Floresa.co – Komunitas Fajar Sikka, organisasi transpuan berbasis di Maumere, Nusa Tenggara Timur menggelar berbagai kegiatan, mulai dari konser mini hingga ibadah dalam rangka Queer Christmas and Happy New Year atau Natal dan Tahun Baru Bersama.
Kegiatan tersebut yang mengusung tema utama “Queer Christmas Interseksionalitas” berlangsung di Citraland Café Waioti, Kecamatan Alok Timur pada 15 Januari.
Ketua Fajar Sikka, Hendrika Mayora Viktoria menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan membuka ruang bagi transpuan untuk mengekspresikan diri dan kemampuannya di atas panggung yang mereka ciptakan sendiri.
“Ini adalah kegiatan yang inklusif,” kata Mayora, “di mana kami menunjukkan bahwa transpuan tidak hanya ada dalam ruang domestik seperti di dapur atau salon kecantikan, tetapi juga memiliki bakat yang beragam.”
“Ada yang guru, ada yang nelayan, ada yang penyuluh pertanian, dan lain-lain,” katanya menyebut ragam profesi yang digeluti transpuan dari Komunitas Fajar Sikka.
Selain konser dan ibadah, kegiatan tersebut juga diisi refleksi tentang Natal inklusif, diskusi ringan tentang queer dan interseksionalitas, sharing pengalaman komunitas dan aksi solidaritas.
“Di situlah kami memang menyatakan diri kami bahwa kami hadir di Sikka dengan nilai dan visibility yang jelas sebagai manusia yang bermartabat dan bernilai,” lanjut Mayora yang juga mengemban tugas sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa Habi, Kecamatan Kangae.
Melalui kegiatan itu, ia berharap publik di Kabupaten Sikka menjadi lebih terbuka menerima keberagaman identitas gender, “bukan hanya perempuan, bukan hanya laki-laki, tapi ada transpuan yang hadir di tengah-tengah kehidupan.”
“Saya berharap bahwa diri sendiri lebih berani berekspresi dengan nilai-nilai yang positif, dengan talenta-talenta yang harus dikembangkan,” katanya.
Cece Geliting, Ketua Panitia kegiatan tersebut berkata, panggung transpuan yang digelar diharapkan membuat anggota komunitas mereka dapat diterima publik luas serta mampu menghasilkan karya-karya besar.
“Panggung ini membuktikan bahwa teman-teman memiliki kemampuan luar biasa dalam berbagai bidang, namun seringkali diabaikan di tengah situasi sosial,” katanya.

Sementara Mami Vera, Ketua GAYa Nusantara, organisasi nasional perjuangan hak-hak LGBTQ berkata, panggung transpuan tersebut juga bertujuan memberi motivasi bagi kelompok-kelompok minoritas dan rentan lainnya untuk berani menampilkan dirinya di hadapan publik.
“Kegiatan ini sangat positif dan menjadi awal yang baik di tahun 2026 untuk komunitas keberagaman general seksualitas,” katanya, “menjadi sebuah titik awal mendorong terciptanya Kabupaten Sikka yang ramah terhadap hak-hak asasi manusia.”
Yohana, pemilik Citraland Café mengapresiasi inisiatif Komunitas Fajar Sikka, menyebutnya memberikan energi positif meski baru pertama kali berkolaborasi.
“Saya melihat vibes positif itu hadir sehingga kegiatan ini hidup dan bisa mendatangkan tamu dan menghibur. Sebagai owner cafe saya menilai transpuan juga punya nilai jual yang positif sebagai entrepreneur,” kata Yohana.
Selain mengadvokasi isu kesetaraan gender, Komunitas Fajar Sikka juga aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan.
Salah satunya ikut mendampingi anak-anak korban penggusuran rumah oleh korporasi milik Gereja Katolik dalam konflik agraria dengan Masyarakat Adat di Nangahale.
Salah satu anggotanya, Cece Geliting, pernah menghadapi proses hukum di Polres Sikka dengan tudingan penistaan agama dan pelanggaran UU ITE karena melontarkan kritik terhadap Uskup Maumere dalam konflik tersebut.
Namun, proses hukum kemudian berhenti usai pelapornya dari komunitas pemuda Katolik memutuskan untuk mencabut laporan.
Sejauh ini, Fajar Sikka juga salah satu kelompok ragam gender di Flores yang kerap menggelar acara-acara publik dan sebagian anggotanya secara terbuka menyatakan identitas mereka.
Editor: Anno Susabun





