itu, kata dia, dipanggil sejak 7 September usai Polres membentuk tim investigasi khusus untuk menangani kasus ini.

Sumber tersebut yang ikut dalam tim investigasi meminta Floresa tidak menulis namanya karena mengklaim informasi tersebut seharusnya disampaikan resmi oleh bagian humas.

Ia juga berkata, ponsel Vian sudah dikirimkan ke Polda NTT untuk mengidentifikasi komunikasi terakhirnya sebelum ditemukan meninggal.

“Hal yang diperiksa mulai dari pesan, riwayat panggilan, serta informasi terkait aktivitas penggunaan internet oleh Vian sebagai petunjuk dalam investigasi,” katanya.

Sumber itu mengklaim Polres akan melakukan gelar perkara dalam waktu dekat untuk mengungkap pemicu kematian Vian.

Kapolres Nagekeo, AKBP Muhammad Salihi membenarkan informasi tersebut.

Ia berkata kepada Floresa pada 15 September bahwa kini mereka “masih pendalaman saksi-saksi.”

Selain itu, katanya, Polres masih “menunggu persetujuan dari pihak keluarga untuk  dilakukan ekshumasi lalu autopsi”. 

Ekshumasi adalah tindakan medis yang melibatkan penggalian dan pembongkaran kembali kuburan untuk mengeluarkan jenazah yang telah dimakamkan. 

Vian yang berusia 30 tahun ditemukan tewas di sebuah gubuk bambu dekat Pantai Sikusama, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro pada 5 September. Ia dimakamkan sehari kemudian.

BACA JUGA: Misteri Kematian Vian Ruma, Pemuda Aktivis di Nagekeo; Keluarga dan Masyarakat Desak Polisi Usut Tuntas

Jasadnya ditemukan terikat tali dengan posisi menggantung. Namun, kakinya yang masih menempel di lantai gubuk memicu kecurigaan keluarga bahwa ia diduga dibunuh, bukan bunuh diri.

Vian adalah guru Matematika di SMP Negeri 1 Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Ia juga telah lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja dan masih ditempatkan di sekolah itu.

Di luar pekerjaannya sebagai pendidik, ia juga aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan.  Ia dipercaya menjadi Ketua Orang Muda Katolik (OMK) di Stasi Ngera, Paroki Hati Kudus Yesus Maunori.

Selain itu, ia bergabung di organisasi lingkungan Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim atau Koalisi KOPI dan menjadi salah seorang pengurus Komite Eksekutif Daerah Nagekeo.

Kasus itu memicu perhatian luas publik, yang dikaitkan dengan keaktifannya dalam menentang proyek geotermal. 

Sejauh ini, belum ada proyek geotermal yang dikerjakan di Nagekeo, namun pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah sempat melakukan survei di tiga titik.

Vian telah aktif dalam gerakan bersama umat Katolik di Nagekeo, yang masuk wilayah Kevikepan Mbay-menentang proyek itu. 

Umat Katolik dari 20 paroki menggelar aksi protes menentang proyek ini pada 5 Juni, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Penolakan itu menindaklanjuti sikap Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD yang pada Januari tahun ini menyatakan penolakan tegas terhadap semua proyek di wilayahnya. 

Kevikepan Mbay adalah salah satu tiga kevikepan di bawah Keuskupan Agung Ende, selain Kevikepan Ende dan Bajawa.

Eda Tukan, Ketua Eksekutif Flobamoratas Koalisi KOPI — yang mencakup wilayah NTT — memilih tak segera menyimpulkan kaitan kematian Vian dengan pilihannya menentang proyek geotermal.

“Kami memang sudah berdiskusi dalam lingkar belajar, memperdalam isu-isu ekstraktif, termasuk geotermal. Tapi sebagai organisasi, kami belum pernah melakukan aksi atau pernyataan resmi terkait isu itu,” katanya.

Meski begitu, Eda menegaskan bahwa Koalisi KOPI tetap memandang serius kematian Vian sehingga mendukung langkah keluarga menuntut penyelidikan, termasuk lewat petisi. 

“Kami butuh tahu mengapa teman kami meninggal dengan cara itu,” katanya.

BACA JUGA: Dalami Pemicu Kematian Pemuda Aktivis di Nagekeo, Polisi Ungkap Rencana Autopsi

Petisi yang disebut Eda dibuat oleh OMK Kevikepan Mbay lewat situs Petisionline.com itu. Dalam petisi itu, mereka meminta polisi menangani kasus ini “dengan serius, transparan dan profesional.”

Selain itu, petisi itu juga mendesak polisi “membuka hasil penyelidikan kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi yang berlarut-larut dan menjamin keadilan bagi keluarga korban dengan menindak tegas siapapun yang terbukti terlibat.”

Hingga 16 September, petisi itu telah diteken lebih dari 2.100 orang.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA